Saturday, 29 November 2014

Free Fallin'

Dan saya kembali duduk bersila sore ini, menikmati cahaya redup dari langit Bandung yang kian meremang. Belum pernah sebelumnya saya begitu menikmati kesendirian dengan secangkir kopi dan senandung dari John Mayer yang melantun dari laptop saya.
And I want to take a deep breath, and just simply be thankful for everything that God has decided and given to me. As lately I’ve been so busy doing some stuffs and complaining about almost everything, I think maybe tonight would be a perfect night to be thankful and stop complaining. 
Everything happens for a reason, they said. 
And I know that deep inside, God has made a beautiful plan for my life. And I do believe in a thing called “The Moment of Impact.” What’s that? 
Moment of impact is the moment when you’re finally getting everything that you’ve been wishing and hoping for, or maybe get something better that what you’ve been wishing for. And in order to get that moment, you really have to through some rough times in your life and get fall every single time. And I can’t fucking wait for the day to come. 
Last night, I had a deep talk with my best friend, Nadhire. We talked about everything that made us like who we are today. And both of us once had a motto “No Regret,” in our lives. But it turns out to be a big bullshit because both of us do have our biggest regrets. And sadly, it was something that WAS beautiful and we were hoping that someday, our biggest regret would be forever ours. We wished that we’ve never done things or specifically, never know or even worse, FALL IN LOVE, with someone. And that makes us who we are now, and it makes us hmm…what to say… It makes us turn into a person who are completely different from who we were before. 
But yeah, we do believe that there will be lessons from everything that happened in our lives. And there’s no use regretting everything. And unfortunately, regrets are inevitable. It happens to everyone. And it always comes in the end.
And last night, I was jamming with some of my friends, they are Uthe, Jasmine and Bernie. They’re such talented young singers and guitar and saxophone and piano players. I made a song for them, and they’re arranging it into such a beautiful song, based on my poem. And they told me to keep writing and creating beautiful lyrics for them. I couldn’t be more thankful for that. I’ve been dreaming that someday, maybe my poem will be an inspiration for someone, or even better, they made a song based on my poem. The lyrics are 100% created by me. 

And let’s have a sneak peek for some of the lyrics that I’ve made for them,

“Ia datang atas nama cinta,
Berjuta kali diterka, direka
Nyatanya selalu sama; tetap luka
Bahkan membara, menganga, dan kian menyala.”

And I can’t wait for the song to be released soon! So yeah, that is my weekend story. And I had this beautiful quotes for me to take.

You may be in a tough time
but that setback is simply a setup
for a greater comeback.

Cheers and raise your glass, people.


Deanty.

Wednesday, 19 November 2014

Untitled 2.0

Bagi sebagian manusia, rindu itu wajar. Terkadang kita terlelap dalam mimpi dan kemudian berasumsi, bahwa semesta tidak seharusnya begini. Berasumsi tentang begitu banyak hal, hingga tidak ada lagi yang pasti. Atau lebih tepatnya, kita sudah tidak tahu dan tidak dapat membedakan mana yang pasti dan hanya dalam angan. 

Seperti malam-malam biasanya, jemari saya disibukkan oleh begtu banyak macam tugas yang berlimpah. Ah, kalau begini rasanya ingin cepat kaya, kemudian hidup bahagia dengan ratusan merek high-end yang saya jadikan acuan saya sebagai definisi kebahagiaan. Tapi ternyata, hidup tidak secetek itu. Tidak serendah itu. 
Hari ini saya belajar bahwa dunia yang kita tinggali di dalamnya ini ternyata tidak baik-baik saja. KIta yang selama ini berfikir bahwa hidup kitalah yang bernasib terburuk, ternyata tidak demikian. Karena konflik di dunia luas begitu besar, dan sifatnya infinite. Konflik pasti ada, perebutan kekuasaan dan harta pasti ada. Dan semua kembali pada persepsi dan perspektif masing-masing pribadi dalam melihat dunia.

Dalam kacamata saya, saya melihat dunia sebagai sebuah kesatuan yang terdiri dari berbagai macam negara, dengan tujuan yang berbeda, dan dengan keinginan yang sama. Bagaimana kedua hal yang begitu berbeda mampu mencipta sebuah kesatuan dan hidup dalam satu langit? Mereka - para negara - mendamba kuasa. Mendamba kekuatan. Mendamba begitu banyak limpahan uang. Bagi negara dan isinya, yang menjadi tuhan itu uang. Bukan dalam bentuk lain.
Dalam perspektif saya, saya menilai bahwa dunia memang harus diubah. Entah dengan berbagai macam kudeta di setiap negara yang mungkin tengah terjadi, atau perlukah dipecahkan Perang Dunia Ketiga? Apabila jawabannya perang, saya rasa saya lebih baik mati duluan. Atau kalau Tuhan berkehendak lain, dengan senang hati saya menawarkan diri menjadi pengatur strategi perang. 
Konflik adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Dunia itu gila. Iya, memang gila. Wong secara scientific terbentuknya saja sudah dari kumpulan bola api yang kemudian mengeras, tidak heran saya apabila berakhir dalam api lagi. 
Saya bukan tuhan, saya bukan cenayang, saya bukan paranormal, tapi saya berbicara melalui kacamata saya. Melalui apa yang menjadi pemikiran saya. Dan kini saya malu, untuk apa saya pernah menangis demi konflik kecil dalam hidup saya perkara cinta atau nilai jelek? sementara apabila saya melihat dunia yang lebih luas, banyak hal lain yang lebih patut saya tangisi walau saya tidak pernah merasakannya.
Sekarang saya tahu jawaban dari tangisan tulus dan tiba-tiba yang saya kucurkan ketika saya menonton video tentang ISIS. Dimana saya tersentuh melihat seorang anggota ISIS yang masih berusia 10 tahun, dan ia sudah diajarkan untuk berperang dan menggunakan senjata. 
My whole life is a fucking lie, dude. Let’s be honest with it. Di usia saya 10 tahun, yang saya ketahui hanya Barbie, main sepeda roda dua warna ungu dengan keranjang di depannya yang selalu saya isi dengan Cheetos rasa jagung bakar, dan…..apa ya? Almarhum anjing saya mungkin, Ranger? Ya, itu yang saya tahu di usia 10 tahun. Saya hanya tersentuh, melihat bagaimana anak usia 10 tahun mampu memiliki loyalitas tinggi terhadap ISIS dan mau menggantikan robot atau pistol mainannya dengan pedang atau pistol sungguhan, dan bertarung demi apa yang ia percayai. Sungguh, sekali lagi saya ucapkan dengan lantang, my whole life is a fucking lie dude.

Kembali kepada kacamata saya melihat dunia. 
Begitu banyak hal yang tidak bisa saya ucapkan dengan kata dan frasa. Saya hanya mampu mengucap doa agar semua yang saya cintai bisa hidup baik-baik saja tanpa harus merasa terganggu dengan konflik militer atau yang berdarah-darah. Saya hanya ingin semua yang saya cintai baik-baik saja. Karena saya mendamba dan masih memiliki keyakinan bahwa suatu saat, lagu John Lennon yang berjudul Imagine bisa dijadikan acuan dalam hidup di dunia.
Sekian,

selamat malam dan semoga anda hidup dalam damai senantiasa. 

Thursday, 13 November 2014

Untitled 1.0

Kepada serupa surga yang kutatap nanar sedang berjelaga,
sore ini
di bawah hujan yang tak mereda.
Kata orang, rindu itu indah
Tapi bagi saya, batas dan pisah kian meresah.

Biar, hancur ini menjadi debur
Meluncur, jauh
Hingga sepasang kakipun tak mampu mengejar

Biar, sampan ini mengapung untuk kabur
Lautan ganas kian menyembur

Tuk tegakpun tak kuasa aku;
menelan segala ikhlas dan pinta
dalam selimut nelangsa
dan denting pertanda ragu

Ah
Biarlah dia lari dikejar waktu
dan mengayuh
sampai lelah dan mengaduh
Hingga apabila kambuh
sampannya rapuh
terseduh.

Biar, ucapku.
Dalam biru aku menyeru
biar tenggelam saja dirimu
dalam
dalam
dalam

ditelan palung lautan.


Hey, lover boy.
Mungkinkah semua tanya kau yang jawab?

