Kalau boleh jujur, ini bukan sekedar pemikiran random atau apalah. Tapi ya yang memang benar-benar jadi kemelut dan nelangsa di hati saya. Bagaimana tidak? Sudah belakangan ini saya menyembunyikan perasaan saya bahwa sebenarnya saya menginginkan sesuatu yang saya tahu pasti, hanya akan menimbulkan perkara lagi. Jadi ya sudahlah, memang saya yang harus berkorban kok. Daripada ambil resiko dan kemudian menyesal.
Biar saya bungkam.
Supaya tiada yang paham.
Wednesday, 9 October 2013
Saturday, 5 October 2013
Menyingkap Tabir Realita dari Sebuah Rangkaian Aksara
Siapa bilang manusia tak mampu prediksi masa depan? Siapa bilang insan yang menyuratkan aspirasi dan pikiran dalam sebuah karya tiada bermakna? Karena saya sendiri akhirnya turut berduka dan menangis sesunggukan ketika saya menyadari, bahwa apa yang pernah saya aspirasikan berbuah realita.
Awalnya saya memang hanya sekedar memaparkan, karena saya kebingungan mencari partner dalam berbagi kisah dan apa yang ada di dalam kepala saya. Karena saya juga bingung, kemana saya akan bermuara apabila benang kusut di dalam otak saya tak segera dijabarkan. Hingga kemudian saya menyadari pula, bahwa ada makna dibalik sebuah pertanda.
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat menulis soal kematian. Saya sempat memaparkan betapa penasarannya saya dengan kematian. Saya sempat menyampaikan, bahwa saya ingin melihat dan saya bertanya-tanya "seperti apakah kematian?" Hingga akhirnya minggu lalu, Sang Khalik memanggil opa saya. Bagai disambar petir di siang bolong, saya harus merasakan dan terlarut dalam elegi dan ode kematian. Sebab, hari Minggu yang lalu (29/9), saya tengah mengikuti ospek jurusan, dan saya sedang sibuk karena saya adalah head delegation Myanmar kala itu. Dan kemudian ayah saya menelepon dan meminta saya untuk pulang ke Jakarta. Dengan alasan, "opa udah nggak ada kak..."
Glek.
Untung saya tidak blackout dan pingsan. Tapi saya kontan menangis. Dan saya nyesek. Seketika. Saya langsung mengambil travel tercepat kala itu dan saya meluncur ke Rumah Duka St. Carolus di Salemba. Dengan penuh tetesan air mata dan hati yang berantakan saya berlari ke bilik dimana opa saya disemayamkan. Saya tidak bisa berhenti menangis. Pasalnya, saya adalah cucu tertua di keluarga mama dan opa begitu menyayangi saya. Masa kecil saya, saya habiskan separuhnya bersama opa. Dan bagai mimpi dan petir di siang bolong, Tuhan tak segan memanggil opa dari tengah-tengah keluarga, Tuhan merenggut opa dari dunia, guna merasakan bahagia abadi di surga.
Saya hanya mampu merana selama 78 jam. Saya menangis tiada henti. Dan saya hanya bisa berdoa, semoga opa diberi tempat terbaik di surga.
Awalnya saya memang hanya sekedar memaparkan, karena saya kebingungan mencari partner dalam berbagi kisah dan apa yang ada di dalam kepala saya. Karena saya juga bingung, kemana saya akan bermuara apabila benang kusut di dalam otak saya tak segera dijabarkan. Hingga kemudian saya menyadari pula, bahwa ada makna dibalik sebuah pertanda.
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat menulis soal kematian. Saya sempat memaparkan betapa penasarannya saya dengan kematian. Saya sempat menyampaikan, bahwa saya ingin melihat dan saya bertanya-tanya "seperti apakah kematian?" Hingga akhirnya minggu lalu, Sang Khalik memanggil opa saya. Bagai disambar petir di siang bolong, saya harus merasakan dan terlarut dalam elegi dan ode kematian. Sebab, hari Minggu yang lalu (29/9), saya tengah mengikuti ospek jurusan, dan saya sedang sibuk karena saya adalah head delegation Myanmar kala itu. Dan kemudian ayah saya menelepon dan meminta saya untuk pulang ke Jakarta. Dengan alasan, "opa udah nggak ada kak..."
