Tuesday, 1 April 2014

Laku ajak.


Malam ini nampaknya saya dibelenggu ragu. Saya kesulitan menarik nafas hingga sedalam-dalamnya. Barangkali karena hidung saya tersumbat, dan hati saya juga sedang mengalami penyumbatan, mungkin? Entah. Karena rasanya, sepertinya, saya kok mati rasa. Saya menatap jauh menembus awing-awang. Menerka-nerka. Mencoba mencari secercah jawaban yang mungkin bisa saya dapatkan. Saya sudah menempatkan diri saya dalam bahagianya sendiri. Dan untungnya, belum pernah saya merasa sepi.
Tapi beda malam ini.
Saya telah lama berhenti menghisap rokok. Saya berhenti membutuhkannya. Saya merasa, banyak hal lain yang lebih patut saya pertahankan disbanding dengan kebiasaan saya merokok. Saya lega. Tapi di satu sisi, tidak ada lagi yang memuaskan paru-paru saya. Not even a fresh air. Saya berhenti menjadi pecandu rokok dan mulai menenggak air putih sebanyak-banyaknya. Saya berhenti. Saya berhenti dari semuanya. Saya berhenti menjadi diri saya yang dahulu. Apa mungkin, ini semata-mata karena…..? sudahlah. Biarlah berlalu. Biar dimakan masa lalu. Biar ditiup angin sendu. Dan jangan lagi meneteskan air mata apabila tidak perlu.
Saya sepertinya hendak menulis obituari saya sendiri. Tanpa bantuan orang lain. Karena hanya saya yang mampu memahami. Bukan kehendak apalagi opini main-main. Saya hendak menulis dengan hati yang tulus ikhlas. Tanpa ada sedikitpun rasa yang bisa melelahkan jiwa dan raga. Biarpun saya baru berusia 18 tahun, saya tetap merasa bahwa ini ada perlunya. Saya berfikir terlalu jauh. Dan saya tidak peduli. Saya tetap berlari di atas semak berduri. Di atas bara api. Hingga nanti, mungkin kaki tiada berbentuk lagi.
Saya tertawa. Saya menertawakan seluruh isi obituari saya. Saya kemudian merasa bahwa hidup saya itu sepertinya tidak berguna. Bagi siapa-siapa. Karena saya selalu memberi lebih dan mendapat kurang. Saya berharap tinggi dan dibalas rendah. Ada apa dengan diri saya? Saya tidak tahu menahu, maka saya tertawa. Sendiri. Biar orang kata saya sakit jiwa. Biar orang bisik-bisik saya tidak lagi waras. Tapi biarlah, karena saya bahagia. Bahagia dalam kesendirian saya. Bahagia dalam dunia saya.
Kalau boleh saya mengulang kembali apa yang terjadi pada saya dari awal lahir sampai kemudian mati, saya mau nama saya bukan Maria Clara Putri Deanty. Saya senang dulu orang tua saya sempat ingin memberi nama Dear Amara Ayu Deanty. Kenapa tidak jadi? Itu yang saya pertanyakan. Karena saya merasa tidak pantas menyandang nama Maria Clara Putri Deanty. Entah mengapa. Saya juga bingung. Sepertinya, saya memang kurang bersyukur. Dan lagi, saya hanya tertawa.
Saya menertawakan seluruh kehidupan saya. Saya menertawakan kesedihan saya dan menangisi kebahagiaan saya. Belum banyak makan asam garam, memang. Tapi cukuplah untuk saya. Bagi saya buat bersandiwara dan menjadi pemeran utama dalam teater hidup saya. Saya mencoba memainkan peran saya dengan sempurna, hanya saja, kata orang sempurna hanya milik Tuhan. Dan saya sayangnya bukan Tuhan. Saya cuman salah satu dari ciptaanNya. Yang tentunya, tidak sempurna.
Saya mencoba memejamkan kedua bola mata saya rapat-rapat. Menahan nafas. Agar mungkin malam ini, tubuh saya kaku dan membiru. Dan semua ragu hilang; tak bersatu.