Tuesday, 11 November 2014

Soon, My Friend

Selasa, 11 November 2014

Dibalik orang-orang sibuk, ada sesuatu yang ingin mereka lupakan.
Begitu kurang lebih yang mampu saya katakan dengan betapa hectic hari saya belakangan. Ya, saya mencoba untuk kembali ke rutinitas yang mampu membuat saya terlelap dengan amat nyenyak dan badan ngilu semata-mata karena saya ingin melupakan segala sesuatu yang pernah membuat saya bertumpu dalam waktu yang lama. Saya tersenyum, karena sore ini, di bawah cuaca Bandung yang teramat dingin dan berkabut, saya terhenyak dan mampu menulis lagi di kamar. Sendiri, menikmati lelah dan menikmati pagi siang sore hari. 
Saya mencoba untuk kembali berkomunikasi dan bicara kepada diri saya sendiri. Bahwa dalam segala nyata dan tidak nyata yang Ilahi, ada suatu hal yang hendak Ia sampaikan. Bahwa dengan perlahan tapi pasti, derita tak akan selamanya bertahan. Dan dalam segala proses yang menyakitkan, manusia pasti mampu berdiri lagi, tegar dan mungkin berubah jadi dewasa kembali. Mungkin inilah proses yang harus saya rasakan. Kembali kehilangan sampai suatu saat... kembali menemukan.
Saya belajar banyak dari apa yang saya lalui. Saya belajar banyak dari apa yang pernah saya jadikan alasan dan tumpuan dari definisi kebahagiaan. Bahwasanya tidak baik untuk menjadikan sebuah pribadi sebagai alasan untuk kita bahagia. Karena mata sekarang terbuka, dan kelak akan mampu melihat ke luar dunia, bahwa masih banyak hal yang mampu membuat saya bahagia. 
Bahagia itu sederhana, sesederhana bisa kuliah, bisa tertawa bersama sahabat-sahabat, memiliki keluarga yang rukun dan mampu dijadikan sahabat, bisa memiliki materi yang tidak berkekurangan, dan terus mengucap syukur karena Yang Esa telah memberikan apa yang telah saya terima. Sesederhana itu. Sesederhana bersyukur. 
Hidup tidak selamanya tentang cinta.
Itu hal paling nyata yang saya pelajari, bahwa kelak masih ada hal lain yang patut dan lebih waras untuk dipusingkan dibanding sekedar menangis karena kaum adam. Ah, apalah artinya apabila kita bisa sendiri dan menciptakan definisi bahagia kita sendiri. Toh, kelas Teori Hubungan Internasional ditiadakan saja saya bahagia bukan main. 
Ya, sesederhana itu. 

Monday, 10 November 2014

Rindu

Bila hembus angin mampu merangkul pekat malam
kuharap hembus nafas mampu merangkul raga dalam diam.

Bila bisik dan resah mampu memekikan rindu
kuharap doa mampu mengecup keningmu.
Hangat;
dalam belaian tiap kata yang terucap.

Aku hening 
pun membisu.
Sadar waktu dan ruang,
hanya hampa dan hati yang mampu meronta
berharap tuk tenang
karena kian mengikhlaskan kehilangan.

Dalam rupamu 
mampu aku bersujud, bertelut.

Dalam pesonamu,
mampu aku bersanding 
mengikat lidahku erat
agar tak usah kata-kata itu mencuat.

Ada apa dengan sang pujangga?
Kini bahkan hingarpun tak membuatnya pengar
dan dengan mata terpejampun
ia hanya mampu berdoa
dan menggapai cinta dalam batas angan saja.

Biar
bahagia kelak merenggut hidupnya dan kamu
agar 
semata-mata kamu 
tak lagi terbata dalam mengucap cinta.

Bandung, 10 November 2014
salam rindu yang hendak menusuk kalbu
biar angin pintaku;

yang sampaikan padamu. 



Biar ini jadi rahasia aku dan kamu
di bawah langit yang tak berbintang
ini hanya ilusi
yang dulu dan sekarang
kan selalu jadi bunga tidurmu.

Friday, 7 November 2014

Everybody's Leaving In The End

Life is a journey.
Dan dalam perjalanan yang tidak selalu mulus dan lurus itu, banyak hal yang bisa kita temui. Mulai dari begitu banyak mobil misalnya, begitu banyak orang yang berbeda-beda; semakin membuat kita terpesona sampai membelalakan mata karena pribadi yang begitu istimewa. Beberapa orang memutuskan untuk singgah bersama dalam waktu yang cukup lama, ada juga yang hanya sekedip mata. Semua ada alasannya, dan sudah ditentukan oleh Sang Hyang di Atas Sana.

Seiring kita melaju pula, orang berubah. Ada yang awalnya bersahabat, kemudian dengan bersama tersesat, dan akhirnya apa, mereka minggat. Because in the end, we’re all alone. Tanpa ada hembusan nafas lain dari hidung insan, selain satu hidung dan sepasang paru-paru yang telah tercipta bagi kita. Kita lahir sendiri, kita berjuang sendiri, dan mati sendiri. 

Mungkin tidak akan pernah mudah bagi kita yang pernah merasa kehilangan, entah benda entah manusia, untuk kembali merasa kehilangan. Tapi percayalah,  bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tidak dapat dilalui manusia. Semua masih dalam batas wajar, karena Tuhan merencanakan yang terbaik, Tuhan tahu dan paham pasti apa yang akan kita dapatkan akan selaras dengan apa yang telah kita perjuangkan. 

Belasan tahun mengembara, terkadang saya bertapa dan berucap tanya “kapan saya disuruh pulang oleh Yang Di Atas Sana?” Saya merasa sudah cukup, ungkap saya. Begitu banyak keputus asaan, hingga begitu banyak pula manusia yang bolak-balik menjadikan saya tempat persinggahan mereka untuk sementara, dan secara tidak langsung membantu saya supaya bangkit dari keterpurukan saya. 
Tapi ya itu tadi. Di dunia ini, kita tidak bisa percaya siapapun, termasuk diri kita sendiri. Mungkin saya terlalu realis, mungkin saya terlalu Marxis, tapi saya percaya bahwa pada dasarnya manusia itu jahat dan mengutamakan kekuatan dan kekuasaan. Manusia akan berusaha sebagaimana mungkin untuk saling menjatuhkan, menghalalkan 1001 cara agar semata-mata mereka bisa berkuasa dan merebut tahta. Go ahead, you can tell me that I’m so old school. But it’s alright, it’s all about protecting yourself from getting hurt, getting fall, and getting too easily trust someone.

Sebab dalam ziarah saya di dunia ini, saya mungkin belum terlalu banyak bertemu orang baru. Tapi saya cukup paham arti persahabatan dan kepercayaan. Saya cukup paham arti dari jangan terlalu mudah percaya kepada siapapun, not even your family, not even yourself. Maafkan saya apabila seringkali Anda melihat saya, berjalan sendiri dengan tegap dan dagu terangkat, semata-mata hanya untuk menaikkan martabat. Barangkali Anda mengenal saya sebagai sosok yang jahat, but it’s okay, karena saya manusia. Anda juga manusia, dan saya yakin pada dasarnya manusia itu jahat. 

Ada suatu masa dimana saya sempat menjadi pribadi yang amat liberalis. Terus bekerjasama dan melakukan diplomasi sana-sini untuk menyelesaikan masalah. Tapi toh, ujung-ujungnya itu tadi, semua saling menjatuhkan dan apalah guna Tuhan memberi 2 tangan dan ratusan macam otot di dalam tubuh manusia apabila saya hanya dapat mengandalkan kekuatan mulut dan kepintaran berbicara setiap saat? Sehingga di satu titik itu, mata saya terbuka. Sekarang saatnya untuk angkat senjata, dan berjuang walau penuh peluh dan tumpah darah.

Saya sudah merasakan berkali-kali patah hati. Ditinggal, dicaci, hingga saat ini saya memutuskan untuk berdiri sendiri. Mencoba maju tanpa harus percaya siapapun lagi. Mungkin lelah dikhianati? Ah sudahlah, picisan. Tiada guna menulis hal yang harkatnya bahkan lebih rendah dari neraka. 
Dan hingga saat ini, saya sampai linglung dan tak berarah. Bingung hendak percaya siapa. Karena ya itu…

everybody’s leaving in the end. 

