Wednesday, 26 March 2014

W a r m T h o u g h t s



























Hingga kemudian
sang dewi durja
memanggil
meminta dipuja.

Sunday, 23 March 2014

Sama.


Dan di sinilah kita, untuk sekali lagi. Kembali merajut masa depan dan mengukir kenangan. Kembali duduk bersama hanya untuk sekedar bertukar pikiran. Kembali berpegangan tangan sekedar untuk merasakan manisnya hari terdahulu. Sekedar menutup mata bersama, dan terlarut dalam hempasan angin masa lalu.
Saya dan kamu. Sekali lagi kembali mencoba berjalan beriringan. Seiya sekata. Menemukan sama dari sekian beda. Menemukan apa yang dulu saya dan kamu coba perjuangkan. Semoga saja di kesempatan sekarang, keberadaan saya tak lagi kamu sia-siakan. Karena saya hampir menyerah dan hampir kehilangan akal sehat saya; begitu saya sadar bahwa ada kemungkinan, buku ini akan berakhir dengan tamat yang sama.

Berulang kali kamu mengucap kata yang sama. Berulang kali pula saya hanya mengulas senyum semata. Hanya karena saya tidak mau kamu terluka, kalau kamu tahu yang sebenarnya. Saya sudah terlalu enggan, mengulang apa yang pernah saya maafkan, dan apa yang sudah beribu kali saya pertahankan. Maka kali ini izinkan saya mengubur semua luka hati dan sembuhkan segala perih yang tengah merasuki jiwa dan pikiran. Jangan biarkan dendam memerkosa hati saya. Karena yang sudah-sudah, saya membenci kamu jadinya. Padahal saya awalnya tidak ada niatan untuk demikian.

Kalau boleh saya kecup manis kamu lagi, izinkan saya miliki bibir itu untuk kesekian kali. Namun yang kali ini, biarlah jadi yang terakhir. Karena saya benar-benar ingin menyingkir. Saya lelah berjuang dengan orang yang tidak pernah memerjuangkan saya balik. Ya. Kamu. Saya lelah mencintai orang yang salah seumur hidup saya. Sehingga sepertinya saya akan mencoba mencintai diri saya sendiri seumur hidup, tanpa harus peduli durasi, galaksi, dan apapun yang lama-lama membuat saya mati nurani.

“Akankah kamu beri saya satu kali lagi?” tanyamu.

Saya mengangkat bahu dan kemudian memeluk kamu. Memeluk kamu dari jauh, dari jarak yang terpisahkan ratusan kilometer jauhnya. Kamu mulai menangis. Sepertinya. Dan saya? Saya sepertinya sudah tidak sanggup lagi menangis. Karena air mata saya telah habis. Dan tenggorokan saya kian meringis apabila terus menangis. Saya bingung. Mengapa kamu baru datang setelah sekian lama. Setelah apa yang terjadi. Setelah jutaan kekecewaan membinasakan rasa saya. Semoga saja, untuk kesempatan selanjutnya (yang belum tentu saya berikan) rasa itu bertumbuh lagi dengan sendirinya. Semoga saja. Fingers crossed.

Saya kembali menyalakan rokok saya yang awalnya saya niati untuk berhenti. Tapi entah, asapnya sajalah yang mampu mengerti saya. Dalam diamnya, ia memukau dan menyembuhkan. Dalam tiap hembusnya, ia laksana menyapu bersih segala sakit dan kecewa yang telah menohok saya dari awal saya dilahirkan di dunia. Dari awal saya keluar dari perut mama. Saya menghirup setiap hembusannya, menyuntikkan nikotinnya ke dalam darah saya, dan membiarkan saya mati pelan-pelan.

“Jadi bagaimana? Apa ada celah yang bisa saya masuki?” Tanya kamu lagi.

Saya kembali mengangkat bahu. Mematikan lampu. Dan jatuh tidur dalam mimpi yang lugu. 

Saturday, 22 March 2014

Curcol Malam Minggu

It's hard to find someone who will love you for exactly who you are.

