Tuesday, 25 February 2014

The entire world must have been insane

Dan saya termenung kembali dalam perantauan dan pertautan serta perang; antara nurani atau logika. Kerap kali saya menyadari bahwa sayalah yang seharusnya mengatur dan menentukan: apa alasan saya sesungguhnya untuk bahagia? Karena ya saya pahami hanyalah bagaimana cara saya menjaga perasaan orang yang saya sayangi, dan bagaimana caranya untuk membuat dia bahagia dan nyaman bersama saya, bukan bagaimana saya bahagia? Karena sungguh, melihatnya bahagia pun mungkin akan menjadi bahagia terbesar saya.
Saya kerap dikecam dan dirajam ragu. Saya terlalu mengikuti intuisi saya, saya jarang menggunakan logika saya. Karena saya dibutakan oleh apa yang namanya terlalu cinta. Ini pernah terjadi sebelumnya. Ribuan kali saya disakiti, dan saya tetap bertahan. Berpegang. Membisu, dibungkus rapat dengan bungkam. Sehingga yang insan tahu hanyalah sisi saya yang berbahagia senantiasa.
Saya memang klise. Untuk apa di usia 18 tahun saya jatuh cinta begitu dalam kepada seorang lelaki? Untuk apa saya terlalu memfokuskan diri untuk membahagiakannya, padahal saya sendiri belum tentu bahagia – atau mungkin malah, tidak akan bahagia? Saya kerap merasa bahwa percuma Tuhan menciptakan manusia dengan bibir dan mulut, dengan kemampuan berbicara. Dengan kemampuan berujar dan mungkin bagi yang beruntung, keberanian untuk beraspirasi dan mengutarakan apa yang dirasa. Tapi bagi saya? Saya hanya sanggup menjerit dan menahan semua di dalam lubuk hati, jauh dari apa yang verbal, yang sekiranya bisa saya sampaikan kepada orang-orang yang ingin saya utarakan, apa yang saya ingin bilang. Bingung bukan?
Saya ingin dipahami. Saya ingin bahagia. Tapi saya tidak sedang memperjuangkan kebahagiaan saya itu. Saya malah lebih...memperjuangkan apa yang saya cintai untuk bahagia. Bukan apa, tapi siapa. Tapi sepertinya, cara saya keliru. Saya malah kelihatannya seperti such pain in the fucking ass. Sehingga saya malah jadi takut untuk bertindak. Jangankan bertindak, berujar pun rasanya lidah saya kelu setengah mati. Sehingga yang bisa terucap hanya kata,
“I Love You.”

Selasa malam, di kota Bandung yang malam ini bersuhu 19 derajat Celcius.

Berusaha untuk menghapus air mata yang tak kuasa lagi dibendung kelopaknya. Berusaha untuk terlihat setegar karang walau di dalamnya lembek seperti eek. Ditemani dengan secangkir teh hangat dan lagu-lagu dari Flume.







Intinya sih. Buat apa kalau hanya bisa kecewa? Buat apa kalau tidak ada secercah harapan lagi? Buat apa? Ya jawabannya. 
Pokoknya I love you.

No comments:

Post a Comment