Monday, 3 November 2014

Disandera Hingar Bingar, Dirangkum dalam Patah Kata

Luput dalam jiwa 
Api membara membakar raga
Lupa ditatap mata
Tak jua membawa suka.
Pertanda kah?
Atau malah sekedar meraba-raba
dalam batin menganga
merangkai sejuta tanya tanpa jawab
menerka;
namun berujung nista.

Sumpah, dilema.
Ah, picisan.
Nurani mulai mendamba harmoni
tapi yang ada berbuah suaka.
Melestarikan apa?
Lagi-lagi pertanda jalang
merambah hingga ke dua tiga persimpangan
yang berujung
kebuntuan.

Salam dari kota Bandung,
yang cuacanya belakangan mendung
langit lembayung

membawa kewajiban yang tak kunjung rampung.

Now Playing:
The Radio Dept. - Strange Things Will Happen
Jack Johnson - Sitting, Waiting, Wishing
Flume - Insane
Float - Stupido Ritmo

And That's How Life Rolls...

Begitulah, setelah sekian lama mencoba memutar otak dan berasumsi bolak-balik sendiri, saya berhasil mematikan satu lilin lama dan mengganti dengan lilin yang baru. Meski hanya sekedar meniup dan menghembuskan napas, rupanya tidak semudah itu. Tiap semilir angin memiliki ceritanya masing-masing. Pun juga dengan sepasang paru-paru yang diberi Tuhan supaya kita bisa berziarah di dunia ini. 
Di situlah letak kelakar yang nyata. Bahwa seringkali, kepedihan dan air mata mengundang banyak pasang mata pula yang bersatu, duduk bersila dan terkadang sambil memeluk erat bantal-bantal, saling menyediakan bahu mereka, berbagi nelangsa yang sama. 
Di situlah letak kelucuan yang sangat nisbi. Bahwa dengan gelak tawa dan genggaman erat telapak-telapak tangan, kami menghadapi dunia. Yang diawali dengan ratap dan kertak gigi mampu berakhir dengan senyum serta canda. Dan biarkan saya memulai kisah saya…

Rupanya, indah menurut manusia tak selamanya sama dengan indah menurut Yang Esa. Mungkin Yang Esa sudah menyiapkan jalan nasib dan roda kehidupan bagi tiap umatNya, karena Ia tidak pernah tidur. Dengan secangkir cokelat hangat dan selimut merah muda kebanggaan, saya mulai menulis lagi. Mengisi perputaran jarum jam yang kian menunjukkan waktu semakin larut, tidak membuat semangat saya menciut. Saya sadar bahwa inilah kesempatan saya menumpahkan segalanya, dan hanya dengan aksara sajalah saya mampu bersandar. 
Langit telah beristirahat dalam pekat. Malam yang membisu semakin membungkam mulut yang tak mampu lagi berucap. Karena lidah semakin kelu dan gigi kerap mengertak. Mungkin dingin yang menusuk sembilu kian menyayat sampai ke belikat. Kinilah saatnya mata tertutup rapat dan biarkan hanya hati saja yang bersilat. Biar waktu yang menjawab dan biar angin meniupkan segala macam perahu dan perkara yang membawa ke ombak dan samudera yang luas. 
Saat inilah, saya merasa baik-baik saja. Saya merasa bahwa inilah yang saya butuhkan, ketimbang mabuk dalam air mata sendiri dan berfikir keras bertanya-tanya tentang rasi bintang sampai bicara soal angan-angan. It’s all in my mind. Saya merasa saya baik-baik saja, dan akan selalu baik-baik saja. Itulah yang jadi kenyataannya. Dalam pilu saya tertawa dan dalam bahagia saya menyeru meronta pertanda tak bahagia. Tapi toh saya menghargai waktu dan rencana. Yang tentu keputusan akhir jatuh ke tangan Yang Maha Esa. 

Ya, bilamana ada mata yang membaca, saya sampaikan bahwa kamupun akan baik-baik saja. Kita memang pernah jatuh bersama dan malam ini (hampir) menangis bersama. Tapi percayalah, ini adalah malam yang paling indah buat saya. Saya tau kamu akan baik-baik saja dan kamu akan hidup dalam bahagia sesudahnya. Jalani impianmu dan jangan pernah biarkan orang lain menyetir hidupmu. Because you know, I cared for you then, I care for you now, and I’ll care for you later. Good luck, au revoir. 

https://www.youtube.com/watch?v=vyT-oGDnMqE 

:")

Saturday, 1 November 2014

Fresh New Start

Dengan semua yang terjadi belakangan ini, saya memutuskan untuk memulai awal yang baru. Di bulan baru, saya memutuskan untuk mulai lebih banyak tersenyum, lebih banyak makan sehat, dan tidak lagi mengeluh terus-menerus terhadap apa yang diberikan Tuhan kepada saya sebagai umatNya.
Saya sadar memang manusia pasti berubah seiring berjalannya waktu, dan percuma juga sehebat apapun aksi saya untuk mencegah orang-orang disekitar saya berubah, pasti mereka juga akan tetap berubah. Dan saya memutuskan untuk tidak masalah.
And please, wish me luck on everything.
New Hair!!!

Wednesday, 29 October 2014

Come Away With Me

So, this past few months got me thinking. Bahwa hidup tidak selamanya membawa kita ke arah yang telah kita rencanakan, telah kita anggap bahwa itu akan menjadi kenyataan, dan dengan harapan bahwa akan berakhir dengan kebahagiaan.
Dengan berakhirnya minggu-minggu terdahulu, gue terus melihat kemana arah jarum jam berputar. Apakah mungkin, akan ada masanya gue bisa berubah seperti salah satu pemeran di serial Heroes, si Nakamura, yang bisa memutarbalikkan waktu dan mengubah segalanya di masa lalu. Gue berfikir keras bagaimana caranya supaya gue bisa mengembalikan semuanya yang pernah ada di masa lalu, berfikir keras sampai rasanya rambut mulai keriting dan bahkan catokan sesakti apapun tidak akan bisa meluruskan rambut gue seperti biasanya lagi.
Dengan berakhirnya minggu-minggu terdahulu pula, gue menutup mata sembari tersenyum. Menyadari dan dengan pelan-pelan menerima apa yang Dia rencanakan buat hidup gue. Gue selalu ingat kata-kata mama dan Rana, "seburuk apapun nasib dan jalan hidup, harus tetap kita nikmati. jalani, dan syukuri." Mungkin gue terlalu banyak mengeluh sama Dia, kenapa gue begini kenapa gue begitu. Dan sampai akhirnya, di titik ini, gue merasa bahwa cukuplah. Sekarang waktunya saya yang mengalah dan biarkan Dia yang ambil jalan tengah.

Rabu, 29 Oktober 2014.
Dalam bungkam dan kenisbian waktu, jemari ini mulai menari lagi. Nampaknya sudah ratusan hari terlalu disibukkan dengan hampa media sosial, mencoba mencari hati dan sedikitnya perhatian dari siapa atau apa yang diinginkan. Rupanya nihil.
Saya tertawa.
Kembali menenggak secangkir kopi dan mabuk air mata.
Bila dianalogikan, mungkin saat ini saya setara dengan sebatang rokok. Yang nikmatnya hanya sekedar 7 menit mungkin, apabila Anda menghisap LA ice, atau mungkin Marlboro Ice Blast, yang cepat habis dan sekali dihisap rasanya memakan seluruh paru-paru Anda. Begitu dingin, dan mungkin sedikit frigid; kaku dengan bayangan dan hanya penikmatnya yang dapat memutuskan apakah akan memecahkan the green ball yang ada di puntungnya untuk bisa mendapatkan sensasi dingin itu, atau hanya akan menikmatinya seperti biasa.
Dalam kasus ini mungkin kebanyakan penikmatnya memutuskan untuk break the ice. Tanpa sadar konsekuensi apa yang bisa mereka dapatkan. Ada yang menikmati dinginnya, ada pula yang batuk hingga wajah memerah karena tidak kuat menahan tarikannya yang begitu kencang.
....
....
Hening beberapa saat
dan saya berfikir untuk melanjutkan kalimat.
Ya.
Kalau boleh saya kutip kata-kata dari film The Fault In Our Stars, seperti Augustus Waters bilang

"I'm in a rollercoaster that only goes up, my friend."

