Sunday, 16 December 2012

Sadis

Hidup itu jahat. Hidup itu sadis. Hidup itu tidak adil.
Sebegitu banyaknya pernyataan dan pertanyaan yang terlontar dari mulut insan tentang kehidupan. Kehidupan yang katanya laknat, kehidupan yang katanya tak kunjung membawa bahagia. Malah konon membawa azab dan sengsara. Sebegitu nistanya kah pikiran kalian, manusia ciptaan Tuhan, tentang kehidupan? Belum pernahkah kalian mensyukuri apa yang masih ada dan tersisa dari diri kalian? Sungguh mengenaskan. Itulah sumber dari apa yang membuat kalian menangisi, meratapi, merutuki, dan bahkan menyesali kehidupan. 
WAHAI INSAN!
SADARLAH!
BANGUNLAH!
Dengar.
Kita hidup bukan untuk orang lain. Kita hidup untuk berjuang. Kita hidup untuk bertahan. Bertahan menjadi diri sendiri disaat keadaan dan semua orang sepertinya memaksa kita untuk berubah menjadi pribadi lain yang tak dikenali oleh mata batin kita sendiri, oleh kita. We are here not to please anyone. 
Saya memang masih tujuh belas tahun. Saya belum banyak makan asam garam. Lebih banyak makan bihun. Jadi mohon maaf kalau kesannya omongan saya itu sebatas dibekali memori silam. Saya cuma mau bilang, kalau di dunia ini tidak ada yang bisa kita percaya sepenuhnya selain diri kita sendiri. Even your family. Tidak bermaksud untuk menghasut. Tapi memang begitu toh? Hidup ini seperti benang kusut. Yang betul-betul butuh diusut. Supaya perkara dan problematikanya tak lagi berlanjut. 

Ingat.
Hidup kita-kita manusia yang sering mengeluh dan melenguh merasa jenuh ini, tak seberapa dibanding derita milyaran kepala di luar sana. Mereka yang menerjang luka dan memasang senyum di atas durja demi mencari harta yang fana. Mereka yang kerap mengais onggokan sampah demi secercah sedekah. Mereka yang mengemis, menangis, meringis, teriris, dikata najis, tak perduli betapa sadis, semua lagi-lagi demi segenggam beras. Segenggam harapan. Yang naas. Yang mungkin hanya impian, tak kunjung jadi kenyataan, bagi seganjil insan. 

Coba tengok lagi. Masih banyak hal yang patut disyukuri. Bahkan kau bernafas pun seharusnya bisa disyukuri. Karena dalam setiap tarikan maupun hembusan nafas dari bibir dan mulut pertama di pagi ini, ada sejuta orang yang menghembuskan nafas terakhirnya di luar sana. Ada jutaan orang yang divonis mengidap penyakit yang macam-macam. Semua terjadi dalam tempo waktu yang sama dan sesingkat-singkatnya. Lihat. Sadari. Betapa beruntungnya kalian tukang mengeluh! Yang bahkan belum pernah menteteskan peluh demi uang. Pernahnya cuman mau 'senang'. Itu juga kalau kalian cukup peka untuk paham apa yang coba saya ungkapkan. Sayangnya otak kalian terlalu penuh dengan kemunafikan, kekotoran, ilusi, dan duniawi. Mati sana. Masuk neraka. Jangan ke surga. Apalagi gentayangan tak tenang di dunia. 

Masih berani mengeluh?
Masih berani meringis?
Masih berani membandingkan perkara kalian dengan orang lain?

Seorang teman pernah mengatakan, "Tuhan memberikan cobaan ke semua manusia dengan takaran yang sama. Hanya saja jenisnya berbeda-beda." Coba saja telusuri apa maksudnya. Biar otak kalian terpakai. Tak melulu jadi orang tolol. Yang bisanya dongkol dan mainan kon*ol.

