Kalau boleh jujur, ini bukan sekedar pemikiran random atau apalah. Tapi ya yang memang benar-benar jadi kemelut dan nelangsa di hati saya. Bagaimana tidak? Sudah belakangan ini saya menyembunyikan perasaan saya bahwa sebenarnya saya menginginkan sesuatu yang saya tahu pasti, hanya akan menimbulkan perkara lagi. Jadi ya sudahlah, memang saya yang harus berkorban kok. Daripada ambil resiko dan kemudian menyesal.
Biar saya bungkam.
Supaya tiada yang paham.
Wednesday, 9 October 2013
Saturday, 5 October 2013
Menyingkap Tabir Realita dari Sebuah Rangkaian Aksara
Siapa bilang manusia tak mampu prediksi masa depan? Siapa bilang insan yang menyuratkan aspirasi dan pikiran dalam sebuah karya tiada bermakna? Karena saya sendiri akhirnya turut berduka dan menangis sesunggukan ketika saya menyadari, bahwa apa yang pernah saya aspirasikan berbuah realita.
Awalnya saya memang hanya sekedar memaparkan, karena saya kebingungan mencari partner dalam berbagi kisah dan apa yang ada di dalam kepala saya. Karena saya juga bingung, kemana saya akan bermuara apabila benang kusut di dalam otak saya tak segera dijabarkan. Hingga kemudian saya menyadari pula, bahwa ada makna dibalik sebuah pertanda.
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat menulis soal kematian. Saya sempat memaparkan betapa penasarannya saya dengan kematian. Saya sempat menyampaikan, bahwa saya ingin melihat dan saya bertanya-tanya "seperti apakah kematian?" Hingga akhirnya minggu lalu, Sang Khalik memanggil opa saya. Bagai disambar petir di siang bolong, saya harus merasakan dan terlarut dalam elegi dan ode kematian. Sebab, hari Minggu yang lalu (29/9), saya tengah mengikuti ospek jurusan, dan saya sedang sibuk karena saya adalah head delegation Myanmar kala itu. Dan kemudian ayah saya menelepon dan meminta saya untuk pulang ke Jakarta. Dengan alasan, "opa udah nggak ada kak..."
Glek.
Untung saya tidak blackout dan pingsan. Tapi saya kontan menangis. Dan saya nyesek. Seketika. Saya langsung mengambil travel tercepat kala itu dan saya meluncur ke Rumah Duka St. Carolus di Salemba. Dengan penuh tetesan air mata dan hati yang berantakan saya berlari ke bilik dimana opa saya disemayamkan. Saya tidak bisa berhenti menangis. Pasalnya, saya adalah cucu tertua di keluarga mama dan opa begitu menyayangi saya. Masa kecil saya, saya habiskan separuhnya bersama opa. Dan bagai mimpi dan petir di siang bolong, Tuhan tak segan memanggil opa dari tengah-tengah keluarga, Tuhan merenggut opa dari dunia, guna merasakan bahagia abadi di surga.
Saya hanya mampu merana selama 78 jam. Saya menangis tiada henti. Dan saya hanya bisa berdoa, semoga opa diberi tempat terbaik di surga.
Awalnya saya memang hanya sekedar memaparkan, karena saya kebingungan mencari partner dalam berbagi kisah dan apa yang ada di dalam kepala saya. Karena saya juga bingung, kemana saya akan bermuara apabila benang kusut di dalam otak saya tak segera dijabarkan. Hingga kemudian saya menyadari pula, bahwa ada makna dibalik sebuah pertanda.
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat menulis soal kematian. Saya sempat memaparkan betapa penasarannya saya dengan kematian. Saya sempat menyampaikan, bahwa saya ingin melihat dan saya bertanya-tanya "seperti apakah kematian?" Hingga akhirnya minggu lalu, Sang Khalik memanggil opa saya. Bagai disambar petir di siang bolong, saya harus merasakan dan terlarut dalam elegi dan ode kematian. Sebab, hari Minggu yang lalu (29/9), saya tengah mengikuti ospek jurusan, dan saya sedang sibuk karena saya adalah head delegation Myanmar kala itu. Dan kemudian ayah saya menelepon dan meminta saya untuk pulang ke Jakarta. Dengan alasan, "opa udah nggak ada kak..."
Glek.
Untung saya tidak blackout dan pingsan. Tapi saya kontan menangis. Dan saya nyesek. Seketika. Saya langsung mengambil travel tercepat kala itu dan saya meluncur ke Rumah Duka St. Carolus di Salemba. Dengan penuh tetesan air mata dan hati yang berantakan saya berlari ke bilik dimana opa saya disemayamkan. Saya tidak bisa berhenti menangis. Pasalnya, saya adalah cucu tertua di keluarga mama dan opa begitu menyayangi saya. Masa kecil saya, saya habiskan separuhnya bersama opa. Dan bagai mimpi dan petir di siang bolong, Tuhan tak segan memanggil opa dari tengah-tengah keluarga, Tuhan merenggut opa dari dunia, guna merasakan bahagia abadi di surga.
Saya hanya mampu merana selama 78 jam. Saya menangis tiada henti. Dan saya hanya bisa berdoa, semoga opa diberi tempat terbaik di surga.
Subscribe to:
Posts (Atom)