Glek.
Untung saya tidak blackout dan pingsan. Tapi saya kontan menangis. Dan saya nyesek. Seketika. Saya langsung mengambil travel tercepat kala itu dan saya meluncur ke Rumah Duka St. Carolus di Salemba. Dengan penuh tetesan air mata dan hati yang berantakan saya berlari ke bilik dimana opa saya disemayamkan. Saya tidak bisa berhenti menangis. Pasalnya, saya adalah cucu tertua di keluarga mama dan opa begitu menyayangi saya. Masa kecil saya, saya habiskan separuhnya bersama opa. Dan bagai mimpi dan petir di siang bolong, Tuhan tak segan memanggil opa dari tengah-tengah keluarga, Tuhan merenggut opa dari dunia, guna merasakan bahagia abadi di surga.
Saya hanya mampu merana selama 78 jam. Saya menangis tiada henti. Dan saya hanya bisa berdoa, semoga opa diberi tempat terbaik di surga.
Tuesday, 10 September 2013
Random thoughts #1
Kadang nggak paham sama hidup. Kenapa Tuhan buat Bumi dan segala isinya? Kenapa Tuhan memberi kita nafas dan kesempatan hidup di dunia kalau ujung-ujungnya kita balik lagi ke pangkuanNya? Dan kenapa Tuhan memberi kita hati nurani supaya kita bisa mencintai orang lain dan diri sendiri kalau akhirnya semua harus pergi, dan kita yang mencintai akhirnya belajar untuk merelakan? Bener-bener nggak paham. It's truly the mystery of God.
Kenapa pagi ini gue ngepost kayak gini? Karena gue rasa lagi banyak banget yang udah berpulang ke ribaan surgawi di sana akhir-akhir ini. Gue lihat di Path, banyak yang ngepost keluarga atau kerabatnya meninggal. Dul, anak bungsu dari keluarga Maia-Dhani, baru kecelakaan dan menewaskan 6 orang dan 3 orang diantaranya namanya Agus. Apa sih yang dirasain sama keluarga dan orang-orang yang kehilangan mereka? Bukan berarti gue nggak pernah ngerasain kehilangan orang untuk selama-lamanya. Mbah gue, pakde, budhe gue udah meninggal beberapa tahun yang lalu. And I feel awful about it. Tapi apa yang dirasakan sama, let's say, pasangan hidup mereka? Atau keluarga inti mereka? Hancur? Probably yes. Tapi ya kembali lagi ke paragraf awal tadi. Kita yang mencintai pada akhirnya harus berusaha dan belajar untuk merelakan.
Lantas, kalau udah meninggal, kita bisa apa? Kita bisa membangkitkan mereka lagi dan memaksa raga mereka yang udah disfungsi total untuk menjalani kehidupan normal di dunia seperti kita umat manusia yang masih berpijak dan menapaki terjalnya batu kehidupan? Yea. I don't think so. Kalau udah meninggal, mungkin kesedihan dan kehancuran akan berlangsung beberapa lama aja. Tapi kemudian, semua akan kembali normal. Like nothing happens. And that's just one of million ways to move on and let everything go.
Yang kembali gue pertanyakan adalah: how it feels like to die? Rasanya apa sih? Sakit nggak sih? Dan apakah ada afterlife? Gue percaya akan adanya kehidupan setelah kematian. But, where? How it could possibly be like? Apakah sama aja kayak di dunia? Atau kehidupan setelah mati tuh lebih indah? No one knows.
Jujur, belakangan ini gue sering banget iseng nanya sama orang-orang yang lagi bercengkrama sama gue. "Makanan apa yang pengen lo makan sebelum lo mati?"
