Friday, 28 September 2012

Jatuh lagi

"Mengapa cintaku begini? 
Selalu kuditinggal pergi
Apakah ini takdirku?"
Tompi-Lulu dan Siti

Saya datang dalam hidup kamu mungkin belum berapa lama. Ketimbang seseorang yang katanya telah lama kamu pinang. Dari awal berjalan cukup menyenangkan dengan hubungan sebagai teman. Tapi lama kelamaan, ada pula rasa lain yang terkuak dalam benak. Rasanya enak, dan mungkin lama kelamaan membuat stupa hati saya melunak. Memang, cinta tak kenal memilih. Bahkan untuk dua kepala yang belum  pernah bertatap muka. Makin kesini memang harus diakui kalau saya telah jatuh hati.
Buktinya?
Setiap sapamu atau balasmu dalam Blackberry Messenger-ku, apapun itu, kerap membuat saya tersenyum simpul dan pipi merona karena malu. Mama saya mengatakan kalau saya seperti orang sinting, karena senyum-senyum sendiri dengan tatap mata memicing. 

Tapi lagi-lagi, belakangan saya ketahui, bahwa saya kembali cinta sendiri. Dan semua yang kamu lakukan, tak ada maksud untuk memberi harapan -- apalagi sampai pacaran. Hingga semalam saya menarik kesimpulan, bahwa kamu cuma mau jadikan saya teman. 
Setidaknya saya tidak sakit-sakit amat. Walau rasanya langsung penat dan menganggap bahwa jatuh cinta hanyalah kenikmatan sesaat. Mungkin malam ini saya mau hentikan pendarahan di hati yang tentunya saya buat sendiri. 
Camkan:
Saya enggan mencintai lagi.
Saya mau mati rasa dan mengekang perasaan supaya jangan kelepasan. Kelak saya akan nyaman dengan kesendirian. Kelak saya akan merasakan kebahagiaan berkat hal yang saya patri dari usaha dan keringat sendiri.

Tapi yang mengundang marka tanya adalah mengapa selalu saya yang begini? Karena saya terlalu lama mengendap tenggelam dalam sendu, berenang di teluk air mata, dan kemudian mengambang di atas permukaan mata pdang. Saya mau mencintai untuk mencari kebahagiaan sejati. Tapi yang terjadi malah tersedak air mata sendiri.


Salam sesak bingung linglung,


26 September 2012
9.30 pagi, pelajaran Sejarah kelas XII Bahasa

Sunday, 16 September 2012

Diliputi Kebimbangan?

Salam Astuti!
Jadi malam ini, saya menyempatkan diri untuk menulis lagi, mencurahkan apa yang sekiranya saya rasakan dari lubuk hati terdalam. Agak klise, memang. Tapi ya lebih baik saya tumpahkan disini, barangkali ada yang baca dan mau mencoba untuk memberi saran dan bawa saya berani untuk menghadapi kenyataan. Ketimbang saya harus ceritakan kepada orang-orang, yang mungkin akan merasa disusahkan dengan problematika saya. 
Saya awalnya merasa kalau hidup saya ada diatas. Saya merasa senang, ya karena beberapa alasan. Saya kira saya sudah akan menemukan seseorang yang tepat. Namun rupanya, perkiraan saya meleset jauh dari keadaan. Saya hanya diberikan harapan, tapi semuanya semu dan tidak kejadian. Jadi saya bergeming dan termangu mengecap dan menelan pahit-pahit kenyataan. Katanya, sepasang insan saja bisa saling jatuh cinta walau belum tatap muka, tapi mana buktinya? Apa hanya sekedar kiasan dan pemberi harapan saja? 
Sudahlah.
Someday, I'll probably stop hoping for anything. 

Baru saja kemarin saya merasa bahagia. Saya merasa ada seseorang yang memperhatikan saya. Yah, sekedar hanya mengingatkan, "jangan lupa makan ya." Atau, "temen-temen lu cewek ngerokok? Lu jangan ikut-ikutan ya!" Atau, "jangan diet-diet lah, nanti sakit loh." Dan segala macam bentuk perhatian.
Apa itu perhatian yang bisa didapatkan dari seorang teman biasa?
Bagaimana kalau saya terlanjur jatuh dalam cinta?
Entah, tapi ibu saya pernah berkata kalau saya itu terlalu gampang memberi rasa. 

Saya juga kerap kali melantunkan sebuah tembang dari Adera yang judulnya "Terlambat", dan beginilah liriknya:

Andai saja waktu itu tak ku tunda
Tuk ungkapkan isi hati kepadanya
Mungkin dia jadi milikku, bahagiakan hariku
Oh tetapi kenyataan tak begitu
Di saat ku mencoba merajut kata
Dan berharap semua jadi sempurna
Tiba-tiba ada yang lain yang mencuri hatinya
Hilang sudah kesempatanku dengannya

Terlambat sudah semua kali ini
Yang ku inginkan tak lagi sendiri
Bila esok mentari sudah berganti
Kesempatan itu terbuka kembali
Akan ku coba lagi

Cukup sudah kesalahan kali ini
Jangan sampai semua terulang kembali
Keraguan dalam hatiku harus ku buang jauh
Bila ingin mendapatkan yang terbaik

Terlambat sudah semua kali ini
Yang ku inginkan tak lagi sendiri
Bila esok mentari sudah berganti
Kesempatan itu terbuka kembali
Akan ku coba lagi

Pengalaman pahit yang ku jadikan pelajaran
Dalam hidup yang tak akan terlupakan (terlupakan)
Oh jangan menunda sesuatu untuk dikerjakan
Jangan tunda jangan tunda

Terlambat sudah semua kali ini
Yang ku inginkan tak lagi sendiri
Bila esok mentari sudah berganti
Kesempatan itu terbuka kembali

Terlambat sudah semua kali ini
Yang ku inginkan tak lagi sendiri
Bila esok mentari sudah berganti
Kesempatan itu terbuka kembali
Akan ku coba lagi hooo akan ku coba lagi



Mungkin memang dia belum ada yang punya. Tapi yang jelas, hatinya sudah ada yang memiliki. Dan dia juga sudah ada tambatan hati. Sayangnya, itu bukan saya. Sudahlah. Saya harus menyerah. Saya tentukan arah sajalah.

