Wednesday, 29 October 2014

Come Away With Me

So, this past few months got me thinking. Bahwa hidup tidak selamanya membawa kita ke arah yang telah kita rencanakan, telah kita anggap bahwa itu akan menjadi kenyataan, dan dengan harapan bahwa akan berakhir dengan kebahagiaan.
Dengan berakhirnya minggu-minggu terdahulu, gue terus melihat kemana arah jarum jam berputar. Apakah mungkin, akan ada masanya gue bisa berubah seperti salah satu pemeran di serial Heroes, si Nakamura, yang bisa memutarbalikkan waktu dan mengubah segalanya di masa lalu. Gue berfikir keras bagaimana caranya supaya gue bisa mengembalikan semuanya yang pernah ada di masa lalu, berfikir keras sampai rasanya rambut mulai keriting dan bahkan catokan sesakti apapun tidak akan bisa meluruskan rambut gue seperti biasanya lagi.
Dengan berakhirnya minggu-minggu terdahulu pula, gue menutup mata sembari tersenyum. Menyadari dan dengan pelan-pelan menerima apa yang Dia rencanakan buat hidup gue. Gue selalu ingat kata-kata mama dan Rana, "seburuk apapun nasib dan jalan hidup, harus tetap kita nikmati. jalani, dan syukuri." Mungkin gue terlalu banyak mengeluh sama Dia, kenapa gue begini kenapa gue begitu. Dan sampai akhirnya, di titik ini, gue merasa bahwa cukuplah. Sekarang waktunya saya yang mengalah dan biarkan Dia yang ambil jalan tengah.

Rabu, 29 Oktober 2014.
Dalam bungkam dan kenisbian waktu, jemari ini mulai menari lagi. Nampaknya sudah ratusan hari terlalu disibukkan dengan hampa media sosial, mencoba mencari hati dan sedikitnya perhatian dari siapa atau apa yang diinginkan. Rupanya nihil.
Saya tertawa.
Kembali menenggak secangkir kopi dan mabuk air mata.
Bila dianalogikan, mungkin saat ini saya setara dengan sebatang rokok. Yang nikmatnya hanya sekedar 7 menit mungkin, apabila Anda menghisap LA ice, atau mungkin Marlboro Ice Blast, yang cepat habis dan sekali dihisap rasanya memakan seluruh paru-paru Anda. Begitu dingin, dan mungkin sedikit frigid; kaku dengan bayangan dan hanya penikmatnya yang dapat memutuskan apakah akan memecahkan the green ball yang ada di puntungnya untuk bisa mendapatkan sensasi dingin itu, atau hanya akan menikmatinya seperti biasa.
Dalam kasus ini mungkin kebanyakan penikmatnya memutuskan untuk break the ice. Tanpa sadar konsekuensi apa yang bisa mereka dapatkan. Ada yang menikmati dinginnya, ada pula yang batuk hingga wajah memerah karena tidak kuat menahan tarikannya yang begitu kencang.
....
....
Hening beberapa saat
dan saya berfikir untuk melanjutkan kalimat.
Ya.
Kalau boleh saya kutip kata-kata dari film The Fault In Our Stars, seperti Augustus Waters bilang

"I'm in a rollercoaster that only goes up, my friend."

Sepertinya itu saya. 
iya, saya beberapa waktu yang lalu.
Hingga akhirnya ketika kemiringan roller coaster itu mencapai 90 derajat, rollercoaster itu jatuh terhentak, kebawah, dan belum berfikir untuk naik lagi. Saya menjilat ludah saya sendiri. Mengulum senyum dalam waktu yang tidak terkira lamanya. Sedikit berharap bahwa dalam kesendirian dan dibalut nelangsa, saya dapat menghapus air mata saya sendiri, dan mungkin menyaringnya ke dalam botol anggur merah dan meminumnya sendiri.