Friday, 16 November 2012

Tanpa judul

Sudah agak lama semenjak saya menuliskan apa yang saya rasa di sini. Ya, hidup saya belum banyak berubah. Masih sama. Masih hambar. Masih senyap. Belum ada yang bagaimana. Saya sih tidak mengeluh, tapi saya cuma butuh untuk berubah dan mengeluarkan sedikit peluh, tapi bukan peluh karena lelah dengan kenyataan. Bukan peluh karena saya keburu menyerah dengan apa yang terbentang di hadapan. Tapi peluh karena lelah tergelak dalam tawa, mungkin. Entah bisa saya dapatkan lagi atau tidak. Cuma waktu yang bisa menjawab.
2 malam yang lalu, saya seperti diberikan pesan. Pesan klasik, dalam mimpi disampaikan. Mimpi saya itu....
tentang mantan. 
Saya sudah lama tidak memikirkan dia, terbersit barang sedetikpun tidak pernah. Sampai malam itu saya mimpikan dia. Saya mimpi, dia sms saya, bilang kalau kangen sama saya dan bilang kalau dia sedang sakit. Kemudian ibunya yang sms saya, bertanya saya ada dimana dan apakah saya tidak keberatan untuk menjenguk mantan saya karena dia sedang sakit. 
Mimpinya beda.
Rasanya benar-benar nyata.
Sampai pada pukul 5 pagi hari Kamis dimana gerimis namun petir menggelegar, 15 November 2012, saya terbangun dari tidur saya dan langsung mengecek handphone. Ternyata tidak ada sms apa-apa. Semua hanya mimpi. Tapi aneh. 
Kemudian saya cerita sama sahabat saya dan sama ibu saya. Ibu saya suruh saya untuk cek twitter nya mantan. Karena ibu saya juga merasa kalau saya diberikan 'pesan' lewat mimpi itu. Entah apa maksudnya. Lalu saya turuti kata ibu saya. Saya cek twitter mantan. 
Dan benar. Ia sedang sakit. 

Saya sungguh tidak mengerti. Dari dulu memang mantan saya itu sering sakit. Tapi kenapa malam itu saya diberi mimpi? Yang akhirnya memaksa memori lama diungkit. Dan padahal, mantan saya pun sudah punya pacar lagi. Dan saya enggan membahas sakit hati yang pernah nyelekit.
Nyeri.
Hari Jumat nya, saya sekolah. Dan satu hal, sahabat saya, or used to be sahabat saya, secara resmi sepertinya memusuhi saya. Katanya saya.... hah tau ah gelap. Peduli setan. 

Wednesday, 7 November 2012

Representasi










Kisah hujan di sore hari

Sore ini beda rasanya.
Dinginnya sungguh menusuk dada dan rasa.
Ya, bagaimana tidak? Seharusnya di hari Rabu ini, saya pergi mengunjungi tempat les saya dan menuntut ilmu tambahan di sana. Tapi mau bagaimana? Raga terlanjur lelah, visi terlanjur kabur, jiwa terlanjur ngelantur, bibir sudah tidak mampu bertutur. Jadi, kalau ada yang kepo soal hidup saya, dan menyimpan satu tanya:

MENGAPA?


Biar saya mulai bercerita. Tentang hidup saya yang belakangan sedang mengalami degradasi dan disorientasi jati diri. Jadi, mungkin semua berawal dari sekitar 2 minggu yang lalu. Di mana saya merasa bahwa saya mengalami pukulan telak dalam jiwa dan raga, yang diberikan oleh satu orang yang sama dalam jangka waktu satu hari. Tidak, dua hari.
Kapten itu datang lagi ke hidup saya. Mendadak mengontak saya hanya untuk cerita kalau dia bahagia dan telah menemukan tambatan hatinya. Lalu dengan santainya ia berkata, kalau kali ini, ia harus bisa jadian sama gebetannya itu.
TERUS, GUE HARUS BILANG WOW GITU? 