Sepertinya itu saya. 
iya, saya beberapa waktu yang lalu.
Hingga akhirnya ketika kemiringan roller coaster itu mencapai 90 derajat, rollercoaster itu jatuh terhentak, kebawah, dan belum berfikir untuk naik lagi. Saya menjilat ludah saya sendiri. Mengulum senyum dalam waktu yang tidak terkira lamanya. Sedikit berharap bahwa dalam kesendirian dan dibalut nelangsa, saya dapat menghapus air mata saya sendiri, dan mungkin menyaringnya ke dalam botol anggur merah dan meminumnya sendiri.

Saya belajar banyak hal.
Untuk tidak percaya kepada orang lain. Untuk tidak mudah jatuh (cinta). Untuk tidak terus-terusan melihat ke atas. Untuk belajar ikhlas. Untuk belajar menerima. Untuk belajar dewasa. Untuk tidak terus mengeluh dan ngegas. Untuk terus tersenyum dan mensyukuri apa yang telah saya miliki.
Saya tertawa akan banyak hal pula.
Menertawakan masa lalu. Menertawakan betapa bodoh saya dahulu. Menertawakan apa yang patut ditertawakan. Dan sedang dalam proses; menertawakan kesedihan.

Baiklah. Mungkin malam ini saya hendak menjadi pujangga. Yang dikawal nestapa dan bersenandung di bawah langit malam.

Tick tock
The tickling clock
I ought to kick your cock
And maybe
it'll make you shock

okay, that's a terrible poem.
let's give it another shot. 


Di balik jeruji rutan
kata kata ini menjadi bias
realita jadi ambigu
dan ambiguitas
menelanjangi tiap bibir yang terkatup rapat
menjadi sumpah serapah 
yang tumpah.
Biar kini 
nelangsa dan nestapa
memperkosa jiwa raga
dan kita mati
mengapung di sana saja.

May the odds be ever in your favour.
xx

Thursday, 9 October 2014

Twisted Logic

Friday, October 10th 2014

I sit on my bed with a cup of hot vanilla milk and laptop in front of my face. Got a lil bit dizzy over here, cough and flu since 2 weeks ago perhaps? And I'm trying to enjoy today as today is holiday, and no exam for today. Yeayness! Well, basically. lately I realized how happy and how should I be grateful and thankful for what God has given to me. I have a very happy and wonderful family, I have funny, faithful, and also wonderful friends beside me, I have everything that I want. And sometimes, I just forgot how to be thankful to God. There are so many people out there that have been dreaming to live the life I have. But still, I always blame God for not giving me something that I can't get. But now I know, that God never says "No" to our prayer. He either gives us what we want or gives us better that what we want and need. He always have a plan for us all who live in this crazy world. God works in His own way and with His own plan that we never know. But one thing that I surely know, that we all should be thankful each day for whatever He's given to us.

P.S: I really am not trying to be a saint for now, it's just I have nothing to do and I decided to post this. Hehehe.
Cheers and raise your glass, people!
XOXO, Deanty.

Saturday, 4 October 2014

Random thoughts

Kemudian dalam bawah terik sang surya, peluh kembali mengguyur dari dalam pori-pori kulit yang kian terbuka. Paru-paru semakin engap dan semakin menuntut diberi udara. Rasanya penat, sesak, mau rusak. Tapi yang saya butuh hanya sedikit candu yang berbungkus biru. 
Belum lama saya kembali ditarik dalam tiap hembusan napas yang saya buat. Saya merasa bukan tanaman hijaulah yang berfotosintesis untuk mengisi kebutuhan nafas saya sehari-hari. Saya merasa, kadang bukan tuhan yang mencipta semester. Saya merasa logika mengalahkan segalanya. Saya merasa dalam ketidakberdayaan saya di suatu ketika dan suatu alam masa, saya pada akhirnya kembali dalam bentuk debu yang tiada berarti bagi segelintir umat manusia.
Saya kembali percaya, dalam tiap kali saya membuka bungkusan biru yang adalah candu bagi hidup saya itu, bahwa saya itu hidup di dalam sebuah labirin. Dimana Tuhan itulah yang menjadi pengatur permainannya. Siapa yang mampu keluar dari labirin itu, dialah yang nanti menemui ajalnya. 
Kadang, permainan dan logika Tuhan tidak dapat dipahami oleh kita yang adalah - katanya - ciptaanNya. Walau esensi dan bentuk nyata dari Tuhan itu sendiri belum pernah dilihat, tapi, katanya lagi, bilamana kita percaya, ada suatu rasa euforia dan ketenangan luar biasa.
Apakah kemudian kamu bertanya, saya percaya Tuhan apa bagaimana?
Saya percaya, saya berdoa, saya pergi gereja. Saya pergi ke perayaan Paskah, saya pergi merayakan Natal, saya bersukacita atas penebusan Sang Anak Domba Allah atas dosa-dosa saya sebagai manusia. Namun lagi, semakin waktu dan usia yang melaju tanpa bisa diputarbalik, saya merasa bahwa saya butuh bukti. Tapi lagi-lagi;
saya belum berhasil keluar dari labirin yang Sang Esa ciptakan itu. Mungkin untuk sekarang, saya belum bisa keluar. Tapi lagi-lagi;
saya kembali nyandu. Nyandu sama yang bungkusnya biru itu. 
Kalau kata sebuah agama lain, melakukan hal yang dapat merusak diri sendiri itu buruk atau haram hukumnya di agamanya (kalau tidak salah ya, saya bukan ahli agama, saya bukan cendekiawan jadi maklumkan). Tapi bagi saya, selama saya menikmati si candu ini, walau dia memperpendek umur saya mungkin sekitar 10-15 tahun, saya tetap nyandu kok. 
Dan apa yang saya senangi dari nyandu ini, saya jadi banyak berilham. Saya banyak berfikir kritis tentang semesta, filsafat, masalah dunia, masalah pribadi, dan tak jarang saya mempertanyakan Tuhan. Ya seperti sekarang ini. Eh, omong-omong, saya lagi nggak nyandu. Nyandunya abis masa. Dan kemudian saya hanya berkutat berjam-jam di hadapan tumpukan bahan bacaan untuk ujian. Biasa, anak Hubungan Internasional. Terlalu sibuk mengurus resolusi konflik negara sampai kadang resolusi konflik pribadi saja terlupakan. Rest in peace, hidup damai tanpa bahan bacaan.
Sekitar satu setengah jam kemudian, saya mulai gelisah. Saya mulai merasa keringat dan basah. Berulang kali saya mendesah dan menelaah; mengapa saya tidak dapat nyandu sampai lemah? Lagi-lagi, bungkus biru itu mengontrol hidup saya. Bukan saya. Dan kemudian saya kembali mempertanyakan, kemana larinya si tuhan yang katanya empunya kehidupan? Kenapa ia membiarkan candu saya yang memegang kendali? 
Tapi biarlah. Kalau si tuhan lagi yang megang kendali, yang ada, saya keluar dari labirin. Dan saya ketemu ajal. Padahal kuliahpun saya belum puas mabal. Dan saya takut, mati jadi dajal. 

Sabtu, 4 Oktober 2014
Di sela sela e-book Paul Williams tentang Kajian Keamanan
Saya sempatkan 
menulis apa yang ada di iman
dan sedikit lari dari kenyataan. 

Friday, 3 October 2014

Midnight Thoughts (01)

Too many thoughts that have been struggling to be spoken. Or sometimes, I wonder if I can scream out loud and pretend like nobody's hearing it. But yeah, it's always been my biggest concern nowadays, how politics ruin the world. How the voice and democracy are slowly being taken away from us, the people of X country, yet the leaders are still hoping that we'll be living peacefully and moreover, they're expecting us to say yes for everything that governments decide. And how can we live in such shameful world?
This is not what I expect what the world would be since the day I was born. Well, at least I thought I would live in such a better place. This world might be crazy, but I never thought that it would be as chaos as this. So, I decided to make a room in my own mind, I make my own world.
The world where I lead it myself,
where there are no heartbreaks,
where everybody's happy,
no law
no rules to obey
and everybody's happy to live their own life
and it turns out to be only my deepest imagination. 

I am raised in such liberal family. But time flies, and people changes. So do I. As time goes by, I found a realist side inside of me and it's taking me a step further into a villain. I think logically, and I rarely use feelings for everything. I get suspicious to everybody so easily, and sometimes it makes them uncomfortable being right next to me.
And since this is just a random midnight thoughts, I wouldn't mind to share some kewl links that you might want to check out. Some playlists that will accompany you through thick and thin. Well, enjoy your cup of coffee and say hello to the mad world tomorrow morning.



