Bak besi, hati saya ditempa. Terus menerus. Digerus. Sampai akhirnya hangus. Atau malah haus? Entah, karena saya sungguh tidak mampu bergerak. Saya sedang menjadi stupa. Yang diam bagaikan pertapa. Yang statis bagai tak bernyawa. Yang bungkam bagai tak bernada. Yang akhirnya dilumat rasa sakit, yang akhirnya diterpa serbuan rintihan.
Tenggorokan saya mengering. Minta diberi air, katanya sih. Tapi saya batu. Saya terus menghisap asap sigaret menthol. Saya terus membiarkan tenggorokan saya berdarah, sampai bernanah. Sebab saya butuh sesuatu yang rasa sakitnya melebihi sakit saya di dada. Tiap malam saya dirundung gelisah. Nafas saya mendesah. Menderu. Karena terlalu banyak menghisap asap. Terlalu banyak menyuntikkan nikotin ke dalam paru-paru. Terlalu banyak pikiran yang akhirnya membuat saya membisu.
Saya sungguh tidak paham apa yang saya inginkan. Konversasi saya dengan seorang karib membuka mata hati saya. Akankah sesungguhnya cinta itu ada? Eksistensinya dipertanyakan. Apakah saya hanya sekedar nyaman, aman; bukan sesuatu yang dapat didefinisi sebagai cinta? Syahdan, hati saya kembali mengalami komplikasi. Terlalu rumit. Tidak seringan pembahasan yang biasa. Karena saya tahu, usia sudah kian dimakan senja. Berpikir serius sesekali tak apalah. Biar hati bicara, tapi mulut cukup terkatup.
Saya mencintai dia. Saya mencintai John. Saya tahu itu. Saya sadar itu. Tapi saya sadar juga, suasana dan keadaan yang membuat kami tidak lagi bisa bersatu sebagai pasangan. Tapi ini menyakitkan. Karena akhirnya mau tidak mau saya harus terima bahwa cinta tidak harus memiliki. Bahwa cinta adalah tentang mempedulikan kebahagiaan orang yang kita cintai, tanpa melihat apakah kita yang menjadi alasannya atau bukan. Cinta itu rumit. Cinta.....sepertinya saya tidak mau lagi jatuh di dalamnya. Saya mau keluar. Saya mau lari sekencang-kencangnya, sejauh-jauhnya. Agar tidak lagi dipertemukan dengan apa yang namanya cinta. Karena yang saya tahu,
saya selalu disia-siakan.
Saya berkorban.
Saya ditinggalkan.
Saya terluka.
Tapi apa semua karena cinta?
Atau....
hanya sebatas ego saja?
No comments:
Post a Comment