Thursday, 20 March 2014

Apokalips dalam Politik

The world is going insane.
Sepertinya itu yang bisa saya berikan buat dunia ini. Dimana-mana perang. Saat ada krisis ekonomi, pemerintah tidak berusaha untuk memperbaiki keadaan, tetapi malah melakukan gencatan senjata demi membuktikan, "Siapa yang berkuasa." Saya di sini bicara tentang peristiwa yang terjadi di Ukraina, Revolusi Negara-negara Arab, human trafficking yang telah terjadi selama 4 tahun belakangan hingga saat ini di Mesir dan Sudan, Amerika Serikat yang kerap masih berusaha (walaupun terseok-seok) menunjukkan bahwa ia masih yang paling adidaya. Cina yang mulai membalap Amerika dalam segala sektor, bahkan Cina enggan melakukan devaluasi yuan terhadap USD. Begitu banyak bencana yang terjadi di dunia, tapi 'orang-orang yang mengklaim dirinya bahwa mereka berkuasa' malah bersikap tak acuh dan hanya peduli soal kampanye dan pemilu mendatang. Mesir yang masih belum bisa bangkit dari keterpurukan pasca rezim Hosni Mobarak dan tetap menggunakan cara radikal untuk menggulingkan Morsi. Sampai pada masalah kriminalitas di Indonesia yang dilakukan oleh pasangan yang dibakar api cemburu.

The world is in insanity at its best. 

Kalau boleh saya mengutip kata presiden Indonesia yang sebentar lagi turun jabatan, saya cuma mau bilang, "Saya prihatin." Saya bicara di sini melalui kacamata dan sudut pandang seorang mahasiswi jurusan hubungan internasional. Saya gatel mau mengubah. Saya gatel mau berganti posisi dengan presiden yang ada sekarang, sekedar hanya ingin mengubah.

Kadang dalam renungan, saya berpikir: mengapa dulu Hawa mau memakan buah kuldi? Mengapa Adam terbujuk rayuan Hawa untuk turut memakannya? Mengapa manusia akhirnya jatuh ke dalam lubang dosa? Mengapa Amerika seakan-akan ingin menguasai dunia? Mengapa semua orang yang berkiprah di dunia politik memiliki kecenderungan untuk korupsi? Mengapa kuasa begitu sakral di atas segalanya? Mengapa banyak orang yang mulai kehilangan kepercayaan kepada Tuhan?

"How many special people change? How many lives are living strange?"
Oasis - Champagne Supernova.

Harta dan kuasa berhasil melumpuhkan dan membutakan nurani manusia. Pengetahuan dan teknologi berhasil membawa manusia ke dalam dunia maya yang menjauhkan realita. Logika mengalahkan rasa di atas segalanya. Orang-orang yang menduduki pemerintahan, yang telah mendapatkan suara dan kepercayaan rakyatnya malah menyalahgunakannya. Ribuan jiwa manusia harus terbuang dan mati sia-sia demi mengabdi pada negara yang ujung-ujungnya merugikan rakyat. Jutaan penduduk miskin tidak mampu mendapatkan hidup yang layak disaat pemerintahnya sibuk berkacak pinggang dan duduk manis di atas kursi dan sofa empuknya di istana negara.

Saya mendengarkan lantunan lagu dari John Lennon yang berjudul Imagine. Coba perhatikan liriknya dan resapi sepenuh hati. Saya rasa, itulah definisi bahagia. Itulah impian semua manusia. Tidak ada salahnya untuk bermimpi. Namun yang membuat salah adalah kita hanya berani bermimpi namun tidak bernyali untuk mewujudkan.

Apakah hanya saya, satu dari tujuh miliar penduduk di dunia ini yang murni memimpikan dunia yang damai dan bahagia? Apakah hanya saya, yang lelah dan pura-pura buta tuli, pura-pura tidak peduli dengan kondisi dunia ini? Apakah masih ada harapan bagi dunia ini untuk menyentuh hidup bahagia dan sejahtera? Apakah hanya saya yang mau mengubah dunia disaat yang tepat buat saya? Apakah masih ada cinta dan harapan buat semesta?

"People killin' people dyin'
Children hurt and you hear them cryin'
Can you practise what you preach,
and would you turn the other cheek?
Father, father, father help us,
send us some guidance from above.
'Cause people got me questionin'
Where is the love?"

Love and hope,

Maria Clara Putri Deanty.

No comments:

Post a Comment