PS: my personal favourite would be a track by Ludacris - Stand Up (LeMarquis Remix)

Tuesday, 1 April 2014

Laku ajak.


Malam ini nampaknya saya dibelenggu ragu. Saya kesulitan menarik nafas hingga sedalam-dalamnya. Barangkali karena hidung saya tersumbat, dan hati saya juga sedang mengalami penyumbatan, mungkin? Entah. Karena rasanya, sepertinya, saya kok mati rasa. Saya menatap jauh menembus awing-awang. Menerka-nerka. Mencoba mencari secercah jawaban yang mungkin bisa saya dapatkan. Saya sudah menempatkan diri saya dalam bahagianya sendiri. Dan untungnya, belum pernah saya merasa sepi.
Tapi beda malam ini.
Saya telah lama berhenti menghisap rokok. Saya berhenti membutuhkannya. Saya merasa, banyak hal lain yang lebih patut saya pertahankan disbanding dengan kebiasaan saya merokok. Saya lega. Tapi di satu sisi, tidak ada lagi yang memuaskan paru-paru saya. Not even a fresh air. Saya berhenti menjadi pecandu rokok dan mulai menenggak air putih sebanyak-banyaknya. Saya berhenti. Saya berhenti dari semuanya. Saya berhenti menjadi diri saya yang dahulu. Apa mungkin, ini semata-mata karena…..? sudahlah. Biarlah berlalu. Biar dimakan masa lalu. Biar ditiup angin sendu. Dan jangan lagi meneteskan air mata apabila tidak perlu.
Saya sepertinya hendak menulis obituari saya sendiri. Tanpa bantuan orang lain. Karena hanya saya yang mampu memahami. Bukan kehendak apalagi opini main-main. Saya hendak menulis dengan hati yang tulus ikhlas. Tanpa ada sedikitpun rasa yang bisa melelahkan jiwa dan raga. Biarpun saya baru berusia 18 tahun, saya tetap merasa bahwa ini ada perlunya. Saya berfikir terlalu jauh. Dan saya tidak peduli. Saya tetap berlari di atas semak berduri. Di atas bara api. Hingga nanti, mungkin kaki tiada berbentuk lagi.
Saya tertawa. Saya menertawakan seluruh isi obituari saya. Saya kemudian merasa bahwa hidup saya itu sepertinya tidak berguna. Bagi siapa-siapa. Karena saya selalu memberi lebih dan mendapat kurang. Saya berharap tinggi dan dibalas rendah. Ada apa dengan diri saya? Saya tidak tahu menahu, maka saya tertawa. Sendiri. Biar orang kata saya sakit jiwa. Biar orang bisik-bisik saya tidak lagi waras. Tapi biarlah, karena saya bahagia. Bahagia dalam kesendirian saya. Bahagia dalam dunia saya.
Kalau boleh saya mengulang kembali apa yang terjadi pada saya dari awal lahir sampai kemudian mati, saya mau nama saya bukan Maria Clara Putri Deanty. Saya senang dulu orang tua saya sempat ingin memberi nama Dear Amara Ayu Deanty. Kenapa tidak jadi? Itu yang saya pertanyakan. Karena saya merasa tidak pantas menyandang nama Maria Clara Putri Deanty. Entah mengapa. Saya juga bingung. Sepertinya, saya memang kurang bersyukur. Dan lagi, saya hanya tertawa.
Saya menertawakan seluruh kehidupan saya. Saya menertawakan kesedihan saya dan menangisi kebahagiaan saya. Belum banyak makan asam garam, memang. Tapi cukuplah untuk saya. Bagi saya buat bersandiwara dan menjadi pemeran utama dalam teater hidup saya. Saya mencoba memainkan peran saya dengan sempurna, hanya saja, kata orang sempurna hanya milik Tuhan. Dan saya sayangnya bukan Tuhan. Saya cuman salah satu dari ciptaanNya. Yang tentunya, tidak sempurna.
Saya mencoba memejamkan kedua bola mata saya rapat-rapat. Menahan nafas. Agar mungkin malam ini, tubuh saya kaku dan membiru. Dan semua ragu hilang; tak bersatu. 

Wednesday, 26 March 2014

W a r m T h o u g h t s



























Hingga kemudian
sang dewi durja
memanggil
meminta dipuja.

Sunday, 23 March 2014

Sama.


Dan di sinilah kita, untuk sekali lagi. Kembali merajut masa depan dan mengukir kenangan. Kembali duduk bersama hanya untuk sekedar bertukar pikiran. Kembali berpegangan tangan sekedar untuk merasakan manisnya hari terdahulu. Sekedar menutup mata bersama, dan terlarut dalam hempasan angin masa lalu.
Saya dan kamu. Sekali lagi kembali mencoba berjalan beriringan. Seiya sekata. Menemukan sama dari sekian beda. Menemukan apa yang dulu saya dan kamu coba perjuangkan. Semoga saja di kesempatan sekarang, keberadaan saya tak lagi kamu sia-siakan. Karena saya hampir menyerah dan hampir kehilangan akal sehat saya; begitu saya sadar bahwa ada kemungkinan, buku ini akan berakhir dengan tamat yang sama.

Berulang kali kamu mengucap kata yang sama. Berulang kali pula saya hanya mengulas senyum semata. Hanya karena saya tidak mau kamu terluka, kalau kamu tahu yang sebenarnya. Saya sudah terlalu enggan, mengulang apa yang pernah saya maafkan, dan apa yang sudah beribu kali saya pertahankan. Maka kali ini izinkan saya mengubur semua luka hati dan sembuhkan segala perih yang tengah merasuki jiwa dan pikiran. Jangan biarkan dendam memerkosa hati saya. Karena yang sudah-sudah, saya membenci kamu jadinya. Padahal saya awalnya tidak ada niatan untuk demikian.

Kalau boleh saya kecup manis kamu lagi, izinkan saya miliki bibir itu untuk kesekian kali. Namun yang kali ini, biarlah jadi yang terakhir. Karena saya benar-benar ingin menyingkir. Saya lelah berjuang dengan orang yang tidak pernah memerjuangkan saya balik. Ya. Kamu. Saya lelah mencintai orang yang salah seumur hidup saya. Sehingga sepertinya saya akan mencoba mencintai diri saya sendiri seumur hidup, tanpa harus peduli durasi, galaksi, dan apapun yang lama-lama membuat saya mati nurani.

“Akankah kamu beri saya satu kali lagi?” tanyamu.

Saya mengangkat bahu dan kemudian memeluk kamu. Memeluk kamu dari jauh, dari jarak yang terpisahkan ratusan kilometer jauhnya. Kamu mulai menangis. Sepertinya. Dan saya? Saya sepertinya sudah tidak sanggup lagi menangis. Karena air mata saya telah habis. Dan tenggorokan saya kian meringis apabila terus menangis. Saya bingung. Mengapa kamu baru datang setelah sekian lama. Setelah apa yang terjadi. Setelah jutaan kekecewaan membinasakan rasa saya. Semoga saja, untuk kesempatan selanjutnya (yang belum tentu saya berikan) rasa itu bertumbuh lagi dengan sendirinya. Semoga saja. Fingers crossed.

Saya kembali menyalakan rokok saya yang awalnya saya niati untuk berhenti. Tapi entah, asapnya sajalah yang mampu mengerti saya. Dalam diamnya, ia memukau dan menyembuhkan. Dalam tiap hembusnya, ia laksana menyapu bersih segala sakit dan kecewa yang telah menohok saya dari awal saya dilahirkan di dunia. Dari awal saya keluar dari perut mama. Saya menghirup setiap hembusannya, menyuntikkan nikotinnya ke dalam darah saya, dan membiarkan saya mati pelan-pelan.

“Jadi bagaimana? Apa ada celah yang bisa saya masuki?” Tanya kamu lagi.

Saya kembali mengangkat bahu. Mematikan lampu. Dan jatuh tidur dalam mimpi yang lugu. 

Saturday, 22 March 2014

Curcol Malam Minggu

It's hard to find someone who will love you for exactly who you are.