Saya belajar banyak hal.
Untuk tidak percaya kepada orang lain. Untuk tidak mudah jatuh (cinta). Untuk tidak terus-terusan melihat ke atas. Untuk belajar ikhlas. Untuk belajar menerima. Untuk belajar dewasa. Untuk tidak terus mengeluh dan ngegas. Untuk terus tersenyum dan mensyukuri apa yang telah saya miliki.
Saya tertawa akan banyak hal pula.
Menertawakan masa lalu. Menertawakan betapa bodoh saya dahulu. Menertawakan apa yang patut ditertawakan. Dan sedang dalam proses; menertawakan kesedihan.

Baiklah. Mungkin malam ini saya hendak menjadi pujangga. Yang dikawal nestapa dan bersenandung di bawah langit malam.

Tick tock
The tickling clock
I ought to kick your cock
And maybe
it'll make you shock

okay, that's a terrible poem.
let's give it another shot. 


Di balik jeruji rutan
kata kata ini menjadi bias
realita jadi ambigu
dan ambiguitas
menelanjangi tiap bibir yang terkatup rapat
menjadi sumpah serapah 
yang tumpah.
Biar kini 
nelangsa dan nestapa
memperkosa jiwa raga
dan kita mati
mengapung di sana saja.

May the odds be ever in your favour.
xx

Thursday, 9 October 2014

Twisted Logic

Friday, October 10th 2014

I sit on my bed with a cup of hot vanilla milk and laptop in front of my face. Got a lil bit dizzy over here, cough and flu since 2 weeks ago perhaps? And I'm trying to enjoy today as today is holiday, and no exam for today. Yeayness! Well, basically. lately I realized how happy and how should I be grateful and thankful for what God has given to me. I have a very happy and wonderful family, I have funny, faithful, and also wonderful friends beside me, I have everything that I want. And sometimes, I just forgot how to be thankful to God. There are so many people out there that have been dreaming to live the life I have. But still, I always blame God for not giving me something that I can't get. But now I know, that God never says "No" to our prayer. He either gives us what we want or gives us better that what we want and need. He always have a plan for us all who live in this crazy world. God works in His own way and with His own plan that we never know. But one thing that I surely know, that we all should be thankful each day for whatever He's given to us.

P.S: I really am not trying to be a saint for now, it's just I have nothing to do and I decided to post this. Hehehe.
Cheers and raise your glass, people!
XOXO, Deanty.

