Sunday, 28 October 2012

"I've been looking so long at these pictures of me"









....that I almost believe that they're real.

Bicara soal hasrat...

Manusia itu bisa berubah. Iya kan? Siapa yang nggak setuju sama pernyataan itu. Karena manusia sifatnya labil, sedewasa apapun kepribadian manusia itu. Dan sekarang, saya lagi merasakan hal itu. 
Dari awal, mungkin saya sudah menggebu-gebu soal cita-cita saya yang mau jadi jurnalis perang seperti Kate Adie atau editor in chief Vogue seperti Anna Wintour. Atau seperti tokoh khayalan saya, seorang jurnalis dari film Superman yaitu Lois Lane. Atau seperti reporter andalan Indonesia, yaitu Tina Talisa. Tapi belakangan ini, saya merasa kalau dunia saya bukan di dunia jurnalistik. Entah kenapa saya merasa seperti itu. Padahal hati telah mantap untuk menjadi jurnalis;
yang bisa merubah dunia lewat kata-kata;
yang bisa memporak-porandakan sistem pemerintahan dengan pemberitaan;
yang bisa mengacak-acak muka pemerkosa martabat manusia dengan pers;
yang bisa menyuarakan
apa yang rakyat teriakkan.

Kemudian, saya termenung dalam bising. Dan saya bertanya pada diri sendiri, "De, yakinkah kamu bahwa ini semua yang kamu mau?"


Dan pertanyaan itupun masih belum bisa saya jawab. Karena saya masih menyimpan segudang pertanyaan dan hasrat lain yang saya kubur di dalam hati saya. Saya yakin kalau saya suka menulis. Saya yakin kalau saya suka berkarya dengan apa yang berkeliaran dengan liarnya di otak saya. Saya yakin kalau saya suka menganalisis keadaan. Saya yakin kalau saya tertarik dengan kriminalitas.Tapi satu yang paling saya yakin: saya itu jarang sekali nonton berita terkini. Dan hal itulah yang membuat saya semakin heran: betulkah saya ingin menjadi wartawan? Atau sekedar ingin menjadi hartawan? Bingung juga kan?
Kemudian saya bertanya sama sahabat-sahabat saya, "menurut kalian, gue tuh pantesnya jadi apa sih? gue merasa disorientasi diri nih. lagi galau sama cita-cita. takut selama ini bilang gue suka jurnalistik, nyantanya nggak terlalu into it." Tapi semua teman dan saudara tetap keukeuh dengan jawaban, kalau saya memang 100% cocok dan sudah mantap jadi jurnalis dan ambil kuliah komunikasi. 
Sebenarnya, sederhana saja. Saya hanya ingin mengubah dunia. Saya ingin melihat semuanya dari cara pandang saya yang berbeda. Saya hanya tidak ingin ikut-ikutan orang semesta. Yang maunya diperintah tanpa berani menggelengkan kepala.
Semua tentang saya.
Semua tentang saya-dan dunia.

Yang menggebu-gebu....

Saya pernah sekali jadi model di majalah Hai, bulan Juli 2012. Saya diwawancarai oleh seorang jurnalis yang bernama Muhammad Iqbal, saat itu dia lagi magang jadi jurnalis di Hai dan dia adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran. Universitas impian saya. Saya diwawancarai soal cita-cita saya. Dan tentunya, saya jawab jurnalis. Sampai jadilah di media cetak tersebut terpampang wajah saya dengan sedikit ulasan tentang profil dan cita-cita saya mengenai jurnalis. Hingga judulnya saja: "DEA: JOURNALIST WANNABE" 




Kemudian saya juga sering menulis, entah puisi, entah essay, entah pidato, entah cerpen. Yang semuanya hanya menjadi rongsokan di flash disk merah saya. Karena saya tidak pernah berani menunjukkan ke siapa-siapa. Saya suka menulis. Tapi saya mau menulis apa yang saya suka. Bukan hanya sekedar realita. Tapi saya harus suka. Saya harus rasa. 
Saya mau coba menulis; berita. Menulis apa yang sekiranya jadi pembicaraan dan concern orang banyak. Tapi lagi-lagi, saya masih egois. Saya maunya menulis apa yang menjadi ketertarikan pribadi saya semata. Saya mau menulis apa yang tak pernah diungkapkan banyak orang. Saya mau menulis kenyataan yang tidak terelakkan, yang juga menjadi jeritan, tapi masih disembunyikan.
Itu yang jadi hasrat saya. 