Dan saya kini tengah merasakan hal yang demikian terhadap diri saya. Betapa saya, seorang saya, yang amat membenci pencitraan, harus melakukan itu hanya demi terlihat baik di hadapan semua insan. Menjadi munafik bukanlah pilihan, melainkan kewajiban.
Saya berulang kali berusaha untuk menampik kenyataan. Bahwa suatu saat dunia mungkin berubah. Visi manusia akan berangsur-angsur menuju kepada modernitas dan liberalisme total; tanpa adanya tatapan mata memicing penuh amarah dan penghakiman sembarangan. Sebab yang seringkali saya saksikan adalah betapa banyaknya umat manusia yang dengan sembarangannya menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya. Mungkin saya juga pernah seperti itu. Tapi sekarang saya sadar, betapa tidak mengenakannya dinilai hanya dari luarnya saja. Memangnya saya ini apa, kok hanya dilihat dari bungkusnya saja.

I live here, in this world, not to please anyone. So please, just accept me for who I am.

Kalau saya tetap beranggapan demikian, saya rasa akan semakin banyak manusia yang melotot ke saya dan seakan-akan sosok seorang saya ingin mereka terkam hidup hidup. Apa yang salah dengan menjadi diri sendiri? Apa yang salah dengan berusaha untuk tidak munafik? Saya rasa banyak salahnya. Karena pada hakikatnya, manusia sekarang hidup bermuka dua. Di luarnya kelihatan baik, tapi sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya, ia busuk.
Sama seperti saya. Bedanya mungkin, dari luar saya terlihat busuk dan tidak seharusnya seorang perempuan seperti saya. Tapi saya juga manusia. Saya punya perasaan yang sebenarnya sangat lembut. Haha, bolehlah tertawa. Tapi memang itu yang terjadi. I'm such a dramatic person. Saya bisa menangis hanya karena hal sepele. Saya bisa bersedih hanya karena hal kecil. Saya mudah tersentuh, hingga tidak jarang, saya gampang dipermainkan.
Saya bingung. Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya harus ikutan munafik? Apa saya harus terus menutupi jati diri saya? Sampai kapan?

Thursday, 20 March 2014

Apokalips dalam Politik

The world is going insane.
Sepertinya itu yang bisa saya berikan buat dunia ini. Dimana-mana perang. Saat ada krisis ekonomi, pemerintah tidak berusaha untuk memperbaiki keadaan, tetapi malah melakukan gencatan senjata demi membuktikan, "Siapa yang berkuasa." Saya di sini bicara tentang peristiwa yang terjadi di Ukraina, Revolusi Negara-negara Arab, human trafficking yang telah terjadi selama 4 tahun belakangan hingga saat ini di Mesir dan Sudan, Amerika Serikat yang kerap masih berusaha (walaupun terseok-seok) menunjukkan bahwa ia masih yang paling adidaya. Cina yang mulai membalap Amerika dalam segala sektor, bahkan Cina enggan melakukan devaluasi yuan terhadap USD. Begitu banyak bencana yang terjadi di dunia, tapi 'orang-orang yang mengklaim dirinya bahwa mereka berkuasa' malah bersikap tak acuh dan hanya peduli soal kampanye dan pemilu mendatang. Mesir yang masih belum bisa bangkit dari keterpurukan pasca rezim Hosni Mobarak dan tetap menggunakan cara radikal untuk menggulingkan Morsi. Sampai pada masalah kriminalitas di Indonesia yang dilakukan oleh pasangan yang dibakar api cemburu.

The world is in insanity at its best. 

Kalau boleh saya mengutip kata presiden Indonesia yang sebentar lagi turun jabatan, saya cuma mau bilang, "Saya prihatin." Saya bicara di sini melalui kacamata dan sudut pandang seorang mahasiswi jurusan hubungan internasional. Saya gatel mau mengubah. Saya gatel mau berganti posisi dengan presiden yang ada sekarang, sekedar hanya ingin mengubah.

Kadang dalam renungan, saya berpikir: mengapa dulu Hawa mau memakan buah kuldi? Mengapa Adam terbujuk rayuan Hawa untuk turut memakannya? Mengapa manusia akhirnya jatuh ke dalam lubang dosa? Mengapa Amerika seakan-akan ingin menguasai dunia? Mengapa semua orang yang berkiprah di dunia politik memiliki kecenderungan untuk korupsi? Mengapa kuasa begitu sakral di atas segalanya? Mengapa banyak orang yang mulai kehilangan kepercayaan kepada Tuhan?

"How many special people change? How many lives are living strange?"
Oasis - Champagne Supernova.

Harta dan kuasa berhasil melumpuhkan dan membutakan nurani manusia. Pengetahuan dan teknologi berhasil membawa manusia ke dalam dunia maya yang menjauhkan realita. Logika mengalahkan rasa di atas segalanya. Orang-orang yang menduduki pemerintahan, yang telah mendapatkan suara dan kepercayaan rakyatnya malah menyalahgunakannya. Ribuan jiwa manusia harus terbuang dan mati sia-sia demi mengabdi pada negara yang ujung-ujungnya merugikan rakyat. Jutaan penduduk miskin tidak mampu mendapatkan hidup yang layak disaat pemerintahnya sibuk berkacak pinggang dan duduk manis di atas kursi dan sofa empuknya di istana negara.

Saya mendengarkan lantunan lagu dari John Lennon yang berjudul Imagine. Coba perhatikan liriknya dan resapi sepenuh hati. Saya rasa, itulah definisi bahagia. Itulah impian semua manusia. Tidak ada salahnya untuk bermimpi. Namun yang membuat salah adalah kita hanya berani bermimpi namun tidak bernyali untuk mewujudkan.

Apakah hanya saya, satu dari tujuh miliar penduduk di dunia ini yang murni memimpikan dunia yang damai dan bahagia? Apakah hanya saya, yang lelah dan pura-pura buta tuli, pura-pura tidak peduli dengan kondisi dunia ini? Apakah masih ada harapan bagi dunia ini untuk menyentuh hidup bahagia dan sejahtera? Apakah hanya saya yang mau mengubah dunia disaat yang tepat buat saya? Apakah masih ada cinta dan harapan buat semesta?

"People killin' people dyin'
Children hurt and you hear them cryin'
Can you practise what you preach,
and would you turn the other cheek?
Father, father, father help us,
send us some guidance from above.
'Cause people got me questionin'
Where is the love?"

Love and hope,

Maria Clara Putri Deanty.

Wednesday, 12 March 2014

Hibernasi dalam Temaram

Bak besi, hati saya ditempa. Terus menerus. Digerus. Sampai akhirnya hangus. Atau malah haus? Entah, karena saya sungguh tidak mampu bergerak. Saya sedang menjadi stupa. Yang diam bagaikan pertapa. Yang statis bagai tak bernyawa. Yang bungkam bagai tak bernada. Yang akhirnya dilumat rasa sakit, yang akhirnya diterpa serbuan rintihan.
Tenggorokan saya mengering. Minta diberi air, katanya sih. Tapi saya batu. Saya terus menghisap asap sigaret menthol. Saya terus membiarkan tenggorokan saya berdarah, sampai bernanah. Sebab saya butuh sesuatu yang rasa sakitnya melebihi sakit saya di dada. Tiap malam saya dirundung gelisah. Nafas saya mendesah. Menderu. Karena terlalu banyak menghisap asap. Terlalu banyak menyuntikkan nikotin ke dalam paru-paru. Terlalu banyak pikiran yang akhirnya membuat saya membisu.
Saya sungguh tidak paham apa yang saya inginkan. Konversasi saya dengan seorang karib membuka mata hati saya. Akankah sesungguhnya cinta itu ada? Eksistensinya dipertanyakan. Apakah saya hanya sekedar nyaman, aman; bukan sesuatu yang dapat didefinisi sebagai cinta? Syahdan, hati saya kembali mengalami komplikasi. Terlalu rumit. Tidak seringan pembahasan yang biasa. Karena saya tahu, usia sudah kian dimakan senja. Berpikir serius sesekali tak apalah. Biar hati bicara, tapi mulut cukup terkatup.
Saya mencintai dia. Saya mencintai John. Saya tahu itu. Saya sadar itu. Tapi saya sadar juga, suasana dan keadaan yang membuat kami tidak lagi bisa bersatu sebagai pasangan. Tapi ini menyakitkan. Karena akhirnya mau tidak mau saya harus terima bahwa cinta tidak harus memiliki. Bahwa cinta adalah tentang mempedulikan kebahagiaan orang yang kita cintai, tanpa melihat apakah kita yang menjadi alasannya atau bukan. Cinta itu rumit. Cinta.....sepertinya saya tidak mau lagi jatuh di dalamnya. Saya mau keluar. Saya mau lari sekencang-kencangnya, sejauh-jauhnya. Agar tidak lagi dipertemukan dengan apa yang namanya cinta. Karena yang saya tahu,
saya selalu disia-siakan.
Saya berkorban.
Saya ditinggalkan.
Saya terluka.
Tapi apa semua karena cinta?
Atau....
hanya sebatas ego saja?

