Saturday, 29 November 2014

Free Fallin'

Dan saya kembali duduk bersila sore ini, menikmati cahaya redup dari langit Bandung yang kian meremang. Belum pernah sebelumnya saya begitu menikmati kesendirian dengan secangkir kopi dan senandung dari John Mayer yang melantun dari laptop saya.
And I want to take a deep breath, and just simply be thankful for everything that God has decided and given to me. As lately I’ve been so busy doing some stuffs and complaining about almost everything, I think maybe tonight would be a perfect night to be thankful and stop complaining. 
Everything happens for a reason, they said. 
And I know that deep inside, God has made a beautiful plan for my life. And I do believe in a thing called “The Moment of Impact.” What’s that? 
Moment of impact is the moment when you’re finally getting everything that you’ve been wishing and hoping for, or maybe get something better that what you’ve been wishing for. And in order to get that moment, you really have to through some rough times in your life and get fall every single time. And I can’t fucking wait for the day to come. 
Last night, I had a deep talk with my best friend, Nadhire. We talked about everything that made us like who we are today. And both of us once had a motto “No Regret,” in our lives. But it turns out to be a big bullshit because both of us do have our biggest regrets. And sadly, it was something that WAS beautiful and we were hoping that someday, our biggest regret would be forever ours. We wished that we’ve never done things or specifically, never know or even worse, FALL IN LOVE, with someone. And that makes us who we are now, and it makes us hmm…what to say… It makes us turn into a person who are completely different from who we were before. 
But yeah, we do believe that there will be lessons from everything that happened in our lives. And there’s no use regretting everything. And unfortunately, regrets are inevitable. It happens to everyone. And it always comes in the end.
And last night, I was jamming with some of my friends, they are Uthe, Jasmine and Bernie. They’re such talented young singers and guitar and saxophone and piano players. I made a song for them, and they’re arranging it into such a beautiful song, based on my poem. And they told me to keep writing and creating beautiful lyrics for them. I couldn’t be more thankful for that. I’ve been dreaming that someday, maybe my poem will be an inspiration for someone, or even better, they made a song based on my poem. The lyrics are 100% created by me. 

And let’s have a sneak peek for some of the lyrics that I’ve made for them,

“Ia datang atas nama cinta,
Berjuta kali diterka, direka
Nyatanya selalu sama; tetap luka
Bahkan membara, menganga, dan kian menyala.”

And I can’t wait for the song to be released soon! So yeah, that is my weekend story. And I had this beautiful quotes for me to take.

You may be in a tough time
but that setback is simply a setup
for a greater comeback.

Cheers and raise your glass, people.


Deanty.

Wednesday, 19 November 2014

Untitled 2.0

Bagi sebagian manusia, rindu itu wajar. Terkadang kita terlelap dalam mimpi dan kemudian berasumsi, bahwa semesta tidak seharusnya begini. Berasumsi tentang begitu banyak hal, hingga tidak ada lagi yang pasti. Atau lebih tepatnya, kita sudah tidak tahu dan tidak dapat membedakan mana yang pasti dan hanya dalam angan. 

Seperti malam-malam biasanya, jemari saya disibukkan oleh begtu banyak macam tugas yang berlimpah. Ah, kalau begini rasanya ingin cepat kaya, kemudian hidup bahagia dengan ratusan merek high-end yang saya jadikan acuan saya sebagai definisi kebahagiaan. Tapi ternyata, hidup tidak secetek itu. Tidak serendah itu. 
Hari ini saya belajar bahwa dunia yang kita tinggali di dalamnya ini ternyata tidak baik-baik saja. KIta yang selama ini berfikir bahwa hidup kitalah yang bernasib terburuk, ternyata tidak demikian. Karena konflik di dunia luas begitu besar, dan sifatnya infinite. Konflik pasti ada, perebutan kekuasaan dan harta pasti ada. Dan semua kembali pada persepsi dan perspektif masing-masing pribadi dalam melihat dunia.

