"Benci sama cinta itu, bedanya tipis."
Gue harus mengakui kalau quotes itu benar. Pernah ada masa dimana gue sayang sama seseorang yang berinisial Y dalam hidup gue, dan gue sayang sama dia 2 tahun lebih. Jelas, dia pernah jadi pacar gue. Bagian dari masa lalu gue karena sekarang dia udah bukan pacar gue lagi. Anyway, gue putus sama dia karena banyak masalah. Dan sekarang gue sebenernya dibilang move on.... ya memang udah move on. Udah bisa nikmatin hidup dengan jalanin se fun mungkin sama orang-orang lain yang ada di hidup gue, yang mungkin lama gue lupakan karena waktu gue yang terlalu tersita saat gue pacaran sama Y ini. Cuma.....nggak bisa dipungkiri. Gue masih suka melihat ke belakang, dan masih peduli. Walau mungkin, cinta tidak ada lagi di hati. Saik.
Jadi, gue udah putus sama Y itu udah lumayan lama. Dan dikarenakan oleh....... ya udah lah nggak usah dijelasin panjang-panjang alasan gue putus sama dia. Dan gue sama dia jadian sekitar 2 tahun 1 bulan, putusnya itu H-2 anniversary ke 26 bulan. Dia yang mutusin, dan gue terima. Karena pada saat itu gue juga udah merasa lelah, dan jujur, agak muak sama perilakunya dia. But, however, he was my first love, my first boyfriend, and in my opinion, we had such wonderful memories together. Eventhough gue merasa bahwa lebih banyak gue merana daripada bahagia. Gue sama sekali tidak menyesali bahwa ada saat dimana gue sama Y ini pernah pacaran. Gue juga nggak menyesali saat gue putus (jelas gue nggak menyesal, orang dia yang mutusin) tapi ya sudah. Gue jujur aja, berusaha untuk membenci dia. Walau mungkin saat putuspun, rasa sayang sama sekali udah enggak tersisa. Dia kerap ngajak gue balikan. Baru-baru ini juga masih sering ngajak balikan. Tapi gue pribadi lebih baik enggak memberi tanggapan. Mengapa? Karena gue berpikir, some things better left unspoken. Gue nggak mau balikan, tapi kalau nolak dan bilang "sori, Y, gue nggak mau balikan lagi sama lo," itu lebih menyakitkan buat gue. Enggak percaya? Coba sendiri. Jadi menurut gue, lebih baik enggak usah lah, gue beri dia kata-kata atau apa. Mending diem aja.
Kedua orang tua gue udah benci banget sama dia. Gue nggak direstuin lagi pacaran sama dia dulu. Akhirnya pacaran pun diem-diem dan kalau ketemuan juga diem-diem. Agak miris sebenarnya, cuman ya untungnya dulu sama-sama serius ngejalaninnya. Tapi ya karena sulit, lama-lama enggak tahan karena banyak masalah juga, akhirnya.....yah, ibaratnya sekeras-kerasnya batu kalau kena air terus juga bakal hancur. Terus semenjak gue putus sama Y ini, nyokap selalu bilang, "kalau kamu mau ngelupain dia, kamu inget segala keburukannya dia selama ini dan hal-hal nyebelin yang pernah dia lakuin ke kamu." Sayangnya, karena terlalu banyak itulah, gue jadi mati rasa.
Kebelakangnya, gue sudah mulai terbiasa dengan kesendirian dan enggak sayang sama siapa-siapa lagi. Mengingat gue juga udah deket sama cowok lain dan udah suka sama cowok itu. Cuman barusan, di Twitter, gue lihat Y itu update dan dia bilang dia habis nyasar di deket rumah temen SMP gue gara-gara habis nganterin seseorang. Gue pasang tampang poker face. Gue enggak paham sama perasaan yang langsung bergejolak di hati gue. Gue mungkin cemburu. Tapi siapa gue? Mengingat gue sudah bukan siapa-siapanya dia lagi dan gue juga udah yakin kalau gue udah enggak sayang sama dia. Gue langsung log out Twitter dan BBM sahabat gue yang namanya Rahan. Gue cerita semua itu. Dia cuma bilang lebih baik jangan dikepo-kepoin lagi. Terus gak tau lagi, orangnya belum bales BBM gue lagi.
Entah.
Enggak tahu.
Rasanya beda.
Tapi mendadak cemburu.
Kemarin sudah yakin kalau gue nggak cinta.