"Kalau disuruh pick 6 orang, siapa aja orang-orang yang pengen lo liat terakhir sebelum lo mati?"
"Lo pengen mati dengan cara apa?"
dan tentunya:
"Gimana ya rasanya mati?"
Kebanyakan orang merinding dan kayak langsung "De pertanyaan lo apaan banget deh?" atau minimal merinding dan ganti topik. Kenapa? Because they afraid of death. Kenapa semua orang takut sementara gue penasaran? Mungkin karena gue ingin menjawab segala pertanyaan retoris tersebut sendiri, dan tentunya gue kepo, kalau gue mati, gimana ya suasana pemakaman gue? Gue bakal pake baju apa ya? Yang jelas, I'd rather be cremated than buried. Gue udah pernah pesen sama cowok gue, sama sodara gue, kalau gue mati gue mau dikremasi dan gue pengen pake baju prom gue. Dan mereka semua nganggep gue udah gila dan nggak mau ngebahas itu.
Kenapa gue memilih untuk dikremasi? Karena gue mau semua orang bener-bener move on dan nggak mengunjungi makam gue tiap Paskah, Natal, ulang tahun gue, or whenever they feel like missing me. Dan gue berprinsip: manusia berasal dari debu, dan harus kembali ke debu juga. Kalau gue udah jadi abu, gue mau ditabur ke laut di Lombok. Atau dimanapun yang penting bukan Ancol. Kalau kangen gue, kan bisa sekalian liburan ke pantai, sunbathing, which in the end will lead them all to happy vacation and forget about mouning and sadness.
Terus pertanyaan dan pemikiran gue yang lain adalah: gimana kalau ternyata seluruh hidup kita ini ternyata cuma mimpi? Dan kalau kita mati itu berarti kita udah bangun dari tidur kita? Bingung kan lo? Yang ini masih samar-samar sih di benak dan pikiran gue. Yang jelas gue udah mengutarakan segala macem random thoughts gue seputar kematian. Bener-bener orang kurang kerjaan ya, libur kuliah sehari bukannya dipake bobo malah ngepost ginian. Bodo amat. I feel like I want to spit it out.
Bandung, 8.34 AM
Rabu, 11 September 2013 (11 tahun setelah kejadian di WTC USA)
With unlove, Deanty
Kenapa pagi ini gue ngepost kayak gini? Karena gue rasa lagi banyak banget yang udah berpulang ke ribaan surgawi di sana akhir-akhir ini. Gue lihat di Path, banyak yang ngepost keluarga atau kerabatnya meninggal. Dul, anak bungsu dari keluarga Maia-Dhani, baru kecelakaan dan menewaskan 6 orang dan 3 orang diantaranya namanya Agus. Apa sih yang dirasain sama keluarga dan orang-orang yang kehilangan mereka? Bukan berarti gue nggak pernah ngerasain kehilangan orang untuk selama-lamanya. Mbah gue, pakde, budhe gue udah meninggal beberapa tahun yang lalu. And I feel awful about it. Tapi apa yang dirasakan sama, let's say, pasangan hidup mereka? Atau keluarga inti mereka? Hancur? Probably yes. Tapi ya kembali lagi ke paragraf awal tadi. Kita yang mencintai pada akhirnya harus berusaha dan belajar untuk merelakan.
Lantas, kalau udah meninggal, kita bisa apa? Kita bisa membangkitkan mereka lagi dan memaksa raga mereka yang udah disfungsi total untuk menjalani kehidupan normal di dunia seperti kita umat manusia yang masih berpijak dan menapaki terjalnya batu kehidupan? Yea. I don't think so. Kalau udah meninggal, mungkin kesedihan dan kehancuran akan berlangsung beberapa lama aja. Tapi kemudian, semua akan kembali normal. Like nothing happens. And that's just one of million ways to move on and let everything go.
