Friday, 28 February 2014

Izinkan saya bercerita...

Jadi malam ini judulnya adalah "Malam Biru." Kayak lagunya Sandhy Sondhoro ya. Tapi ya udah, nggak apa-apa. Jangan pernah salahkan orang yang hatinya sedang melebam dan sebentar lagi melebur. Karena jadinya saya juga takabur. Entah. Semua rasanya blur. Saya seperti membisu dalam menghadapi realita.

Selama ini yang selalu saya jadikan perkara adalah betapa sulitnya saya untuk melepaskan dan merelakan. Padahal saya paham betul, bahwasanya apabila saya benar-benar mencintai seseorang, saya harus bisa ikut berbahagia dengan apapun pilihannya, semenyakitkan apapun itu buat diri saya. Jadi disinilah saya. Dibius hampa dan udara malam yang beku. Rasanya pilu. Biru. Dan kemudian saya selalu terbangun dan sadar lagi bahwa hidup saya seharusnya tidak sedalam itu apabila dibahas soal cinta.

Sampan yang hanyut
kini telah bertekuk lutut,
atas jurang yang diberi salut.
Lukapun dibalut,
sebab insan yang takut,
tak jua luput.
Sampan yang hanyut
tak dirundung kemelut.
Ia melebur,
menjadi debur.

Saya memutuskan untuk menonton sebuah film yang dibintangi oleh Dakota Fanning dan satu lelaki tampan yang saya tidak perhatikan namanya. Judulnya "Now Is Good." Saya kira itu akan menjadi roman picisan belaka yang paling hanya membuat luka saya kembali menganga. Tapi rupanya, bukan.
Mata saya dibuka.
Dua bola mata tiada sanggup memicingkan setiap sudut pandangnya. Fragmen dan elemen yang ada, menyadarkan saya. Bahwa tangisan seorang ayah sungguh membuat hati saya diulek bagai sambal. Sebab bagian dimana sang ayah menangis karena takut sang putri semata wayangnya yang hidupnya tak lama lagi akan meninggal, disitulah saya sungguh tersentuh. Karena saya jadi merasa, bahwa hanya ada satu-satunya pria di dunia ini yang akan sungguh mencintai wanita. Yaitu bagaimana ayah saya mencintai saya. Dan bagaimana ayah dan ibu saya takut akan fase pertumbuhan saya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Yang mana pada akhirnya saya harus berjuang sendiri dan lepas dari pengawasan mereka.

Maka pada suatu masa,
raga statis tuk selamanya.
Namun rasa dan presensi,
tinggal pula selamanya.

Dan saya rasa saya hanya membuang durasi saya. Memikirkan siapa yang telah memperlakukan saya bak permen karet. Habis manis sepah dibuang. Biar waktu sembuhkan luka hati saya dengan sendirinya. Sementara ia mungkin telah mencicipi manis cinta kekasih barunya.

Cheers for everyone who is in such pain.
Relax, take it easy.
We're gonna rule the fucking world.
We're gonna let it burn.

No comments:

Post a Comment