Saya hanya tidak sempurna. Dengan sosok yang di bawah rata-rata. Dengan senyum yang jarang tersungging dari bibir. Dengan wajah yang kerap mencibir. Dengan mulut yang diciptakan bak hotel mesum. Saya hanya merasa. Saya tidak pantas untuk hidup lebih lama. Karena jiwa saya seakan disedot lubang hitam. Yang secara konstan namun pasti, mengintervensi. Kemudian saya mati.
Bukan mati raga. Hanya mati rasa.
Ketersesatan saya di dalam hutan senyap yang lugu itu, saya kembali dihujani peluru berlabelkan ribuan negatifitas. Saya dirundung peluru. Saya tetap tidak mati raga. Saya terkesiap. Tapi saya tidak serta merta menjadi merayap; hanya karena saya bilang kalau saya itu binatang. Peluru itu mengisahkan seorang hawa yang ternyata adalah saya. Saya itu binatang. Sejak kapan derajat dan kasta saya jadi sama seperti pembawa dosa? Oh. Mungkin memang si hawa lebih rendah dari binatang. Mungkin hawa hanya sekedar lambang. Bahwa saya hanya kumpulan dari kotoran, memiliki satu vagina perawan, dan berwajahkan bapomed. Mungkin seburuk itu saya. Apabila saya berkaca.
Saya mengais tanah. Tidak menggunakan kaki maupun tangan. Saya pakai mulut saya yang menganga. Saya kunyah tanah. Saya telan bulat-bulat. Perut saya kenyang dengan ulat. Begitulah kurang lebih keseharian saya. Sementara di sekeliling saya, masih banyak hawa-hawa lain yang rupanya tidak seburuk saya. Mereka rupawan. Mereka menawan. Mereka memikat. Mereka pantas untuk segera dijadikan pendamping sang adam. Di hutan sebelah mungkin? Yang mana tiap rembulan datang menghampiri, hanya diterangi sebatang lilin. Dan untuk tambahan, sebungkus kondom.
Ah, pantas. Saya kerap mendengar bunyi desahan sembarang dan tak beraturan tiap purnama. Rupanya, sang adam mencicipi manisnya vagina perawan. Sang adam tiap purnama mendorong lingga ke dalam yoni. Hingga dalam hibernasi panjang saya, kerap saya dibangunkan oleh betapa riuh dan bisingnya desahan itu. Saya heran. Saya lantas membakar sebatang rokok yang saya linting sendiri. Mereka sudah tidak perawan. Dan saya masih jadi gadis yang baru lahir di kemarin hari.
Entah harus bangga, entah harus kecewa. Saya memang binatang. Tak rupawan. Namun masih perawan. Setidaknya itu yang saya bisa banggakan. Kemudian saya terbang. Saya gantungkan diri saya di bulan. Biar jiwa saya direndam dalam asam garam. Biar kemudian raga saya membusuk. Yang penting mati terhormat. Yang penting....
ah, saya bahkan tidak tahu apa yang penting. Saya hanya paham, bahwa dengan ini, saya kelak akan menemukan akhirat. Dalam akhir zaman.
Because you know why?
Even if I die,
the sun will still shine.
Even if I die,
the moon will still there.
And that's how the world works.
No comments:
Post a Comment