Dalam kacamata saya, saya melihat dunia sebagai sebuah kesatuan yang terdiri dari berbagai macam negara, dengan tujuan yang berbeda, dan dengan keinginan yang sama. Bagaimana kedua hal yang begitu berbeda mampu mencipta sebuah kesatuan dan hidup dalam satu langit? Mereka - para negara - mendamba kuasa. Mendamba kekuatan. Mendamba begitu banyak limpahan uang. Bagi negara dan isinya, yang menjadi tuhan itu uang. Bukan dalam bentuk lain.
Dalam perspektif saya, saya menilai bahwa dunia memang harus diubah. Entah dengan berbagai macam kudeta di setiap negara yang mungkin tengah terjadi, atau perlukah dipecahkan Perang Dunia Ketiga? Apabila jawabannya perang, saya rasa saya lebih baik mati duluan. Atau kalau Tuhan berkehendak lain, dengan senang hati saya menawarkan diri menjadi pengatur strategi perang. 
Konflik adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Dunia itu gila. Iya, memang gila. Wong secara scientific terbentuknya saja sudah dari kumpulan bola api yang kemudian mengeras, tidak heran saya apabila berakhir dalam api lagi. 
Saya bukan tuhan, saya bukan cenayang, saya bukan paranormal, tapi saya berbicara melalui kacamata saya. Melalui apa yang menjadi pemikiran saya. Dan kini saya malu, untuk apa saya pernah menangis demi konflik kecil dalam hidup saya perkara cinta atau nilai jelek? sementara apabila saya melihat dunia yang lebih luas, banyak hal lain yang lebih patut saya tangisi walau saya tidak pernah merasakannya.
Sekarang saya tahu jawaban dari tangisan tulus dan tiba-tiba yang saya kucurkan ketika saya menonton video tentang ISIS. Dimana saya tersentuh melihat seorang anggota ISIS yang masih berusia 10 tahun, dan ia sudah diajarkan untuk berperang dan menggunakan senjata. 
My whole life is a fucking lie, dude. Let’s be honest with it. Di usia saya 10 tahun, yang saya ketahui hanya Barbie, main sepeda roda dua warna ungu dengan keranjang di depannya yang selalu saya isi dengan Cheetos rasa jagung bakar, dan…..apa ya? Almarhum anjing saya mungkin, Ranger? Ya, itu yang saya tahu di usia 10 tahun. Saya hanya tersentuh, melihat bagaimana anak usia 10 tahun mampu memiliki loyalitas tinggi terhadap ISIS dan mau menggantikan robot atau pistol mainannya dengan pedang atau pistol sungguhan, dan bertarung demi apa yang ia percayai. Sungguh, sekali lagi saya ucapkan dengan lantang, my whole life is a fucking lie dude.

Kembali kepada kacamata saya melihat dunia. 
Begitu banyak hal yang tidak bisa saya ucapkan dengan kata dan frasa. Saya hanya mampu mengucap doa agar semua yang saya cintai bisa hidup baik-baik saja tanpa harus merasa terganggu dengan konflik militer atau yang berdarah-darah. Saya hanya ingin semua yang saya cintai baik-baik saja. Karena saya mendamba dan masih memiliki keyakinan bahwa suatu saat, lagu John Lennon yang berjudul Imagine bisa dijadikan acuan dalam hidup di dunia.
Sekian,

selamat malam dan semoga anda hidup dalam damai senantiasa. 

Thursday, 13 November 2014

Untitled 1.0

Kepada serupa surga yang kutatap nanar sedang berjelaga,
sore ini
di bawah hujan yang tak mereda.
Kata orang, rindu itu indah
Tapi bagi saya, batas dan pisah kian meresah.

Biar, hancur ini menjadi debur
Meluncur, jauh
Hingga sepasang kakipun tak mampu mengejar

Biar, sampan ini mengapung untuk kabur
Lautan ganas kian menyembur

Tuk tegakpun tak kuasa aku;
menelan segala ikhlas dan pinta
dalam selimut nelangsa
dan denting pertanda ragu

Ah
Biarlah dia lari dikejar waktu
dan mengayuh
sampai lelah dan mengaduh
Hingga apabila kambuh
sampannya rapuh
terseduh.

Biar, ucapku.
Dalam biru aku menyeru
biar tenggelam saja dirimu
dalam
dalam
dalam

ditelan palung lautan.


Hey, lover boy.
Mungkinkah semua tanya kau yang jawab?