Dan saya kini tengah merasakan hal yang demikian terhadap diri saya. Betapa saya, seorang saya, yang amat membenci pencitraan, harus melakukan itu hanya demi terlihat baik di hadapan semua insan. Menjadi munafik bukanlah pilihan, melainkan kewajiban.
Saya berulang kali berusaha untuk menampik kenyataan. Bahwa suatu saat dunia mungkin berubah. Visi manusia akan berangsur-angsur menuju kepada modernitas dan liberalisme total; tanpa adanya tatapan mata memicing penuh amarah dan penghakiman sembarangan. Sebab yang seringkali saya saksikan adalah betapa banyaknya umat manusia yang dengan sembarangannya menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya. Mungkin saya juga pernah seperti itu. Tapi sekarang saya sadar, betapa tidak mengenakannya dinilai hanya dari luarnya saja. Memangnya saya ini apa, kok hanya dilihat dari bungkusnya saja.

I live here, in this world, not to please anyone. So please, just accept me for who I am.

Kalau saya tetap beranggapan demikian, saya rasa akan semakin banyak manusia yang melotot ke saya dan seakan-akan sosok seorang saya ingin mereka terkam hidup hidup. Apa yang salah dengan menjadi diri sendiri? Apa yang salah dengan berusaha untuk tidak munafik? Saya rasa banyak salahnya. Karena pada hakikatnya, manusia sekarang hidup bermuka dua. Di luarnya kelihatan baik, tapi sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya, ia busuk.
Sama seperti saya. Bedanya mungkin, dari luar saya terlihat busuk dan tidak seharusnya seorang perempuan seperti saya. Tapi saya juga manusia. Saya punya perasaan yang sebenarnya sangat lembut. Haha, bolehlah tertawa. Tapi memang itu yang terjadi. I'm such a dramatic person. Saya bisa menangis hanya karena hal sepele. Saya bisa bersedih hanya karena hal kecil. Saya mudah tersentuh, hingga tidak jarang, saya gampang dipermainkan.
Saya bingung. Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya harus ikutan munafik? Apa saya harus terus menutupi jati diri saya? Sampai kapan?

Thursday, 20 March 2014

Apokalips dalam Politik

The world is going insane.
Sepertinya itu yang bisa saya berikan buat dunia ini. Dimana-mana perang. Saat ada krisis ekonomi, pemerintah tidak berusaha untuk memperbaiki keadaan, tetapi malah melakukan gencatan senjata demi membuktikan, "Siapa yang berkuasa." Saya di sini bicara tentang peristiwa yang terjadi di Ukraina, Revolusi Negara-negara Arab, human trafficking yang telah terjadi selama 4 tahun belakangan hingga saat ini di Mesir dan Sudan, Amerika Serikat yang kerap masih berusaha (walaupun terseok-seok) menunjukkan bahwa ia masih yang paling adidaya. Cina yang mulai membalap Amerika dalam segala sektor, bahkan Cina enggan melakukan devaluasi yuan terhadap USD. Begitu banyak bencana yang terjadi di dunia, tapi 'orang-orang yang mengklaim dirinya bahwa mereka berkuasa' malah bersikap tak acuh dan hanya peduli soal kampanye dan pemilu mendatang. Mesir yang masih belum bisa bangkit dari keterpurukan pasca rezim Hosni Mobarak dan tetap menggunakan cara radikal untuk menggulingkan Morsi. Sampai pada masalah kriminalitas di Indonesia yang dilakukan oleh pasangan yang dibakar api cemburu.

The world is in insanity at its best. 

Kalau boleh saya mengutip kata presiden Indonesia yang sebentar lagi turun jabatan, saya cuma mau bilang, "Saya prihatin." Saya bicara di sini melalui kacamata dan sudut pandang seorang mahasiswi jurusan hubungan internasional. Saya gatel mau mengubah. Saya gatel mau berganti posisi dengan presiden yang ada sekarang, sekedar hanya ingin mengubah.

Kadang dalam renungan, saya berpikir: mengapa dulu Hawa mau memakan buah kuldi? Mengapa Adam terbujuk rayuan Hawa untuk turut memakannya? Mengapa manusia akhirnya jatuh ke dalam lubang dosa? Mengapa Amerika seakan-akan ingin menguasai dunia? Mengapa semua orang yang berkiprah di dunia politik memiliki kecenderungan untuk korupsi? Mengapa kuasa begitu sakral di atas segalanya? Mengapa banyak orang yang mulai kehilangan kepercayaan kepada Tuhan?