Yang kembali gue pertanyakan adalah: how it feels like to die? Rasanya apa sih? Sakit nggak sih? Dan apakah ada afterlife? Gue percaya akan adanya kehidupan setelah kematian. But, where? How it could possibly be like? Apakah sama aja kayak di dunia? Atau kehidupan setelah mati tuh lebih indah? No one knows.
Jujur, belakangan ini gue sering banget iseng nanya sama orang-orang yang lagi bercengkrama sama gue. "Makanan apa yang pengen lo makan sebelum lo mati?"
"Kalau disuruh pick 6 orang, siapa aja orang-orang yang pengen lo liat terakhir sebelum lo mati?"
"Lo pengen mati dengan cara apa?"
dan tentunya:
"Gimana ya rasanya mati?"
Kebanyakan orang merinding dan kayak langsung "De pertanyaan lo apaan banget deh?" atau minimal merinding dan ganti topik. Kenapa? Because they afraid of death. Kenapa semua orang takut sementara gue penasaran? Mungkin karena gue ingin menjawab segala pertanyaan retoris tersebut sendiri, dan tentunya gue kepo, kalau gue mati, gimana ya suasana pemakaman gue? Gue bakal pake baju apa ya? Yang jelas, I'd rather be cremated than buried. Gue udah pernah pesen sama cowok gue, sama sodara gue, kalau gue mati gue mau dikremasi dan gue pengen pake baju prom gue. Dan mereka semua nganggep gue udah gila dan nggak mau ngebahas itu.
Kenapa gue memilih untuk dikremasi? Karena gue mau semua orang bener-bener move on dan nggak mengunjungi makam gue tiap Paskah, Natal, ulang tahun gue, or whenever they feel like missing me. Dan gue berprinsip: manusia berasal dari debu, dan harus kembali ke debu juga. Kalau gue udah jadi abu, gue mau ditabur ke laut di Lombok. Atau dimanapun yang penting bukan Ancol. Kalau kangen gue, kan bisa sekalian liburan ke pantai, sunbathing, which in the end will lead them all to happy vacation and forget about mouning and sadness.
Terus pertanyaan dan pemikiran gue yang lain adalah: gimana kalau ternyata seluruh hidup kita ini ternyata cuma mimpi? Dan kalau kita mati itu berarti kita udah bangun dari tidur kita? Bingung kan lo? Yang ini masih samar-samar sih di benak dan pikiran gue. Yang jelas gue udah mengutarakan segala macem random thoughts gue seputar kematian. Bener-bener orang kurang kerjaan ya, libur kuliah sehari bukannya dipake bobo malah ngepost ginian. Bodo amat. I feel like I want to spit it out.
Bandung, 8.34 AM
Rabu, 11 September 2013 (11 tahun setelah kejadian di WTC USA)
With unlove, Deanty
Thursday, 29 August 2013
Purwarupa Dini Hari
Dengan mencipta asa diselingi jutaan kemelut membalut raga, mungkin saya tiada mampu lagi bertutur kata. Mengucap berbagai bahasa, berlari dari hujatan ribuan aksara, dan entah bagaimana sepertinya saya lelah mencari dan menggali. Ini memang bukan dini hari, tapi saya merasa ilham tak sedang produktif layaknya saya di pagi hari, ketika cicit dan kokok unggas menggoncang saya dari alam bawah sadar yang tak saya minta di atas kasur.
Tiap saya mendengkur, saya melengking. Setiap lengkingannya berarti segalanya. Setiap dengkurannya mengartikan, bahwa saya kelelahan. Setiap hembusan nafasnya, mengartikan saya masih disertaiNya. Dan entah mengapa, apa ini hanya halusinasi atau memang saya sudah bangun dari gulita pekat mendalam? Sehingga saya diseret ke depan meja lembayung, yang membuat jari saya menari di atas keyboard laptop. Yang membuat saya menumpahkan isi relung hati. Mungkin bukan yang terdalam, dan jelas bukan yang pertama. Tapi disinilah saat dimana saya belajar, bahwa hati tak bisa pakai nalar.