Tuesday, 11 November 2014

Soon, My Friend

Selasa, 11 November 2014

Dibalik orang-orang sibuk, ada sesuatu yang ingin mereka lupakan.
Begitu kurang lebih yang mampu saya katakan dengan betapa hectic hari saya belakangan. Ya, saya mencoba untuk kembali ke rutinitas yang mampu membuat saya terlelap dengan amat nyenyak dan badan ngilu semata-mata karena saya ingin melupakan segala sesuatu yang pernah membuat saya bertumpu dalam waktu yang lama. Saya tersenyum, karena sore ini, di bawah cuaca Bandung yang teramat dingin dan berkabut, saya terhenyak dan mampu menulis lagi di kamar. Sendiri, menikmati lelah dan menikmati pagi siang sore hari. 
Saya mencoba untuk kembali berkomunikasi dan bicara kepada diri saya sendiri. Bahwa dalam segala nyata dan tidak nyata yang Ilahi, ada suatu hal yang hendak Ia sampaikan. Bahwa dengan perlahan tapi pasti, derita tak akan selamanya bertahan. Dan dalam segala proses yang menyakitkan, manusia pasti mampu berdiri lagi, tegar dan mungkin berubah jadi dewasa kembali. Mungkin inilah proses yang harus saya rasakan. Kembali kehilangan sampai suatu saat... kembali menemukan.
Saya belajar banyak dari apa yang saya lalui. Saya belajar banyak dari apa yang pernah saya jadikan alasan dan tumpuan dari definisi kebahagiaan. Bahwasanya tidak baik untuk menjadikan sebuah pribadi sebagai alasan untuk kita bahagia. Karena mata sekarang terbuka, dan kelak akan mampu melihat ke luar dunia, bahwa masih banyak hal yang mampu membuat saya bahagia. 
Bahagia itu sederhana, sesederhana bisa kuliah, bisa tertawa bersama sahabat-sahabat, memiliki keluarga yang rukun dan mampu dijadikan sahabat, bisa memiliki materi yang tidak berkekurangan, dan terus mengucap syukur karena Yang Esa telah memberikan apa yang telah saya terima. Sesederhana itu. Sesederhana bersyukur. 
Hidup tidak selamanya tentang cinta.
Itu hal paling nyata yang saya pelajari, bahwa kelak masih ada hal lain yang patut dan lebih waras untuk dipusingkan dibanding sekedar menangis karena kaum adam. Ah, apalah artinya apabila kita bisa sendiri dan menciptakan definisi bahagia kita sendiri. Toh, kelas Teori Hubungan Internasional ditiadakan saja saya bahagia bukan main. 
Ya, sesederhana itu. 

Monday, 10 November 2014

Rindu

Bila hembus angin mampu merangkul pekat malam
kuharap hembus nafas mampu merangkul raga dalam diam.

Bila bisik dan resah mampu memekikan rindu
kuharap doa mampu mengecup keningmu.
Hangat;
dalam belaian tiap kata yang terucap.

Aku hening 
pun membisu.
Sadar waktu dan ruang,
hanya hampa dan hati yang mampu meronta
berharap tuk tenang
karena kian mengikhlaskan kehilangan.

Dalam rupamu 
mampu aku bersujud, bertelut.

Dalam pesonamu,
mampu aku bersanding 
mengikat lidahku erat
agar tak usah kata-kata itu mencuat.

Ada apa dengan sang pujangga?
Kini bahkan hingarpun tak membuatnya pengar
dan dengan mata terpejampun
ia hanya mampu berdoa
dan menggapai cinta dalam batas angan saja.

Biar
bahagia kelak merenggut hidupnya dan kamu
agar 
semata-mata kamu 
tak lagi terbata dalam mengucap cinta.

Bandung, 10 November 2014
salam rindu yang hendak menusuk kalbu
biar angin pintaku;

yang sampaikan padamu. 



Biar ini jadi rahasia aku dan kamu
di bawah langit yang tak berbintang
ini hanya ilusi
yang dulu dan sekarang
kan selalu jadi bunga tidurmu.

Friday, 7 November 2014

Everybody's Leaving In The End

Life is a journey.
Dan dalam perjalanan yang tidak selalu mulus dan lurus itu, banyak hal yang bisa kita temui. Mulai dari begitu banyak mobil misalnya, begitu banyak orang yang berbeda-beda; semakin membuat kita terpesona sampai membelalakan mata karena pribadi yang begitu istimewa. Beberapa orang memutuskan untuk singgah bersama dalam waktu yang cukup lama, ada juga yang hanya sekedip mata. Semua ada alasannya, dan sudah ditentukan oleh Sang Hyang di Atas Sana.