Salam kesedihan yang mendalam,

Friday, 14 September 2012

Intermezzo #1










































Perempuan usia 17 tahun ini sudah banyak berubah.
Semoga perasaannya bisa  berubah juga.
Kelak
Tauk kapan.

Lihat, dengarkan, rasakan.

Waktu itu saya pernah coba membuka hati setelah dicampakki. Kemudian saya menemukan bahwa saya jatuh dengan orang yang salah. Memang, cinta datang tak bilang-bilang. Cinta datang dan berkembang tanpa isyarat dengan siapakah hati saya kelak berlabuh. Jadi, kalau suatu saat saya patah hati, saya tidak bisa dan tidak boleh mengeluh.

Saya pernah kehilangan, dan saya pernah terpuruk dan terseok dipasung dalam kenangan. Bukankah telah saya katakan, bahwa kenangan nantinya akan menyesakkan? Mungkin detik ini, kau yang sedang berpacaran tengah bercumbu dan memadu kasih. Dan dengan kebodohan masa mudamu, kau dan kau, dua belah insan, akan mengatakan bahwa kalian takkan terpisahkan. 
Tapi izinkan saya memperingatkan, bahwa kelak kan datang masanya kalian akan berjalan sendirian, tanpa ada lagi tangan-tangan yang saling menggamit, dan siap selalu untuk ucap kata pamit.


Mungkin hanya sekedar traumaku akan cinta, tapi apa mau dikata, saya harus terus menghimbau agar tiada lagi orang galau. Saya lelah mantengin timeline manusia-manusia risau -- tentunya di Twitter. Walau saya sering pula mengirimkan curahan hati saya di jejaring itu.

Saya menggalau bukan tanpa pilar dan kelakar, tapi ada sesuatu dalam batin saya yang meronta minta dibeberkan dengan berkoar-koar. Saya -- pada intinya -- hanya mau menikmati waktu saya yang sendu dinaungi riak angkasa kelabu, dengan tangisan dalam hati yang menggebu.

Beberapa kali memang saya merasa gamang. Karena masa lalu kadang suka saya pandang. Saya sadar, tak seharusnya saya melukai diri saya sendiri dengan memori yang merajam bak sebilah pedang. Kalau sudah terbersit, sepintas bayang-bayang kenangan, segeralah saya mencari secarik kertas dan pena tinta hitam. Biar luka lebam di dalam bisa saya korek-korek dan menjerit dalam diam.

Ah, sudahlah.
Demikian malam ini saya bergeming di hadapan layar.
Pikiran saya tentang kesedihan baru saja buyar.

Salam harapan kosong yang saya rogoh dari kantong,

Inspirasi menengah


Kala cinta menyapa, otak tak mampu lagi berkuasa. Kadangkala, atau mungkin seringkali, semua dilumpuhkan oleh cinta. Cinta memang maha pengampun, namun mencintai juga sakitnya minta ampun.

Cinta memang tak kasat mata. Tapi sejoli atau sendiri mengerti, bahwa cinta itu cantik. Tapi tak ada yang mampu pungkiri bahwa cinta itu pendatang konflik. Memang, tak selalu yang cantik itu baik.

Perkenankan saya kaitkan luka dengan kenangan, hasil karangan si cinta. Luka tercipta karena adanya gesekan dan sebuah kecanduan yang amat sangat, dengan sesuatu yang namanya menahan kerinduan. Rindu yang tak terungkap hanya akan menambah beban. Jadi, kata siapa rindu itu indah? Coba rasakan.

Bagaimana dengan kenangan?
Apakah kenangan akan selalu mengindahkan dan menentramkan?

Kenangan hanya manis bila dilumatkan ketika kau masih bersama pasangan. Giliran kalian telah saling melepaskan, apalah arti kenangan apabila hanya membuat tersedu-sedan?

Luka dan kenangan.
Simfoni dan kesatuan mutlak yang diciptakan oleh dua insan yang kecanduan dan kasmaran. Bila kenangan itu umumnya indah, namun ingatlah, kita hidup untuk mengubah; bukan balik arah.

Salam hangat dari saya yang penat,


Jadi, selamat datang, September


Ini saya. Saya kembali menulis segalanya dalam secarik kertas bekas yang saya dapatkan dari seorang karyawan sekolah, kerjanya di balik meja administrasi kepala sekolah. Saya hanya menuangkan semuanya disini, mungkin kelak bisa menjadi inspirasi saya dalam mengawali awal bulan kesembilan ini. 
Ya.
Ke sembilan.
Sudahlah, masa lalu ya pantasnya dilupakan. Usah lagi dikenang. Saya sudah enggan memandang. Lebih baik saya berdendang sendiri, senandung kidung masa mendatang.


Salam dingin dari saya yang sedang masuk angin,


Deanty

Sekedar elegi; mungkin romansa


Hanya sekedar untaian kata, dari tiga sahabat yang kala itu hatinya tengah dirundung luka.
Beginilah kami, remaja haus cinta yang diselimuti kalut,
dan berharap
semoga hidup kami berhenti dihantui kemelut.