Masih yakin kok
kalau sudah dewasa
kelak jadi seperti mereka.


Anna Wintour



Tina Talisa



Kate Adie




Lois Lane

Saturday, 27 October 2012

Kenangan Pekan Lalu

Yah, telah genap sepekan dari luka batin yang belum kunjung mengering dan mengelupas. Sepertinya batin saya mengidap hemofilia. Dan itu baru. Semua karena kamu. 



Cukup membuat risau.
Be right back.
Hendak ambil pisau.

Friday, 26 October 2012

-




Au revoir, Captain Whisky.
Have a safe flight.



Ouch ouch













But COME ON!


Ouch


Ya. Saya menulis lagi malam ini. Setelah segala kegilaan dan kesakitan hati yang melanda belakangan ini. Rasanya saya belum sanggup untuk menyusun semuanya dalam untaian kata-kata, yang tentunya takkan pernah ada yang membaca. Biarkan di sini, di laman ini, menjadi tempat dimana saya bisa berteriak. Tanpa harus menorehkan penyesalan atau bahkan umpatan, dari pihak yang merasa saya sebut-sebut disini. Walau pada nyatanya, sebut namapun saya tak ada nyali. Langsung sajalah.
Pertama-tama, mungkin Anda yang kebetulan sepintas melihat post ini kerap bertanya: mengapa judulnya ouch? Memang tak ada judul lain?
Hahaha, mari saya jawab saja daripada Anda yang baca mati penasaran. Saya rasa, kalau saya judulkan post ini dengan nama "Sakit", itu akan terkesan biasa saja. Karena memang yang saya rasakan lebih dari sakit, sehingga untuk berteriakpun sulit. Jadi lebih baik hanya sedikit erangan yang tak sampai semenit. 
 
OUCH.

Praktis dan lebih bisa ditolerir kan? Ya sudahlah. Intinya yang mau saya beri gambaran dalam post malam ini adalah betapa kecewanya saya dengan seseorang yang menghancurkan harapan saya seketika. Ya, mungkin memang dia tidak bersalah. Karena bisa saja dia semenjak awal tidak bermaksud memberikan harapan. Namun saya saja yang selalu kegeeran. Jadi ya sudah. Sakit hati ditanggung sendiri, tak usah membebani. Dia juga sudah hepi-hepi. Jangan dipusingkan lagi. 
Kali ini, saya kehilangan kepercayaan saya pada ucapan laki-laki. Bibirnya memang manis, tapi arti kata-katanya hanya akan menuai tangis. Percaya. Sudah terlampau sering sepertinya saya merasa sakit karena itu. Dan herannya, mengapa saya tak kunjung mati rasa? Tuhan, saya tidak minta mati raga. Saya cuman pinta dari dulu: buat saya mati rasa. Tapi sialan, Tuhan tidak mendengarkan. Apalagi dikabulkan.
Kalau saya cerita dengan seluruh kawan saya mengenai keadaan hati saya ini, semuanya pasti akan mengumpat dan bilang, "Gila, De. Bajingan tu orang." Tapi saya cuman bisa tersenyum simpul dan berkata, "ya sudahlah." Dan semua kawan saya hanya meminta saya untuk menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran, dan bilang, 

"De, jangan terlalu mudah jatuh cinta. Semua laki-laki itu sama hakikatnya. Move on ya, De."

Begitu sih kata yang perempuan. Tapi kalau yang laki-laki, 

"De, jadikan ini pelajaran. Ikan di laut banyak. Jangan terlalu mendekam dalam kesakitan dan kesedihan. Si dia; dapet tangisan lu juga nggak layak."

Ingin rasanya saya post semua printscreen konversasi saya dengan manusia itu. Tapi bagaimana ya? Rasanya tidak manusiawi dan tidak layak untuk dipertontonkan. Toh yang sakit hati dalam kasus ini hanya saya. Saya yang merasa. Saya yang perlu membuat rasa ini sirna. Karena semenjak awal, dia tak pernah ada cinta. Maka dari itu, izinkan saya bersenandung kecil dalam tulisan.