Perih.
Itu satu-satunya hal yang bisa saya rasa di dalam dada. Sesak, itu yang bisa saya rasa untuk bernapas. Karena rasanya udara saya terikat oleh hampa, dan paru-paru saya tercekat oleh jeritan nurani. Apa maksudnya dia berani datang lagi? Coba direnungkan di dalam hati.
Kemudian, saya tidak hanya dibuat gila oleh percintaan dan masalah roman. Saya juga gila gara-gara hal laknat yang harus dan wajib saya laksanakan dan selesaikan. Apa lagi kalau bukan PENDIDIKAN? Sekolah buat saya kelabakan dan blingsatan. 
Belakangan saya dibuat menggila sama yang namanya karya tulis. Tapi sekarang sih, sudah agak lega. Karena karya tulis saya tinggal sekali konsul lagi saja. Tapi tetap, banyak hal yang membuat saya masih sulit bernapas dan menatap tegak kedepan, menatap dan hadapi realita. Contohnya saja, tadi siang ada seorang guru yang ngamuk sama kelas Bahasa, dan saya sebagai ketua kelas harus banget minta maaf sama dia. Dan dia, haha. Bangsat. Lihat muka saya pun tidak. Padahal niat sudah baik, mau menyampaikan penyesalan dari teman-teman sekelas seperjuangan. Tapi ya sudah. Anda tidak menghargai saya, buat apa saya menghargai Anda? Buang-buang waktu saja.
Tapi satu hal lagi. Problematikanya adalah saya belum ulangan susulan pelajarannya dia. Skakmat. Sudahlah, minggu depan saja. Masih ada hari esok. Esok yang semakin hari semakin berganti. Esok yang saya kira tidak ada henti. Tahu-tahu saya mati.

Minggu lalu, saya bersama delapan orang teman sekelas saya pergi lomba debat ke SMA Tarakanita 2 Pluit. Sebenarnya yang berdebat hanya saya bertiga dengan Venya dan Rachel. Tapi yang lain adalah suporter dan tim sukses dari SMA Tarakanita 1. Jadilah, 2 hari berturut-turut kami keluar kelas dan hanya mengikuti satu jam pelajaran pertama. Kalau boleh saya bilang.
2 hari untuk selamanya.
Saya senang, saya baru tahu kalau saya ada bakat dalam debat. Karena dari total 48 pembicara debat, puji Tuhan saya dapat peringkat 5. Lumayan membanggakan, walau tim debat Tarakanita 1 A tidak lolos ke babak final. Saya bahagia juga, karena saya bertemu dan kenalan sama seseorang, dari tim lawan. Yah, lumayan. Tukeran PIN. Tapi ya sudah, tidak saya bawa kemana-mana. Yang penting bisa lihat yang segar. Ah tau ah.


Saya merasa
dianiaya.
Sama kehidupan
pikiran saya diperkosa
hati saya dikoyakkan
sama siapa?
Ya kehidupan.




Sunday, 28 October 2012

"I've been looking so long at these pictures of me"









....that I almost believe that they're real.

Bicara soal hasrat...

Manusia itu bisa berubah. Iya kan? Siapa yang nggak setuju sama pernyataan itu. Karena manusia sifatnya labil, sedewasa apapun kepribadian manusia itu. Dan sekarang, saya lagi merasakan hal itu. 
Dari awal, mungkin saya sudah menggebu-gebu soal cita-cita saya yang mau jadi jurnalis perang seperti Kate Adie atau editor in chief Vogue seperti Anna Wintour. Atau seperti tokoh khayalan saya, seorang jurnalis dari film Superman yaitu Lois Lane. Atau seperti reporter andalan Indonesia, yaitu Tina Talisa. Tapi belakangan ini, saya merasa kalau dunia saya bukan di dunia jurnalistik. Entah kenapa saya merasa seperti itu. Padahal hati telah mantap untuk menjadi jurnalis;
yang bisa merubah dunia lewat kata-kata;
yang bisa memporak-porandakan sistem pemerintahan dengan pemberitaan;
yang bisa mengacak-acak muka pemerkosa martabat manusia dengan pers;
yang bisa menyuarakan
apa yang rakyat teriakkan.

