Begitulah, setelah sekian lama mencoba memutar otak dan berasumsi bolak-balik sendiri, saya berhasil mematikan satu lilin lama dan mengganti dengan lilin yang baru. Meski hanya sekedar meniup dan menghembuskan napas, rupanya tidak semudah itu. Tiap semilir angin memiliki ceritanya masing-masing. Pun juga dengan sepasang paru-paru yang diberi Tuhan supaya kita bisa berziarah di dunia ini.
Di situlah letak kelakar yang nyata. Bahwa seringkali, kepedihan dan air mata mengundang banyak pasang mata pula yang bersatu, duduk bersila dan terkadang sambil memeluk erat bantal-bantal, saling menyediakan bahu mereka, berbagi nelangsa yang sama.
Di situlah letak kelucuan yang sangat nisbi. Bahwa dengan gelak tawa dan genggaman erat telapak-telapak tangan, kami menghadapi dunia. Yang diawali dengan ratap dan kertak gigi mampu berakhir dengan senyum serta canda. Dan biarkan saya memulai kisah saya…
Rupanya, indah menurut manusia tak selamanya sama dengan indah menurut Yang Esa. Mungkin Yang Esa sudah menyiapkan jalan nasib dan roda kehidupan bagi tiap umatNya, karena Ia tidak pernah tidur. Dengan secangkir cokelat hangat dan selimut merah muda kebanggaan, saya mulai menulis lagi. Mengisi perputaran jarum jam yang kian menunjukkan waktu semakin larut, tidak membuat semangat saya menciut. Saya sadar bahwa inilah kesempatan saya menumpahkan segalanya, dan hanya dengan aksara sajalah saya mampu bersandar.
Langit telah beristirahat dalam pekat. Malam yang membisu semakin membungkam mulut yang tak mampu lagi berucap. Karena lidah semakin kelu dan gigi kerap mengertak. Mungkin dingin yang menusuk sembilu kian menyayat sampai ke belikat. Kinilah saatnya mata tertutup rapat dan biarkan hanya hati saja yang bersilat. Biar waktu yang menjawab dan biar angin meniupkan segala macam perahu dan perkara yang membawa ke ombak dan samudera yang luas.
Saat inilah, saya merasa baik-baik saja. Saya merasa bahwa inilah yang saya butuhkan, ketimbang mabuk dalam air mata sendiri dan berfikir keras bertanya-tanya tentang rasi bintang sampai bicara soal angan-angan. It’s all in my mind. Saya merasa saya baik-baik saja, dan akan selalu baik-baik saja. Itulah yang jadi kenyataannya. Dalam pilu saya tertawa dan dalam bahagia saya menyeru meronta pertanda tak bahagia. Tapi toh saya menghargai waktu dan rencana. Yang tentu keputusan akhir jatuh ke tangan Yang Maha Esa.
Ya, bilamana ada mata yang membaca, saya sampaikan bahwa kamupun akan baik-baik saja. Kita memang pernah jatuh bersama dan malam ini (hampir) menangis bersama. Tapi percayalah, ini adalah malam yang paling indah buat saya. Saya tau kamu akan baik-baik saja dan kamu akan hidup dalam bahagia sesudahnya. Jalani impianmu dan jangan pernah biarkan orang lain menyetir hidupmu. Because you know, I cared for you then, I care for you now, and I’ll care for you later. Good luck, au revoir.
https://www.youtube.com/watch?v=vyT-oGDnMqE
:")
No comments:
Post a Comment