"Mengapa cintaku begini?
Selalu ku ditinggal pergi,
apa mungkin ini takdirku?
Menjadi jomblo sejati."
Tompi-Lulu dan Siti


"Akhirnya, kini aku mengerti
Apa yang ada di pikiranmu selama ini
Kau hanya ingin
permainkan perasaanku.
Tak ada hati, tak ada cinta."
D'Massiv-Apa Salahku? 


"Selama ini aku salah mengartikan
maksud di balik hatimu.
Selama ini aku anggap engkau benar-benar cinta kepadaku
Dan akhirnya ku tahu
kau tak mencintaiku."
Nafi - Buta Hati

"Our love was lost
But now we've found it
Our love was lost
And hope was gone."
The Temper Trap-Love Lost


"I've been looking so long at these pictures of you
That I almost believe that they're real.
I've been living so long with these pictures of you
That I almost believe that the pictures are
All I can feel."
The Cure - Pictures of You


"at least i'd lose this sense of sensing something 
else that hides away
from me and you
there're worlds to part
with aching looks and breaking hearts
and all the prayers your hands can make
oh i just take as much as you can throw
and then throw it all away
oh i throw it all away
like throwing faces at the sky
like throwing arms round
yesterday
i stood and stared
wide-eyed in front of you
and the face i saw looked back
the way i wanted to
but i just can't hold my tears away
the way you do"
The Cure - A Letter to Elise

Tuesday, 16 October 2012

Buat kamu yang baru pergi. Ya, semuanya.
















"Hati kamu udah nggak disini lagi. Baik-baik ya......"

Sepucuk Surat Hasil Pedih yang Menyayat

Yang saya karang satu pekan lalu...

Saya benar-benar heran dengan perasaan ini. Bagaimana ya? Mungkinkah rasa ini adalah cinta? Atau hanya sekedar butuh perhatian semata? Sungguh, saya tak kunjung paham. Kalau nanti pada akhirnya saya dan kamu tidak bersama, pasti saya tak hanya sekedar menangis. Melainkan pula teriris. Karena sepertinya saja, saya dan kamu sudah agak jauh. Walau bertatap mukapun belum.
Mungkin benar apabila hakikat cinta tak pandang mata. Mungkin benar pula kalau cinta tak butuh raga. Yang penting rasa.
Sekarang begini saja. Saya dan kamu sudah lama ada hubungan. Walau entah saya saja yang punya ketertarikan sedangkan kamu menganggap saya sebagai teman. Kita memang belum pernah mengucap saling suka. Tapi, bukankah cinta tak perlu kata-kata? Sebab yang saya tahu, ia hanya perlu untuk jadi nyata.
Sekarang kepala saya hanya diliputi tanya dan gamang: pernahkah saya terlintas di benakmu, sayang? Atau saya hanya sekedar bayang-bayang?
Yang jelas, apabila saya boleh jujur, saya sudah menanam banyak harap. Walau tak tahu kelak menuai bahagia ataukah kertak gigi yang tak tercerap? Pada intinya, saya hanya mau mengakui: sungguh, saya ada hati.




Yang baru saya tulis tadi pagi saat Jose Rizal memberikan presentasi tentang puisi.

Nah, kalau sekarang sudah jelas. Kalau perasaan saya ke kamu itu sungguhlah suka. Tapi nyatanya, dan sayangnya, selama ini kamu hanyalah sandiwara. Jangan pernah bertutur kalau kamu selama ini ngelantur, terus sekarang malah kabur. Saya memang naif, tapi bingung juga; entah sepertinya pula pura-pura bodoh. Karena saya sekarang hanya mengelus dada sendiri dan berbisik terus-menerus ke cuping telinga sendiri, "makanya, mati rasa."
Ah, kalau saja saya tidak pernah kenal sama kamu. Saya pasti tidak akan patah hati dan lalu mati kutu. Sekarang yang saya mau adalah memutar waktu, dan kembali pada masa itu: di hari saya kenal sama kamu. Sekarang juga saya hanya mengusap air mata dalam pilu. Terus saja menangis tersedu-sedu.
Mau tahu rahasia?
Saya sebenarnya masih sering membaca konversasi kita yang pernah ada dan tercipta. Sayangnya, seluruhnya hanya sebatas kata, bukan rasa (bagi kami tentunya) 
Begini saja: saya sama kamu itu....bagaikan puisi dengan prosa.
Tahu bedanya?
Saya puisi,
kamu prosa.
Puisi merasakan,
prosa memaparkan.