"How many special people change? How many lives are living strange?"
Oasis - Champagne Supernova.

Harta dan kuasa berhasil melumpuhkan dan membutakan nurani manusia. Pengetahuan dan teknologi berhasil membawa manusia ke dalam dunia maya yang menjauhkan realita. Logika mengalahkan rasa di atas segalanya. Orang-orang yang menduduki pemerintahan, yang telah mendapatkan suara dan kepercayaan rakyatnya malah menyalahgunakannya. Ribuan jiwa manusia harus terbuang dan mati sia-sia demi mengabdi pada negara yang ujung-ujungnya merugikan rakyat. Jutaan penduduk miskin tidak mampu mendapatkan hidup yang layak disaat pemerintahnya sibuk berkacak pinggang dan duduk manis di atas kursi dan sofa empuknya di istana negara.

Saya mendengarkan lantunan lagu dari John Lennon yang berjudul Imagine. Coba perhatikan liriknya dan resapi sepenuh hati. Saya rasa, itulah definisi bahagia. Itulah impian semua manusia. Tidak ada salahnya untuk bermimpi. Namun yang membuat salah adalah kita hanya berani bermimpi namun tidak bernyali untuk mewujudkan.

Apakah hanya saya, satu dari tujuh miliar penduduk di dunia ini yang murni memimpikan dunia yang damai dan bahagia? Apakah hanya saya, yang lelah dan pura-pura buta tuli, pura-pura tidak peduli dengan kondisi dunia ini? Apakah masih ada harapan bagi dunia ini untuk menyentuh hidup bahagia dan sejahtera? Apakah hanya saya yang mau mengubah dunia disaat yang tepat buat saya? Apakah masih ada cinta dan harapan buat semesta?

"People killin' people dyin'
Children hurt and you hear them cryin'
Can you practise what you preach,
and would you turn the other cheek?
Father, father, father help us,
send us some guidance from above.
'Cause people got me questionin'
Where is the love?"

Love and hope,

Maria Clara Putri Deanty.

Wednesday, 12 March 2014

Hibernasi dalam Temaram

Bak besi, hati saya ditempa. Terus menerus. Digerus. Sampai akhirnya hangus. Atau malah haus? Entah, karena saya sungguh tidak mampu bergerak. Saya sedang menjadi stupa. Yang diam bagaikan pertapa. Yang statis bagai tak bernyawa. Yang bungkam bagai tak bernada. Yang akhirnya dilumat rasa sakit, yang akhirnya diterpa serbuan rintihan.
Tenggorokan saya mengering. Minta diberi air, katanya sih. Tapi saya batu. Saya terus menghisap asap sigaret menthol. Saya terus membiarkan tenggorokan saya berdarah, sampai bernanah. Sebab saya butuh sesuatu yang rasa sakitnya melebihi sakit saya di dada. Tiap malam saya dirundung gelisah. Nafas saya mendesah. Menderu. Karena terlalu banyak menghisap asap. Terlalu banyak menyuntikkan nikotin ke dalam paru-paru. Terlalu banyak pikiran yang akhirnya membuat saya membisu.
Saya sungguh tidak paham apa yang saya inginkan. Konversasi saya dengan seorang karib membuka mata hati saya. Akankah sesungguhnya cinta itu ada? Eksistensinya dipertanyakan. Apakah saya hanya sekedar nyaman, aman; bukan sesuatu yang dapat didefinisi sebagai cinta? Syahdan, hati saya kembali mengalami komplikasi. Terlalu rumit. Tidak seringan pembahasan yang biasa. Karena saya tahu, usia sudah kian dimakan senja. Berpikir serius sesekali tak apalah. Biar hati bicara, tapi mulut cukup terkatup.
Saya mencintai dia. Saya mencintai John. Saya tahu itu. Saya sadar itu. Tapi saya sadar juga, suasana dan keadaan yang membuat kami tidak lagi bisa bersatu sebagai pasangan. Tapi ini menyakitkan. Karena akhirnya mau tidak mau saya harus terima bahwa cinta tidak harus memiliki. Bahwa cinta adalah tentang mempedulikan kebahagiaan orang yang kita cintai, tanpa melihat apakah kita yang menjadi alasannya atau bukan. Cinta itu rumit. Cinta.....sepertinya saya tidak mau lagi jatuh di dalamnya. Saya mau keluar. Saya mau lari sekencang-kencangnya, sejauh-jauhnya. Agar tidak lagi dipertemukan dengan apa yang namanya cinta. Karena yang saya tahu,
saya selalu disia-siakan.
Saya berkorban.
Saya ditinggalkan.
Saya terluka.
Tapi apa semua karena cinta?
Atau....
hanya sebatas ego saja?

