Tuesday, 11 November 2014

Soon, My Friend

Selasa, 11 November 2014

Dibalik orang-orang sibuk, ada sesuatu yang ingin mereka lupakan.
Begitu kurang lebih yang mampu saya katakan dengan betapa hectic hari saya belakangan. Ya, saya mencoba untuk kembali ke rutinitas yang mampu membuat saya terlelap dengan amat nyenyak dan badan ngilu semata-mata karena saya ingin melupakan segala sesuatu yang pernah membuat saya bertumpu dalam waktu yang lama. Saya tersenyum, karena sore ini, di bawah cuaca Bandung yang teramat dingin dan berkabut, saya terhenyak dan mampu menulis lagi di kamar. Sendiri, menikmati lelah dan menikmati pagi siang sore hari. 
Saya mencoba untuk kembali berkomunikasi dan bicara kepada diri saya sendiri. Bahwa dalam segala nyata dan tidak nyata yang Ilahi, ada suatu hal yang hendak Ia sampaikan. Bahwa dengan perlahan tapi pasti, derita tak akan selamanya bertahan. Dan dalam segala proses yang menyakitkan, manusia pasti mampu berdiri lagi, tegar dan mungkin berubah jadi dewasa kembali. Mungkin inilah proses yang harus saya rasakan. Kembali kehilangan sampai suatu saat... kembali menemukan.
Saya belajar banyak dari apa yang saya lalui. Saya belajar banyak dari apa yang pernah saya jadikan alasan dan tumpuan dari definisi kebahagiaan. Bahwasanya tidak baik untuk menjadikan sebuah pribadi sebagai alasan untuk kita bahagia. Karena mata sekarang terbuka, dan kelak akan mampu melihat ke luar dunia, bahwa masih banyak hal yang mampu membuat saya bahagia. 
Bahagia itu sederhana, sesederhana bisa kuliah, bisa tertawa bersama sahabat-sahabat, memiliki keluarga yang rukun dan mampu dijadikan sahabat, bisa memiliki materi yang tidak berkekurangan, dan terus mengucap syukur karena Yang Esa telah memberikan apa yang telah saya terima. Sesederhana itu. Sesederhana bersyukur. 
Hidup tidak selamanya tentang cinta.
Itu hal paling nyata yang saya pelajari, bahwa kelak masih ada hal lain yang patut dan lebih waras untuk dipusingkan dibanding sekedar menangis karena kaum adam. Ah, apalah artinya apabila kita bisa sendiri dan menciptakan definisi bahagia kita sendiri. Toh, kelas Teori Hubungan Internasional ditiadakan saja saya bahagia bukan main. 
Ya, sesederhana itu. 

No comments:

Post a Comment