Kemudian, saya termenung dalam bising. Dan saya bertanya pada diri sendiri, "De, yakinkah kamu bahwa ini semua yang kamu mau?"


Dan pertanyaan itupun masih belum bisa saya jawab. Karena saya masih menyimpan segudang pertanyaan dan hasrat lain yang saya kubur di dalam hati saya. Saya yakin kalau saya suka menulis. Saya yakin kalau saya suka berkarya dengan apa yang berkeliaran dengan liarnya di otak saya. Saya yakin kalau saya suka menganalisis keadaan. Saya yakin kalau saya tertarik dengan kriminalitas.Tapi satu yang paling saya yakin: saya itu jarang sekali nonton berita terkini. Dan hal itulah yang membuat saya semakin heran: betulkah saya ingin menjadi wartawan? Atau sekedar ingin menjadi hartawan? Bingung juga kan?
Kemudian saya bertanya sama sahabat-sahabat saya, "menurut kalian, gue tuh pantesnya jadi apa sih? gue merasa disorientasi diri nih. lagi galau sama cita-cita. takut selama ini bilang gue suka jurnalistik, nyantanya nggak terlalu into it." Tapi semua teman dan saudara tetap keukeuh dengan jawaban, kalau saya memang 100% cocok dan sudah mantap jadi jurnalis dan ambil kuliah komunikasi. 
Sebenarnya, sederhana saja. Saya hanya ingin mengubah dunia. Saya ingin melihat semuanya dari cara pandang saya yang berbeda. Saya hanya tidak ingin ikut-ikutan orang semesta. Yang maunya diperintah tanpa berani menggelengkan kepala.
Semua tentang saya.
Semua tentang saya-dan dunia.

Yang menggebu-gebu....

Saya pernah sekali jadi model di majalah Hai, bulan Juli 2012. Saya diwawancarai oleh seorang jurnalis yang bernama Muhammad Iqbal, saat itu dia lagi magang jadi jurnalis di Hai dan dia adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran. Universitas impian saya. Saya diwawancarai soal cita-cita saya. Dan tentunya, saya jawab jurnalis. Sampai jadilah di media cetak tersebut terpampang wajah saya dengan sedikit ulasan tentang profil dan cita-cita saya mengenai jurnalis. Hingga judulnya saja: "DEA: JOURNALIST WANNABE" 




Kemudian saya juga sering menulis, entah puisi, entah essay, entah pidato, entah cerpen. Yang semuanya hanya menjadi rongsokan di flash disk merah saya. Karena saya tidak pernah berani menunjukkan ke siapa-siapa. Saya suka menulis. Tapi saya mau menulis apa yang saya suka. Bukan hanya sekedar realita. Tapi saya harus suka. Saya harus rasa. 
Saya mau coba menulis; berita. Menulis apa yang sekiranya jadi pembicaraan dan concern orang banyak. Tapi lagi-lagi, saya masih egois. Saya maunya menulis apa yang menjadi ketertarikan pribadi saya semata. Saya mau menulis apa yang tak pernah diungkapkan banyak orang. Saya mau menulis kenyataan yang tidak terelakkan, yang juga menjadi jeritan, tapi masih disembunyikan.
Itu yang jadi hasrat saya. 

Masih yakin kok
kalau sudah dewasa
kelak jadi seperti mereka.


Anna Wintour



Tina Talisa



Kate Adie




Lois Lane

Saturday, 27 October 2012

Kenangan Pekan Lalu

Yah, telah genap sepekan dari luka batin yang belum kunjung mengering dan mengelupas. Sepertinya batin saya mengidap hemofilia. Dan itu baru. Semua karena kamu. 



Cukup membuat risau.
Be right back.
Hendak ambil pisau.

Friday, 26 October 2012

-




Au revoir, Captain Whisky.
Have a safe flight.



Ouch ouch













But COME ON!