Seiring kita melaju pula, orang berubah. Ada yang awalnya bersahabat, kemudian dengan bersama tersesat, dan akhirnya apa, mereka minggat. Because in the end, we’re all alone. Tanpa ada hembusan nafas lain dari hidung insan, selain satu hidung dan sepasang paru-paru yang telah tercipta bagi kita. Kita lahir sendiri, kita berjuang sendiri, dan mati sendiri. 

Mungkin tidak akan pernah mudah bagi kita yang pernah merasa kehilangan, entah benda entah manusia, untuk kembali merasa kehilangan. Tapi percayalah,  bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tidak dapat dilalui manusia. Semua masih dalam batas wajar, karena Tuhan merencanakan yang terbaik, Tuhan tahu dan paham pasti apa yang akan kita dapatkan akan selaras dengan apa yang telah kita perjuangkan. 

Belasan tahun mengembara, terkadang saya bertapa dan berucap tanya “kapan saya disuruh pulang oleh Yang Di Atas Sana?” Saya merasa sudah cukup, ungkap saya. Begitu banyak keputus asaan, hingga begitu banyak pula manusia yang bolak-balik menjadikan saya tempat persinggahan mereka untuk sementara, dan secara tidak langsung membantu saya supaya bangkit dari keterpurukan saya. 
Tapi ya itu tadi. Di dunia ini, kita tidak bisa percaya siapapun, termasuk diri kita sendiri. Mungkin saya terlalu realis, mungkin saya terlalu Marxis, tapi saya percaya bahwa pada dasarnya manusia itu jahat dan mengutamakan kekuatan dan kekuasaan. Manusia akan berusaha sebagaimana mungkin untuk saling menjatuhkan, menghalalkan 1001 cara agar semata-mata mereka bisa berkuasa dan merebut tahta. Go ahead, you can tell me that I’m so old school. But it’s alright, it’s all about protecting yourself from getting hurt, getting fall, and getting too easily trust someone.

Sebab dalam ziarah saya di dunia ini, saya mungkin belum terlalu banyak bertemu orang baru. Tapi saya cukup paham arti persahabatan dan kepercayaan. Saya cukup paham arti dari jangan terlalu mudah percaya kepada siapapun, not even your family, not even yourself. Maafkan saya apabila seringkali Anda melihat saya, berjalan sendiri dengan tegap dan dagu terangkat, semata-mata hanya untuk menaikkan martabat. Barangkali Anda mengenal saya sebagai sosok yang jahat, but it’s okay, karena saya manusia. Anda juga manusia, dan saya yakin pada dasarnya manusia itu jahat. 

Ada suatu masa dimana saya sempat menjadi pribadi yang amat liberalis. Terus bekerjasama dan melakukan diplomasi sana-sini untuk menyelesaikan masalah. Tapi toh, ujung-ujungnya itu tadi, semua saling menjatuhkan dan apalah guna Tuhan memberi 2 tangan dan ratusan macam otot di dalam tubuh manusia apabila saya hanya dapat mengandalkan kekuatan mulut dan kepintaran berbicara setiap saat? Sehingga di satu titik itu, mata saya terbuka. Sekarang saatnya untuk angkat senjata, dan berjuang walau penuh peluh dan tumpah darah.

Saya sudah merasakan berkali-kali patah hati. Ditinggal, dicaci, hingga saat ini saya memutuskan untuk berdiri sendiri. Mencoba maju tanpa harus percaya siapapun lagi. Mungkin lelah dikhianati? Ah sudahlah, picisan. Tiada guna menulis hal yang harkatnya bahkan lebih rendah dari neraka. 
Dan hingga saat ini, saya sampai linglung dan tak berarah. Bingung hendak percaya siapa. Karena ya itu…

everybody’s leaving in the end. 

Monday, 3 November 2014

Disandera Hingar Bingar, Dirangkum dalam Patah Kata

Luput dalam jiwa 
Api membara membakar raga
Lupa ditatap mata
Tak jua membawa suka.
Pertanda kah?
Atau malah sekedar meraba-raba
dalam batin menganga
merangkai sejuta tanya tanpa jawab
menerka;
namun berujung nista.

Sumpah, dilema.
Ah, picisan.
Nurani mulai mendamba harmoni
tapi yang ada berbuah suaka.
Melestarikan apa?
Lagi-lagi pertanda jalang
merambah hingga ke dua tiga persimpangan
yang berujung
kebuntuan.

Salam dari kota Bandung,
yang cuacanya belakangan mendung
langit lembayung

membawa kewajiban yang tak kunjung rampung.