Friday, 7 March 2014

Jiwa.

As a human, especially an eighteen year-old girl, saya seringkali menemukan diri saya terdampar dalam senyap yang lugu. Dimana saya tersesat dan hilang dalam akal saya sendiri. Saya laksana kaum hawa yang tiada berakal budi. Saya laksana binatang. Yang mungkin hanya mampu gunakan naluri. Saya binal. Saya nakal.
Saya hanya tidak sempurna. Dengan sosok yang di bawah rata-rata. Dengan senyum yang jarang tersungging dari bibir. Dengan wajah yang kerap mencibir. Dengan mulut yang diciptakan bak hotel mesum. Saya hanya merasa. Saya tidak pantas untuk hidup lebih lama. Karena jiwa saya seakan disedot lubang hitam. Yang secara konstan namun pasti, mengintervensi. Kemudian saya mati. 
Bukan mati raga. Hanya mati rasa. 
Ketersesatan saya di dalam hutan senyap yang lugu itu, saya kembali dihujani peluru berlabelkan ribuan negatifitas. Saya dirundung peluru. Saya tetap tidak mati raga. Saya terkesiap. Tapi saya tidak serta merta menjadi merayap; hanya karena saya bilang kalau saya itu binatang. Peluru itu mengisahkan seorang hawa yang ternyata adalah saya. Saya itu binatang. Sejak kapan derajat dan kasta saya jadi sama seperti pembawa dosa? Oh. Mungkin memang si hawa lebih rendah dari binatang. Mungkin hawa hanya sekedar lambang. Bahwa saya hanya kumpulan dari kotoran, memiliki satu vagina perawan, dan berwajahkan bapomed. Mungkin seburuk itu saya. Apabila saya berkaca. 
Saya mengais tanah. Tidak menggunakan kaki maupun tangan. Saya pakai mulut saya yang menganga. Saya kunyah tanah. Saya telan bulat-bulat. Perut saya kenyang dengan ulat. Begitulah kurang lebih keseharian saya. Sementara di sekeliling saya, masih banyak hawa-hawa lain yang rupanya tidak seburuk saya. Mereka rupawan. Mereka menawan. Mereka memikat. Mereka pantas untuk segera dijadikan pendamping sang adam. Di hutan sebelah mungkin? Yang mana tiap rembulan datang menghampiri, hanya diterangi sebatang lilin. Dan untuk tambahan, sebungkus kondom. 
Ah, pantas. Saya kerap mendengar bunyi desahan sembarang dan tak beraturan tiap purnama. Rupanya, sang adam mencicipi manisnya vagina perawan. Sang adam tiap purnama mendorong lingga ke dalam yoni. Hingga dalam hibernasi panjang saya, kerap saya dibangunkan oleh betapa riuh dan bisingnya desahan itu. Saya heran. Saya lantas membakar sebatang rokok yang saya linting sendiri. Mereka sudah tidak perawan. Dan saya masih jadi gadis yang baru lahir di kemarin hari. 
Entah harus bangga, entah harus kecewa. Saya memang binatang. Tak rupawan. Namun masih perawan. Setidaknya itu yang saya bisa banggakan. Kemudian saya terbang. Saya gantungkan diri saya di bulan. Biar jiwa saya direndam dalam asam garam. Biar kemudian raga saya membusuk. Yang penting mati terhormat. Yang penting....
ah, saya bahkan tidak tahu apa yang penting. Saya hanya paham, bahwa dengan ini, saya kelak akan menemukan akhirat. Dalam akhir zaman. 

Because you know why?
Even if I die, 
the sun will still shine.
Even if I die,
the moon will still there.
And that's how the world works.

Friday, 28 February 2014

Izinkan saya bercerita...

Jadi malam ini judulnya adalah "Malam Biru." Kayak lagunya Sandhy Sondhoro ya. Tapi ya udah, nggak apa-apa. Jangan pernah salahkan orang yang hatinya sedang melebam dan sebentar lagi melebur. Karena jadinya saya juga takabur. Entah. Semua rasanya blur. Saya seperti membisu dalam menghadapi realita.

Selama ini yang selalu saya jadikan perkara adalah betapa sulitnya saya untuk melepaskan dan merelakan. Padahal saya paham betul, bahwasanya apabila saya benar-benar mencintai seseorang, saya harus bisa ikut berbahagia dengan apapun pilihannya, semenyakitkan apapun itu buat diri saya. Jadi disinilah saya. Dibius hampa dan udara malam yang beku. Rasanya pilu. Biru. Dan kemudian saya selalu terbangun dan sadar lagi bahwa hidup saya seharusnya tidak sedalam itu apabila dibahas soal cinta.

Sampan yang hanyut
kini telah bertekuk lutut,
atas jurang yang diberi salut.
Lukapun dibalut,
sebab insan yang takut,
tak jua luput.
Sampan yang hanyut
tak dirundung kemelut.
Ia melebur,
menjadi debur.

Saya memutuskan untuk menonton sebuah film yang dibintangi oleh Dakota Fanning dan satu lelaki tampan yang saya tidak perhatikan namanya. Judulnya "Now Is Good." Saya kira itu akan menjadi roman picisan belaka yang paling hanya membuat luka saya kembali menganga. Tapi rupanya, bukan.
Mata saya dibuka.
Dua bola mata tiada sanggup memicingkan setiap sudut pandangnya. Fragmen dan elemen yang ada, menyadarkan saya. Bahwa tangisan seorang ayah sungguh membuat hati saya diulek bagai sambal. Sebab bagian dimana sang ayah menangis karena takut sang putri semata wayangnya yang hidupnya tak lama lagi akan meninggal, disitulah saya sungguh tersentuh. Karena saya jadi merasa, bahwa hanya ada satu-satunya pria di dunia ini yang akan sungguh mencintai wanita. Yaitu bagaimana ayah saya mencintai saya. Dan bagaimana ayah dan ibu saya takut akan fase pertumbuhan saya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Yang mana pada akhirnya saya harus berjuang sendiri dan lepas dari pengawasan mereka.

Maka pada suatu masa,
raga statis tuk selamanya.
Namun rasa dan presensi,
tinggal pula selamanya.

Dan saya rasa saya hanya membuang durasi saya. Memikirkan siapa yang telah memperlakukan saya bak permen karet. Habis manis sepah dibuang. Biar waktu sembuhkan luka hati saya dengan sendirinya. Sementara ia mungkin telah mencicipi manis cinta kekasih barunya.

Cheers for everyone who is in such pain.
Relax, take it easy.
We're gonna rule the fucking world.
We're gonna let it burn.

Perfect imperfections.

And I fill my lungs with tons of cigs. And I fill my day with emptiness. And I fill my heart with nothing. Will I be alright soon? I strongly believed that I'll be fine, soon. Really soon. And I'm letting go of someone that I've been holding on  to for this last 9 months. And honestly, that was neither a pain nor a relieve. I just feel empty and....sad? I don't know. Maybe my loneliness has cured my broken heart since a long long time ago. I was crying so hard last night; so hard that I couldn't even breathe. It felt like the air in this motherfucking Earth has gone somewhere else, so as a human I couldn't breathe even a little. I cried until I felt asleep. And early in the fucking frigid Friday morning, I suddenly felt the emptiness surrounded me. And actually today is my second day without him. I'm letting go. Or at least, I will let go. Soon. So that my heart will be fine again.