Hidup sebagai mahasiswi di kota orang membuat saya mandiri. Membuat saya belajar, bahwa tiada lagi interdependensi. Bawah yang ada hanyalah independen, dimana saya harus berdikari. Belajar kuat. Belajar memahami. Belajar untuk taat. Belajar untuk selalu ingat siapa yang menunggu dan siapa yang mencintai di ribaan kotanya Jokowi. Demikian alasan saya mengapa saya masih tegar dalam menapaki alur hidup yang dipatri oleh Dia. Demikian alasan saya mengapa saya masih mencintai hidup saya. Mengapa saya masih mencintai setiap detik yang Dia berikan.
Ah, andai.
Rindu yang tengah menelanjangi diri tak kian mencipta nelangsa. Karena buat saya, setiap detik berharga apabila saya bersama dia. Beberapa malam hebat yang pernah saya lalui belakangan memang berakhiran dengan isak tangisan. Sesunggukan. Sampai rasanya saya membatin, "saya mau mati aja." Tapi Dia belum kasih saya akhirat. Saya masih disuruh catwalk di runway yang Dia pahat buat saya. Saya catwalk pakai stilleto 20 cm, dengan runway yang berkerikil tajam. High risk, but no life has no risk. Jadi saya hargai juga Dia, yang menyuruh saya jadi satu dari sekian miliar modelnya.
Saya ditenggelami juga dengan samudera obligasi. Yang saya dapat karena saya menjadi mahasiswi HI. Begitu banyak, begitu membuat saya tiada mampu melawak. Sebab ini yang harus saya jalani, kalau saya jadi mahasiswi. Semua serba sendiri, selama saya bisa atur dan jaga diri.
Saya rindu keluarga. Ada papa, mama dan Anya. Saya rindu kekasih, John Tampubolon. Saya rindu Bekasi, yang telah seumur hidup menjadi tempat saya asuh asah dan asih. Dan kini setelah berapa lama saya mengalirkan aksara Romawi bermakna Indonesia, saya merasa agak lelah. Dan mungkin ini akan kian saya jadikan pelarian. Ya semacam Senayan. Biar saya bisa merasa lega dan tiada lagi sendiri, walau pasti tak ada yang mematungkan pandangannya pada laman ini lagi. Selain Maria Clara Putri Deanty.
Bandung, 30 Agustus 2013
06.49 AM
with a cup of Pop Mie and bottles of water.
#NowPlaying Craig David - Don't Love You No More
Tiap saya mendengkur, saya melengking. Setiap lengkingannya berarti segalanya. Setiap dengkurannya mengartikan, bahwa saya kelelahan. Setiap hembusan nafasnya, mengartikan saya masih disertaiNya. Dan entah mengapa, apa ini hanya halusinasi atau memang saya sudah bangun dari gulita pekat mendalam? Sehingga saya diseret ke depan meja lembayung, yang membuat jari saya menari di atas keyboard laptop. Yang membuat saya menumpahkan isi relung hati. Mungkin bukan yang terdalam, dan jelas bukan yang pertama. Tapi disinilah saat dimana saya belajar, bahwa hati tak bisa pakai nalar.
Hidup sebagai mahasiswi di kota orang membuat saya mandiri. Membuat saya belajar, bahwa tiada lagi interdependensi. Bawah yang ada hanyalah independen, dimana saya harus berdikari. Belajar kuat. Belajar memahami. Belajar untuk taat. Belajar untuk selalu ingat siapa yang menunggu dan siapa yang mencintai di ribaan kotanya Jokowi. Demikian alasan saya mengapa saya masih tegar dalam menapaki alur hidup yang dipatri oleh Dia. Demikian alasan saya mengapa saya masih mencintai hidup saya. Mengapa saya masih mencintai setiap detik yang Dia berikan.
Ah, andai.
