Dan di sinilah kita, untuk sekali
lagi. Kembali merajut masa depan dan mengukir kenangan. Kembali duduk bersama
hanya untuk sekedar bertukar pikiran. Kembali berpegangan tangan sekedar untuk
merasakan manisnya hari terdahulu. Sekedar menutup mata bersama, dan terlarut
dalam hempasan angin masa lalu.
Saya dan kamu. Sekali lagi
kembali mencoba berjalan beriringan. Seiya sekata. Menemukan sama dari sekian
beda. Menemukan apa yang dulu saya dan kamu coba perjuangkan. Semoga saja di
kesempatan sekarang, keberadaan saya tak lagi kamu sia-siakan. Karena saya hampir
menyerah dan hampir kehilangan akal sehat saya; begitu saya sadar bahwa ada
kemungkinan, buku ini akan berakhir
dengan tamat yang sama.
Berulang kali kamu mengucap kata
yang sama. Berulang kali pula saya hanya mengulas senyum semata. Hanya karena
saya tidak mau kamu terluka, kalau kamu tahu yang sebenarnya. Saya sudah
terlalu enggan, mengulang apa yang pernah saya maafkan, dan apa yang sudah
beribu kali saya pertahankan. Maka kali ini izinkan saya mengubur semua luka
hati dan sembuhkan segala perih yang tengah merasuki jiwa dan pikiran. Jangan biarkan
dendam memerkosa hati saya. Karena yang sudah-sudah, saya membenci kamu
jadinya. Padahal saya awalnya tidak ada niatan untuk demikian.
Kalau boleh saya kecup manis kamu
lagi, izinkan saya miliki bibir itu untuk kesekian kali. Namun yang kali ini,
biarlah jadi yang terakhir. Karena saya benar-benar ingin menyingkir. Saya lelah
berjuang dengan orang yang tidak pernah memerjuangkan saya balik. Ya. Kamu. Saya
lelah mencintai orang yang salah seumur hidup saya. Sehingga sepertinya saya
akan mencoba mencintai diri saya sendiri seumur hidup, tanpa harus peduli
durasi, galaksi, dan apapun yang lama-lama membuat saya mati nurani.
“Akankah kamu beri saya satu kali
lagi?” tanyamu.
Saya mengangkat bahu dan kemudian
memeluk kamu. Memeluk kamu dari jauh, dari jarak yang terpisahkan ratusan
kilometer jauhnya. Kamu mulai menangis. Sepertinya. Dan saya? Saya sepertinya
sudah tidak sanggup lagi menangis. Karena air mata saya telah habis. Dan tenggorokan
saya kian meringis apabila terus menangis. Saya bingung. Mengapa kamu baru datang
setelah sekian lama. Setelah apa yang terjadi. Setelah jutaan kekecewaan
membinasakan rasa saya. Semoga saja, untuk kesempatan selanjutnya (yang belum tentu saya berikan) rasa itu
bertumbuh lagi dengan sendirinya. Semoga saja. Fingers crossed.
Saya kembali menyalakan rokok
saya yang awalnya saya niati untuk berhenti. Tapi entah, asapnya sajalah yang
mampu mengerti saya. Dalam diamnya, ia memukau dan menyembuhkan. Dalam tiap
hembusnya, ia laksana menyapu bersih segala sakit dan kecewa yang telah menohok
saya dari awal saya dilahirkan di dunia. Dari awal saya keluar dari perut mama.
Saya menghirup setiap hembusannya, menyuntikkan nikotinnya ke dalam darah saya,
dan membiarkan saya mati pelan-pelan.
“Jadi bagaimana? Apa ada celah
yang bisa saya masuki?” Tanya kamu lagi.
Saya kembali mengangkat bahu.
Mematikan lampu. Dan jatuh tidur dalam mimpi yang lugu.
No comments:
Post a Comment