Dan saya termenung kembali dalam
perantauan dan pertautan serta perang; antara nurani atau logika. Kerap kali
saya menyadari bahwa sayalah yang seharusnya mengatur dan menentukan: apa
alasan saya sesungguhnya untuk bahagia? Karena ya saya pahami hanyalah
bagaimana cara saya menjaga perasaan orang yang saya sayangi, dan bagaimana
caranya untuk membuat dia bahagia dan nyaman bersama saya, bukan bagaimana saya
bahagia? Karena sungguh, melihatnya bahagia pun mungkin akan menjadi bahagia
terbesar saya.
Saya kerap dikecam dan dirajam
ragu. Saya terlalu mengikuti intuisi saya, saya jarang menggunakan logika saya.
Karena saya dibutakan oleh apa yang namanya terlalu cinta. Ini pernah terjadi
sebelumnya. Ribuan kali saya disakiti, dan saya tetap bertahan. Berpegang. Membisu,
dibungkus rapat dengan bungkam. Sehingga yang insan tahu hanyalah sisi saya
yang berbahagia senantiasa.
Saya memang klise. Untuk apa di
usia 18 tahun saya jatuh cinta begitu dalam kepada seorang lelaki? Untuk apa
saya terlalu memfokuskan diri untuk membahagiakannya, padahal saya sendiri
belum tentu bahagia – atau mungkin malah, tidak akan bahagia? Saya kerap merasa
bahwa percuma Tuhan menciptakan manusia dengan bibir dan mulut, dengan
kemampuan berbicara. Dengan kemampuan berujar dan mungkin bagi yang beruntung,
keberanian untuk beraspirasi dan mengutarakan apa yang dirasa. Tapi bagi saya? Saya
hanya sanggup menjerit dan menahan semua di dalam lubuk hati, jauh dari apa
yang verbal, yang sekiranya bisa saya sampaikan kepada orang-orang yang ingin
saya utarakan, apa yang saya ingin bilang. Bingung bukan?
Saya ingin dipahami. Saya ingin
bahagia. Tapi saya tidak sedang memperjuangkan kebahagiaan saya itu. Saya malah
lebih...memperjuangkan apa yang saya cintai untuk bahagia. Bukan apa, tapi
siapa. Tapi sepertinya, cara saya keliru. Saya malah kelihatannya seperti such pain in the fucking ass. Sehingga
saya malah jadi takut untuk bertindak. Jangankan bertindak, berujar pun rasanya
lidah saya kelu setengah mati. Sehingga yang bisa terucap hanya kata,
“I Love You.”
Selasa malam, di kota Bandung
yang malam ini bersuhu 19 derajat Celcius.
Berusaha untuk menghapus air mata
yang tak kuasa lagi dibendung kelopaknya. Berusaha untuk terlihat setegar
karang walau di dalamnya lembek seperti eek. Ditemani dengan secangkir teh
hangat dan lagu-lagu dari Flume.
Intinya sih. Buat apa kalau hanya bisa kecewa? Buat apa kalau tidak ada secercah harapan lagi? Buat apa? Ya jawabannya.
Pokoknya I love you.
No comments:
Post a Comment