Rindu yang tengah menelanjangi diri tak kian mencipta nelangsa. Karena buat saya, setiap detik berharga apabila saya bersama dia. Beberapa malam hebat yang pernah saya lalui belakangan memang berakhiran dengan isak tangisan. Sesunggukan. Sampai rasanya saya membatin, "saya mau mati aja." Tapi Dia belum kasih saya akhirat. Saya masih disuruh catwalk di runway yang Dia pahat buat saya. Saya catwalk pakai stilleto 20 cm, dengan runway yang berkerikil tajam. High risk, but no life has no risk. Jadi saya hargai juga Dia, yang menyuruh saya jadi satu dari sekian miliar modelnya.
Saya ditenggelami juga dengan samudera obligasi. Yang saya dapat karena saya menjadi mahasiswi HI. Begitu banyak, begitu membuat saya tiada mampu melawak. Sebab ini yang harus saya jalani, kalau saya jadi mahasiswi. Semua serba sendiri, selama saya bisa atur dan jaga diri.
Saya rindu keluarga. Ada papa, mama dan Anya. Saya rindu kekasih, John Tampubolon. Saya rindu Bekasi, yang telah seumur hidup menjadi tempat saya asuh asah dan asih. Dan kini setelah berapa lama saya mengalirkan aksara Romawi bermakna Indonesia, saya merasa agak lelah. Dan mungkin ini akan kian saya jadikan pelarian. Ya semacam Senayan. Biar saya bisa merasa lega dan tiada lagi sendiri, walau pasti tak ada yang mematungkan pandangannya pada laman ini lagi. Selain Maria Clara Putri Deanty.
Bandung, 30 Agustus 2013
06.49 AM
with a cup of Pop Mie and bottles of water.
#NowPlaying Craig David - Don't Love You No More
Tempat kejadian perkara
Wednesday, 28 August 2013
Masih sama, masih soal rasa
Sekian lama mungkin saya tidak mengguratkan isi hati dan nurani saya di sini. Sekian lama juga saya tak jackpot curahan-curahan pribadi yang tak penting lagi. Karena kini toh sudah berubah. Dan perkara masih sama, masih soal rasa.
Beberapa waktu lamanya saya menumpahkan segalanya dengan sebatang pena dan buku harian. Yang mana mungkin ada baiknya di kala senggang saya pindahkan ke dunia maya, dunia yang tidak fana. Kala saya merasa semua manusia berubah, saya kumandangkan lagu Oasis yang berjudul Champagne Supernova.
"How many special people change? How many lives are living strange? Where were you while we were getting high? Slowly walking down the hall, faster than a cannon ball. Where were you while we were getting high?"
Kenapa?
Entah saya merasa semua insan nuraninya kian tak sesuai. Entah saya merasa mungkin hati saya yang memuai. Atau realita yang oleh mimpi dibuai. "Why, why why why....?"
Karena keterbatasan saya memahami, saya hanya berani mengilhami sendiri. Hingga rasanya sesak di hati dan perih di duniawi. Saya mulai berhalusinasi. Saya rasanya mulai ingin terbang ke dunia lain yang mungkin tiada insan pernah menapaki. Biar saya yang perawani. Biar saya yang menjajaki. Biar apa sih? Biar saya bisa bersih. Biar saya bisa kabur. Biar saya bisa berhenti ngelindur. Biar saya bisa berhenti sejenak dari penat. Biar saya rehat. Biar saya istirahat. Biar biar biar biar.....
Syahdan beberapa waktu yang lalu, ketika jantung saya dipacu waktu dan deru nafas kian memburu, ketika durasi menjajah nurani dan basah peluh kian membanjiri, saya berniat menulis puisi. Atau mungkin aksara dan kosakata basi? Bukan. Bukan puisi rupanya. Sejenis prosa. Atau apa ya? Kumpulan kata-kata? Bermakna? Biar saya dan Yang Esa yang jadikan ini semua rahasia.
"Diambang gamang dan gelisah. Betapa diguyur asam rindu yang kemudian menyengat kalbu. Jantung hatiku kemudian terpacu. Bak diburu waktu kulantangkan 'aku rindu kamu'.
