Thursday, 29 August 2013

Purwarupa Dini Hari

Dengan mencipta asa diselingi jutaan kemelut membalut raga, mungkin saya tiada mampu lagi bertutur kata. Mengucap berbagai bahasa, berlari dari hujatan ribuan aksara, dan entah bagaimana sepertinya saya lelah mencari dan menggali. Ini memang bukan dini hari, tapi saya merasa ilham tak sedang produktif layaknya saya di pagi hari, ketika cicit dan kokok unggas menggoncang saya dari alam bawah sadar yang tak saya minta di atas kasur.
Tiap saya mendengkur, saya melengking. Setiap lengkingannya berarti segalanya. Setiap dengkurannya mengartikan, bahwa saya kelelahan. Setiap hembusan nafasnya, mengartikan saya masih disertaiNya. Dan entah mengapa, apa ini hanya halusinasi atau memang saya sudah bangun dari gulita pekat mendalam? Sehingga saya diseret ke depan meja lembayung, yang membuat jari saya menari di atas keyboard laptop. Yang membuat saya menumpahkan isi relung hati. Mungkin bukan yang terdalam, dan jelas bukan yang pertama. Tapi disinilah saat dimana saya belajar, bahwa hati tak bisa pakai nalar.
Hidup sebagai mahasiswi di kota orang membuat saya mandiri. Membuat saya belajar, bahwa tiada lagi interdependensi. Bawah yang ada hanyalah independen, dimana saya harus berdikari. Belajar kuat. Belajar memahami. Belajar untuk taat. Belajar untuk selalu ingat siapa yang menunggu dan siapa yang mencintai di ribaan kotanya Jokowi. Demikian alasan saya mengapa saya masih tegar dalam menapaki alur hidup yang dipatri oleh Dia. Demikian alasan saya mengapa saya masih mencintai hidup saya. Mengapa saya masih mencintai setiap detik yang Dia berikan.
Ah, andai.
Rindu yang tengah menelanjangi diri tak kian mencipta nelangsa. Karena buat saya, setiap detik berharga apabila saya bersama dia. Beberapa malam hebat yang pernah saya lalui belakangan memang berakhiran dengan isak tangisan. Sesunggukan. Sampai rasanya saya membatin, "saya mau mati aja." Tapi Dia belum kasih saya akhirat. Saya masih disuruh catwalk di runway yang Dia pahat buat saya. Saya catwalk pakai stilleto 20 cm, dengan runway yang berkerikil tajam. High risk, but no life has no risk. Jadi saya hargai juga Dia, yang menyuruh saya jadi satu dari sekian miliar modelnya.
Saya ditenggelami juga dengan samudera obligasi. Yang saya dapat karena saya menjadi mahasiswi HI. Begitu banyak, begitu membuat saya tiada mampu melawak. Sebab ini yang harus saya jalani, kalau saya jadi mahasiswi. Semua serba sendiri, selama saya bisa atur dan jaga diri.
Saya rindu keluarga. Ada papa, mama dan Anya. Saya rindu kekasih, John Tampubolon. Saya rindu Bekasi, yang telah seumur hidup menjadi tempat saya asuh asah dan asih. Dan kini setelah berapa lama saya mengalirkan aksara Romawi bermakna Indonesia, saya merasa agak lelah. Dan mungkin ini akan kian saya jadikan pelarian. Ya semacam Senayan. Biar saya bisa merasa lega dan tiada lagi sendiri, walau pasti tak ada yang mematungkan pandangannya pada laman ini lagi. Selain Maria Clara Putri Deanty.


Bandung, 30 Agustus 2013
06.49 AM
with a cup of Pop Mie and bottles of water.
#NowPlaying Craig David - Don't Love You No More


Tempat kejadian perkara

Wednesday, 28 August 2013

Masih sama, masih soal rasa

Sekian lama mungkin saya tidak mengguratkan isi hati dan nurani saya di sini. Sekian lama juga saya tak jackpot curahan-curahan pribadi yang tak penting lagi. Karena kini toh sudah berubah. Dan perkara masih sama, masih soal rasa.
Beberapa waktu lamanya saya menumpahkan segalanya dengan sebatang pena dan buku harian. Yang mana mungkin ada baiknya di kala senggang saya pindahkan ke dunia maya, dunia yang tidak fana. Kala saya merasa semua manusia berubah, saya kumandangkan lagu Oasis yang berjudul Champagne Supernova.

"How many special people change? How many lives are living strange? Where were you while we were getting high? Slowly walking down the hall, faster than a cannon ball. Where were you while we were getting high?" 

Kenapa?
Entah saya merasa semua insan nuraninya kian tak sesuai. Entah saya merasa mungkin hati saya yang memuai. Atau realita yang oleh mimpi dibuai. "Why, why why why....?" 
Karena keterbatasan saya memahami, saya hanya berani mengilhami sendiri. Hingga rasanya sesak di hati dan perih di duniawi. Saya mulai berhalusinasi. Saya rasanya mulai ingin terbang ke dunia lain yang mungkin tiada insan pernah menapaki. Biar saya yang perawani. Biar saya yang menjajaki. Biar apa sih? Biar saya bisa bersih. Biar saya bisa kabur. Biar saya bisa berhenti ngelindur. Biar saya bisa berhenti sejenak dari penat. Biar saya rehat. Biar saya istirahat. Biar biar biar biar.....

Syahdan beberapa waktu yang lalu, ketika jantung saya dipacu waktu dan deru nafas kian memburu, ketika durasi menjajah nurani dan basah peluh kian membanjiri, saya berniat menulis puisi. Atau mungkin aksara dan kosakata basi? Bukan. Bukan puisi rupanya. Sejenis prosa. Atau apa ya? Kumpulan kata-kata? Bermakna? Biar saya dan Yang Esa yang jadikan ini semua rahasia.

"Diambang gamang dan gelisah. Betapa diguyur asam rindu yang kemudian menyengat kalbu. Jantung hatiku kemudian terpacu. Bak diburu waktu kulantangkan 'aku rindu kamu'. 
Durasi yang menghujam tiada henti mengelabui. Bahwa lama-lama rasa ini tiada mampu dimadui. Saya memutar-mutar bola mata sampai enggan berkedip lagi. Ingin memicu durasi. Enggan dilahap gundah gulana jiwani. 
Huh. Hah. Huh. Hah.
Hela nafas memburu. Mungkin kini ku tiada lagi paru-paru. Sebab tiap tarikan dan hembusan, dada ini kelu. Membiru. Kemudian temaram bak lampu malam. 
Statis.
Tiada menampik fakta realistis.
Hahahahahaha. Gelimpangan gelakan miris.
Hiks hiks hiks hiks. Lalu saya menangis. 
Riak angkasa mulai mengilar. Mengguyur daratan tempat berpijak.
Membuat ilham saya buyar.
Tapi entah, bayangmu justru semakin nampak."

Begitulah. Satu dari sekian banyak. Masih sama bukan? Masih soal rasa. Melankolis. Tukang nangis.