Friday, 7 March 2014

Jiwa.

As a human, especially an eighteen year-old girl, saya seringkali menemukan diri saya terdampar dalam senyap yang lugu. Dimana saya tersesat dan hilang dalam akal saya sendiri. Saya laksana kaum hawa yang tiada berakal budi. Saya laksana binatang. Yang mungkin hanya mampu gunakan naluri. Saya binal. Saya nakal.
Saya hanya tidak sempurna. Dengan sosok yang di bawah rata-rata. Dengan senyum yang jarang tersungging dari bibir. Dengan wajah yang kerap mencibir. Dengan mulut yang diciptakan bak hotel mesum. Saya hanya merasa. Saya tidak pantas untuk hidup lebih lama. Karena jiwa saya seakan disedot lubang hitam. Yang secara konstan namun pasti, mengintervensi. Kemudian saya mati. 
Bukan mati raga. Hanya mati rasa. 
Ketersesatan saya di dalam hutan senyap yang lugu itu, saya kembali dihujani peluru berlabelkan ribuan negatifitas. Saya dirundung peluru. Saya tetap tidak mati raga. Saya terkesiap. Tapi saya tidak serta merta menjadi merayap; hanya karena saya bilang kalau saya itu binatang. Peluru itu mengisahkan seorang hawa yang ternyata adalah saya. Saya itu binatang. Sejak kapan derajat dan kasta saya jadi sama seperti pembawa dosa? Oh. Mungkin memang si hawa lebih rendah dari binatang. Mungkin hawa hanya sekedar lambang. Bahwa saya hanya kumpulan dari kotoran, memiliki satu vagina perawan, dan berwajahkan bapomed. Mungkin seburuk itu saya. Apabila saya berkaca. 
Saya mengais tanah. Tidak menggunakan kaki maupun tangan. Saya pakai mulut saya yang menganga. Saya kunyah tanah. Saya telan bulat-bulat. Perut saya kenyang dengan ulat. Begitulah kurang lebih keseharian saya. Sementara di sekeliling saya, masih banyak hawa-hawa lain yang rupanya tidak seburuk saya. Mereka rupawan. Mereka menawan. Mereka memikat. Mereka pantas untuk segera dijadikan pendamping sang adam. Di hutan sebelah mungkin? Yang mana tiap rembulan datang menghampiri, hanya diterangi sebatang lilin. Dan untuk tambahan, sebungkus kondom. 
Ah, pantas. Saya kerap mendengar bunyi desahan sembarang dan tak beraturan tiap purnama. Rupanya, sang adam mencicipi manisnya vagina perawan. Sang adam tiap purnama mendorong lingga ke dalam yoni. Hingga dalam hibernasi panjang saya, kerap saya dibangunkan oleh betapa riuh dan bisingnya desahan itu. Saya heran. Saya lantas membakar sebatang rokok yang saya linting sendiri. Mereka sudah tidak perawan. Dan saya masih jadi gadis yang baru lahir di kemarin hari. 
Entah harus bangga, entah harus kecewa. Saya memang binatang. Tak rupawan. Namun masih perawan. Setidaknya itu yang saya bisa banggakan. Kemudian saya terbang. Saya gantungkan diri saya di bulan. Biar jiwa saya direndam dalam asam garam. Biar kemudian raga saya membusuk. Yang penting mati terhormat. Yang penting....
ah, saya bahkan tidak tahu apa yang penting. Saya hanya paham, bahwa dengan ini, saya kelak akan menemukan akhirat. Dalam akhir zaman. 

Because you know why?
Even if I die, 
the sun will still shine.
Even if I die,
the moon will still there.
And that's how the world works.