Durasi yang menghujam tiada henti mengelabui. Bahwa lama-lama rasa ini tiada mampu dimadui. Saya memutar-mutar bola mata sampai enggan berkedip lagi. Ingin memicu durasi. Enggan dilahap gundah gulana jiwani.
Huh. Hah. Huh. Hah.
Hela nafas memburu. Mungkin kini ku tiada lagi paru-paru. Sebab tiap tarikan dan hembusan, dada ini kelu. Membiru. Kemudian temaram bak lampu malam.
Statis.
Tiada menampik fakta realistis.
Hahahahahaha. Gelimpangan gelakan miris.
Hiks hiks hiks hiks. Lalu saya menangis.
Riak angkasa mulai mengilar. Mengguyur daratan tempat berpijak.
Membuat ilham saya buyar.
Tapi entah, bayangmu justru semakin nampak."
Begitulah. Satu dari sekian banyak. Masih sama bukan? Masih soal rasa. Melankolis. Tukang nangis.
Beberapa waktu lamanya saya menumpahkan segalanya dengan sebatang pena dan buku harian. Yang mana mungkin ada baiknya di kala senggang saya pindahkan ke dunia maya, dunia yang tidak fana. Kala saya merasa semua manusia berubah, saya kumandangkan lagu Oasis yang berjudul Champagne Supernova.
"How many special people change? How many lives are living strange? Where were you while we were getting high? Slowly walking down the hall, faster than a cannon ball. Where were you while we were getting high?"
Kenapa?
Entah saya merasa semua insan nuraninya kian tak sesuai. Entah saya merasa mungkin hati saya yang memuai. Atau realita yang oleh mimpi dibuai. "Why, why why why....?"
Karena keterbatasan saya memahami, saya hanya berani mengilhami sendiri. Hingga rasanya sesak di hati dan perih di duniawi. Saya mulai berhalusinasi. Saya rasanya mulai ingin terbang ke dunia lain yang mungkin tiada insan pernah menapaki. Biar saya yang perawani. Biar saya yang menjajaki. Biar apa sih? Biar saya bisa bersih. Biar saya bisa kabur. Biar saya bisa berhenti ngelindur. Biar saya bisa berhenti sejenak dari penat. Biar saya rehat. Biar saya istirahat. Biar biar biar biar.....
Syahdan beberapa waktu yang lalu, ketika jantung saya dipacu waktu dan deru nafas kian memburu, ketika durasi menjajah nurani dan basah peluh kian membanjiri, saya berniat menulis puisi. Atau mungkin aksara dan kosakata basi? Bukan. Bukan puisi rupanya. Sejenis prosa. Atau apa ya? Kumpulan kata-kata? Bermakna? Biar saya dan Yang Esa yang jadikan ini semua rahasia.
"Diambang gamang dan gelisah. Betapa diguyur asam rindu yang kemudian menyengat kalbu. Jantung hatiku kemudian terpacu. Bak diburu waktu kulantangkan 'aku rindu kamu'.
Durasi yang menghujam tiada henti mengelabui. Bahwa lama-lama rasa ini tiada mampu dimadui. Saya memutar-mutar bola mata sampai enggan berkedip lagi. Ingin memicu durasi. Enggan dilahap gundah gulana jiwani.
Huh. Hah. Huh. Hah.
Hela nafas memburu. Mungkin kini ku tiada lagi paru-paru. Sebab tiap tarikan dan hembusan, dada ini kelu. Membiru. Kemudian temaram bak lampu malam.
Statis.
Tiada menampik fakta realistis.
Hahahahahaha. Gelimpangan gelakan miris.
Hiks hiks hiks hiks. Lalu saya menangis.
Riak angkasa mulai mengilar. Mengguyur daratan tempat berpijak.
Membuat ilham saya buyar.
Tapi entah, bayangmu justru semakin nampak."
Begitulah. Satu dari sekian banyak. Masih sama bukan? Masih soal rasa. Melankolis. Tukang nangis.
Subscribe to:
Posts (Atom)