Now Playing:
The Radio Dept. - Strange Things Will Happen
Jack Johnson - Sitting, Waiting, Wishing
Flume - Insane
Float - Stupido Ritmo

And That's How Life Rolls...

Begitulah, setelah sekian lama mencoba memutar otak dan berasumsi bolak-balik sendiri, saya berhasil mematikan satu lilin lama dan mengganti dengan lilin yang baru. Meski hanya sekedar meniup dan menghembuskan napas, rupanya tidak semudah itu. Tiap semilir angin memiliki ceritanya masing-masing. Pun juga dengan sepasang paru-paru yang diberi Tuhan supaya kita bisa berziarah di dunia ini. 
Di situlah letak kelakar yang nyata. Bahwa seringkali, kepedihan dan air mata mengundang banyak pasang mata pula yang bersatu, duduk bersila dan terkadang sambil memeluk erat bantal-bantal, saling menyediakan bahu mereka, berbagi nelangsa yang sama. 
Di situlah letak kelucuan yang sangat nisbi. Bahwa dengan gelak tawa dan genggaman erat telapak-telapak tangan, kami menghadapi dunia. Yang diawali dengan ratap dan kertak gigi mampu berakhir dengan senyum serta canda. Dan biarkan saya memulai kisah saya…

Rupanya, indah menurut manusia tak selamanya sama dengan indah menurut Yang Esa. Mungkin Yang Esa sudah menyiapkan jalan nasib dan roda kehidupan bagi tiap umatNya, karena Ia tidak pernah tidur. Dengan secangkir cokelat hangat dan selimut merah muda kebanggaan, saya mulai menulis lagi. Mengisi perputaran jarum jam yang kian menunjukkan waktu semakin larut, tidak membuat semangat saya menciut. Saya sadar bahwa inilah kesempatan saya menumpahkan segalanya, dan hanya dengan aksara sajalah saya mampu bersandar. 
Langit telah beristirahat dalam pekat. Malam yang membisu semakin membungkam mulut yang tak mampu lagi berucap. Karena lidah semakin kelu dan gigi kerap mengertak. Mungkin dingin yang menusuk sembilu kian menyayat sampai ke belikat. Kinilah saatnya mata tertutup rapat dan biarkan hanya hati saja yang bersilat. Biar waktu yang menjawab dan biar angin meniupkan segala macam perahu dan perkara yang membawa ke ombak dan samudera yang luas. 
Saat inilah, saya merasa baik-baik saja. Saya merasa bahwa inilah yang saya butuhkan, ketimbang mabuk dalam air mata sendiri dan berfikir keras bertanya-tanya tentang rasi bintang sampai bicara soal angan-angan. It’s all in my mind. Saya merasa saya baik-baik saja, dan akan selalu baik-baik saja. Itulah yang jadi kenyataannya. Dalam pilu saya tertawa dan dalam bahagia saya menyeru meronta pertanda tak bahagia. Tapi toh saya menghargai waktu dan rencana. Yang tentu keputusan akhir jatuh ke tangan Yang Maha Esa. 

Ya, bilamana ada mata yang membaca, saya sampaikan bahwa kamupun akan baik-baik saja. Kita memang pernah jatuh bersama dan malam ini (hampir) menangis bersama. Tapi percayalah, ini adalah malam yang paling indah buat saya. Saya tau kamu akan baik-baik saja dan kamu akan hidup dalam bahagia sesudahnya. Jalani impianmu dan jangan pernah biarkan orang lain menyetir hidupmu. Because you know, I cared for you then, I care for you now, and I’ll care for you later. Good luck, au revoir. 

https://www.youtube.com/watch?v=vyT-oGDnMqE 

:")

Saturday, 1 November 2014

Fresh New Start

Dengan semua yang terjadi belakangan ini, saya memutuskan untuk memulai awal yang baru. Di bulan baru, saya memutuskan untuk mulai lebih banyak tersenyum, lebih banyak makan sehat, dan tidak lagi mengeluh terus-menerus terhadap apa yang diberikan Tuhan kepada saya sebagai umatNya.
Saya sadar memang manusia pasti berubah seiring berjalannya waktu, dan percuma juga sehebat apapun aksi saya untuk mencegah orang-orang disekitar saya berubah, pasti mereka juga akan tetap berubah. Dan saya memutuskan untuk tidak masalah.
And please, wish me luck on everything.
New Hair!!!