Well, he broke up with me yesterday. He dumped me as if I was a garbage. As if I was nothing to him and useless to him. I always know that it's going to happen soon (when we were still together). It was so sudden that I couldn't say anything anymore. He just yelled at me on the phone, and I just hang up his phone and I didn't cry at that moment.
Seriously, I'm trying not to cry tonight. But it's so hard. I need to write this somewhere or maybe just share it with someone, maybe with my best friends. But they're hanging out with their boyfriends right now and there's no way that I'm going to bother them. 
Last night, I tried to have some fun with my friends. But I just....can't. All I did is just crying and...trying to let go of the pain that he caused me and tried to let him go. And by the way, he didn't do anything to make everything better after all. He didn't do any single fucking thing. But that's fine. Because I know that he already found someone new. And I hope she will be better than me. She will love him more than I love him. She will accept all of his flaws, will accept him as he is. I hope she's a flawless beautiful lady that has enough patience to deal with your anger and emotions. I hope she'll be care to you more than I cared to you. And I hope you will chase and struggle for her, not like what you did to me. I hope you will be happier with her.
And to me.
I hope I'll get better soon. Time heals. It takes time for everything. Be proud for who you are. Letting go will be the best thing that you can do now. And forever. Your scar will be healed. Soon, De. Soon. You deserve to be happy. Now it's time to close the old book, burn them, and get a new and better book. Write your life story there. Stay gold, De. Stay strong.
You really
deserve
to be happy.

Tuesday, 25 February 2014

The entire world must have been insane

Dan saya termenung kembali dalam perantauan dan pertautan serta perang; antara nurani atau logika. Kerap kali saya menyadari bahwa sayalah yang seharusnya mengatur dan menentukan: apa alasan saya sesungguhnya untuk bahagia? Karena ya saya pahami hanyalah bagaimana cara saya menjaga perasaan orang yang saya sayangi, dan bagaimana caranya untuk membuat dia bahagia dan nyaman bersama saya, bukan bagaimana saya bahagia? Karena sungguh, melihatnya bahagia pun mungkin akan menjadi bahagia terbesar saya.
Saya kerap dikecam dan dirajam ragu. Saya terlalu mengikuti intuisi saya, saya jarang menggunakan logika saya. Karena saya dibutakan oleh apa yang namanya terlalu cinta. Ini pernah terjadi sebelumnya. Ribuan kali saya disakiti, dan saya tetap bertahan. Berpegang. Membisu, dibungkus rapat dengan bungkam. Sehingga yang insan tahu hanyalah sisi saya yang berbahagia senantiasa.
Saya memang klise. Untuk apa di usia 18 tahun saya jatuh cinta begitu dalam kepada seorang lelaki? Untuk apa saya terlalu memfokuskan diri untuk membahagiakannya, padahal saya sendiri belum tentu bahagia – atau mungkin malah, tidak akan bahagia? Saya kerap merasa bahwa percuma Tuhan menciptakan manusia dengan bibir dan mulut, dengan kemampuan berbicara. Dengan kemampuan berujar dan mungkin bagi yang beruntung, keberanian untuk beraspirasi dan mengutarakan apa yang dirasa. Tapi bagi saya? Saya hanya sanggup menjerit dan menahan semua di dalam lubuk hati, jauh dari apa yang verbal, yang sekiranya bisa saya sampaikan kepada orang-orang yang ingin saya utarakan, apa yang saya ingin bilang. Bingung bukan?
Saya ingin dipahami. Saya ingin bahagia. Tapi saya tidak sedang memperjuangkan kebahagiaan saya itu. Saya malah lebih...memperjuangkan apa yang saya cintai untuk bahagia. Bukan apa, tapi siapa. Tapi sepertinya, cara saya keliru. Saya malah kelihatannya seperti such pain in the fucking ass. Sehingga saya malah jadi takut untuk bertindak. Jangankan bertindak, berujar pun rasanya lidah saya kelu setengah mati. Sehingga yang bisa terucap hanya kata,
“I Love You.”

Selasa malam, di kota Bandung yang malam ini bersuhu 19 derajat Celcius.

Berusaha untuk menghapus air mata yang tak kuasa lagi dibendung kelopaknya. Berusaha untuk terlihat setegar karang walau di dalamnya lembek seperti eek. Ditemani dengan secangkir teh hangat dan lagu-lagu dari Flume.







Intinya sih. Buat apa kalau hanya bisa kecewa? Buat apa kalau tidak ada secercah harapan lagi? Buat apa? Ya jawabannya. 
Pokoknya I love you.

Sunday, 23 February 2014

I never let another teardrops fall...

It's been a while since I felt that emptiness surrounds me all around. It's like... there are so many things around me that actually could make me happy and smile, or even laugh out loud. But it's just not enough. I've been self-disrespect all the time. I keep caring way too much about someone I love. I do care about his life, his feelings, and all the things about him. But what can I get? I get nothing. He doesn't even think and care about me. I know we love each other, or at least, I do. But it takes two to love, right?
I've been crying a lot lately. I cry until I lose my breathe. I cry until I fall asleep. I listen to every songs and I cry. I'm hiding all of my feelings from everybody. I fake smile every single fucking time. My life is simply ruined. My heart is slowly being tortured, by how much I love someone. And oh yeah, I am such a dramatic person. I can't fight anymore. I can't go on. I'm giving up on him. But he is just a part of me that I can't let go. Can I be just........happy?

Tuesday, 4 February 2014

Mengisi Waktu Senggang

Kalau gue udah ngepost di blog, berarti gue lagi gabut. Begitulah kira-kira. Kalau katanya Tony Stark di film Iron Man 3, "everybody needs a hobby." Well, this is pretty much my hobby. Masalah buat loh?! Oke maaf ya kayaknya siang ini gue nggak bakalan nulis yang sok puitis macam biasanya. Mau iseng aja nulis apa kek yang pengen gue tulis. So... memasuki minggu pertama di semester II kuliah di jurusan Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Belum ada seminggu, gue udah sakit. Bukan sakit hati (ya itu juga sih but that doesn't count) gue sempet kena radang dan kayak ada virus gitu gara gara kecapekan, begadang mulu dan kurang makan. Dafuq bro padahal makanan banyak di rumah dan di kost an. Alhasil....yup, I lost 4 kgs. Tadinya 52-53 gitu terus pas ditimbang jebreeet 48 kg dengan tinggi 167 cm. Ya seneng sih tapi sekarang masih mau diet lagi. Maklum namanya perempuan. Kenapa ya perempuan tuh nggak pernah puas? Terutama masalah nilai dan penampilan. Itu sih masalah gue.
Banyak orang yang bilang ama gue "De nilai lo tuh udah bagus woi! Kenapa sih pake nangis segala dapet nilai segitu?" atau "astaga De badan lo udah sekecil tusuk gigi kaki lo udah kayak sedotan aqua kenapa masih mau diet sih?" Sampe sahabat-sahabat gue kayak Rere, Raras, dan Rena (sumpah gue baru sadar sahabat-sahabat gue di kampus inisialnya R semua) udah angkat tangan ga tau lagi mau ngomong apaan.... Tapi ya begitulah. Jangan salahkan gue kenapa gue suka banget menyiksa diri sendiri dengan nggak mau makan dan kelaparan hanya demi mendapatkan badan secungkring model-model Proenza Schouler atau Diane von Furstenberg (sorry but I'm not that into Victoria's Secret Angels). Gue rasa itu juga yang dihadapi oleh sebagian besar perempuan di dunia ini. Masyarakat yang selalu ngejudge kalo lo gendut berarti lo jelek, lo item tandanya lo dekil dan gak keurus, lo keriting berarti lo gak cantik dan gak mulus. Terus begitu kita udah diet dan jadi kurus nanti orang-orang pada bilang "apaan dah sok banget diet biar dikata apa sih? Attention seeker banget deh" atau "mau banget dibilang kurusan?" terus pas kita dikatain dekil gara gara mukanya banyak komedo atau jerawat terus kita perawatan pake erha dan jadinya lebih cantik dan putihan juga dibilang "ngapain sih anak seumuran kita lagak banget perawatan segala. Kayak emak-emak" Terus gara gara rambut lo keriting, lo ke kampus atau jalan dengan rambut lurus habis dicatok, nanti lo dicengin "cie gaya banget sih rambut lurus. Lagi gak kayak Lion King ya?"

Man, this world is too fucked up. We can't pleased everybody. 
Itulah yang gue rasakan. makanya gue ga pernah puas dan selalu pengen lebih kurus, lebih cantik, dan pengen rambut gue badai kayak anak anak hits di ask.fm. Udah deh. Goodbye gue mau bobo siang dulu.