Saturday, 4 October 2014

Random thoughts

Kemudian dalam bawah terik sang surya, peluh kembali mengguyur dari dalam pori-pori kulit yang kian terbuka. Paru-paru semakin engap dan semakin menuntut diberi udara. Rasanya penat, sesak, mau rusak. Tapi yang saya butuh hanya sedikit candu yang berbungkus biru. 
Belum lama saya kembali ditarik dalam tiap hembusan napas yang saya buat. Saya merasa bukan tanaman hijaulah yang berfotosintesis untuk mengisi kebutuhan nafas saya sehari-hari. Saya merasa, kadang bukan tuhan yang mencipta semester. Saya merasa logika mengalahkan segalanya. Saya merasa dalam ketidakberdayaan saya di suatu ketika dan suatu alam masa, saya pada akhirnya kembali dalam bentuk debu yang tiada berarti bagi segelintir umat manusia.
Saya kembali percaya, dalam tiap kali saya membuka bungkusan biru yang adalah candu bagi hidup saya itu, bahwa saya itu hidup di dalam sebuah labirin. Dimana Tuhan itulah yang menjadi pengatur permainannya. Siapa yang mampu keluar dari labirin itu, dialah yang nanti menemui ajalnya. 
Kadang, permainan dan logika Tuhan tidak dapat dipahami oleh kita yang adalah - katanya - ciptaanNya. Walau esensi dan bentuk nyata dari Tuhan itu sendiri belum pernah dilihat, tapi, katanya lagi, bilamana kita percaya, ada suatu rasa euforia dan ketenangan luar biasa.
Apakah kemudian kamu bertanya, saya percaya Tuhan apa bagaimana?
Saya percaya, saya berdoa, saya pergi gereja. Saya pergi ke perayaan Paskah, saya pergi merayakan Natal, saya bersukacita atas penebusan Sang Anak Domba Allah atas dosa-dosa saya sebagai manusia. Namun lagi, semakin waktu dan usia yang melaju tanpa bisa diputarbalik, saya merasa bahwa saya butuh bukti. Tapi lagi-lagi;
saya belum berhasil keluar dari labirin yang Sang Esa ciptakan itu. Mungkin untuk sekarang, saya belum bisa keluar. Tapi lagi-lagi;
saya kembali nyandu. Nyandu sama yang bungkusnya biru itu. 
Kalau kata sebuah agama lain, melakukan hal yang dapat merusak diri sendiri itu buruk atau haram hukumnya di agamanya (kalau tidak salah ya, saya bukan ahli agama, saya bukan cendekiawan jadi maklumkan). Tapi bagi saya, selama saya menikmati si candu ini, walau dia memperpendek umur saya mungkin sekitar 10-15 tahun, saya tetap nyandu kok. 
Dan apa yang saya senangi dari nyandu ini, saya jadi banyak berilham. Saya banyak berfikir kritis tentang semesta, filsafat, masalah dunia, masalah pribadi, dan tak jarang saya mempertanyakan Tuhan. Ya seperti sekarang ini. Eh, omong-omong, saya lagi nggak nyandu. Nyandunya abis masa. Dan kemudian saya hanya berkutat berjam-jam di hadapan tumpukan bahan bacaan untuk ujian. Biasa, anak Hubungan Internasional. Terlalu sibuk mengurus resolusi konflik negara sampai kadang resolusi konflik pribadi saja terlupakan. Rest in peace, hidup damai tanpa bahan bacaan.
Sekitar satu setengah jam kemudian, saya mulai gelisah. Saya mulai merasa keringat dan basah. Berulang kali saya mendesah dan menelaah; mengapa saya tidak dapat nyandu sampai lemah? Lagi-lagi, bungkus biru itu mengontrol hidup saya. Bukan saya. Dan kemudian saya kembali mempertanyakan, kemana larinya si tuhan yang katanya empunya kehidupan? Kenapa ia membiarkan candu saya yang memegang kendali? 
Tapi biarlah. Kalau si tuhan lagi yang megang kendali, yang ada, saya keluar dari labirin. Dan saya ketemu ajal. Padahal kuliahpun saya belum puas mabal. Dan saya takut, mati jadi dajal. 

Sabtu, 4 Oktober 2014
Di sela sela e-book Paul Williams tentang Kajian Keamanan
Saya sempatkan 
menulis apa yang ada di iman
dan sedikit lari dari kenyataan. 

Friday, 3 October 2014

Midnight Thoughts (01)

Too many thoughts that have been struggling to be spoken. Or sometimes, I wonder if I can scream out loud and pretend like nobody's hearing it. But yeah, it's always been my biggest concern nowadays, how politics ruin the world. How the voice and democracy are slowly being taken away from us, the people of X country, yet the leaders are still hoping that we'll be living peacefully and moreover, they're expecting us to say yes for everything that governments decide. And how can we live in such shameful world?
This is not what I expect what the world would be since the day I was born. Well, at least I thought I would live in such a better place. This world might be crazy, but I never thought that it would be as chaos as this. So, I decided to make a room in my own mind, I make my own world.
The world where I lead it myself,
where there are no heartbreaks,
where everybody's happy,
no law
no rules to obey
and everybody's happy to live their own life
and it turns out to be only my deepest imagination. 

I am raised in such liberal family. But time flies, and people changes. So do I. As time goes by, I found a realist side inside of me and it's taking me a step further into a villain. I think logically, and I rarely use feelings for everything. I get suspicious to everybody so easily, and sometimes it makes them uncomfortable being right next to me.
And since this is just a random midnight thoughts, I wouldn't mind to share some kewl links that you might want to check out. Some playlists that will accompany you through thick and thin. Well, enjoy your cup of coffee and say hello to the mad world tomorrow morning.



PS: my personal favourite would be a track by Ludacris - Stand Up (LeMarquis Remix)