Friday, 7 November 2014

Everybody's Leaving In The End

Life is a journey.
Dan dalam perjalanan yang tidak selalu mulus dan lurus itu, banyak hal yang bisa kita temui. Mulai dari begitu banyak mobil misalnya, begitu banyak orang yang berbeda-beda; semakin membuat kita terpesona sampai membelalakan mata karena pribadi yang begitu istimewa. Beberapa orang memutuskan untuk singgah bersama dalam waktu yang cukup lama, ada juga yang hanya sekedip mata. Semua ada alasannya, dan sudah ditentukan oleh Sang Hyang di Atas Sana.

Seiring kita melaju pula, orang berubah. Ada yang awalnya bersahabat, kemudian dengan bersama tersesat, dan akhirnya apa, mereka minggat. Because in the end, we’re all alone. Tanpa ada hembusan nafas lain dari hidung insan, selain satu hidung dan sepasang paru-paru yang telah tercipta bagi kita. Kita lahir sendiri, kita berjuang sendiri, dan mati sendiri. 

Mungkin tidak akan pernah mudah bagi kita yang pernah merasa kehilangan, entah benda entah manusia, untuk kembali merasa kehilangan. Tapi percayalah,  bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tidak dapat dilalui manusia. Semua masih dalam batas wajar, karena Tuhan merencanakan yang terbaik, Tuhan tahu dan paham pasti apa yang akan kita dapatkan akan selaras dengan apa yang telah kita perjuangkan. 

Belasan tahun mengembara, terkadang saya bertapa dan berucap tanya “kapan saya disuruh pulang oleh Yang Di Atas Sana?” Saya merasa sudah cukup, ungkap saya. Begitu banyak keputus asaan, hingga begitu banyak pula manusia yang bolak-balik menjadikan saya tempat persinggahan mereka untuk sementara, dan secara tidak langsung membantu saya supaya bangkit dari keterpurukan saya. 
Tapi ya itu tadi. Di dunia ini, kita tidak bisa percaya siapapun, termasuk diri kita sendiri. Mungkin saya terlalu realis, mungkin saya terlalu Marxis, tapi saya percaya bahwa pada dasarnya manusia itu jahat dan mengutamakan kekuatan dan kekuasaan. Manusia akan berusaha sebagaimana mungkin untuk saling menjatuhkan, menghalalkan 1001 cara agar semata-mata mereka bisa berkuasa dan merebut tahta. Go ahead, you can tell me that I’m so old school. But it’s alright, it’s all about protecting yourself from getting hurt, getting fall, and getting too easily trust someone.

Sebab dalam ziarah saya di dunia ini, saya mungkin belum terlalu banyak bertemu orang baru. Tapi saya cukup paham arti persahabatan dan kepercayaan. Saya cukup paham arti dari jangan terlalu mudah percaya kepada siapapun, not even your family, not even yourself. Maafkan saya apabila seringkali Anda melihat saya, berjalan sendiri dengan tegap dan dagu terangkat, semata-mata hanya untuk menaikkan martabat. Barangkali Anda mengenal saya sebagai sosok yang jahat, but it’s okay, karena saya manusia. Anda juga manusia, dan saya yakin pada dasarnya manusia itu jahat. 

Ada suatu masa dimana saya sempat menjadi pribadi yang amat liberalis. Terus bekerjasama dan melakukan diplomasi sana-sini untuk menyelesaikan masalah. Tapi toh, ujung-ujungnya itu tadi, semua saling menjatuhkan dan apalah guna Tuhan memberi 2 tangan dan ratusan macam otot di dalam tubuh manusia apabila saya hanya dapat mengandalkan kekuatan mulut dan kepintaran berbicara setiap saat? Sehingga di satu titik itu, mata saya terbuka. Sekarang saatnya untuk angkat senjata, dan berjuang walau penuh peluh dan tumpah darah.

Saya sudah merasakan berkali-kali patah hati. Ditinggal, dicaci, hingga saat ini saya memutuskan untuk berdiri sendiri. Mencoba maju tanpa harus percaya siapapun lagi. Mungkin lelah dikhianati? Ah sudahlah, picisan. Tiada guna menulis hal yang harkatnya bahkan lebih rendah dari neraka. 
Dan hingga saat ini, saya sampai linglung dan tak berarah. Bingung hendak percaya siapa. Karena ya itu…

everybody’s leaving in the end. 

No comments:

Post a Comment