Hidup itu jahat. Hidup itu sadis. Hidup itu tidak adil.
Sebegitu banyaknya pernyataan dan pertanyaan yang terlontar dari mulut insan tentang kehidupan. Kehidupan yang katanya laknat, kehidupan yang katanya tak kunjung membawa bahagia. Malah konon membawa azab dan sengsara. Sebegitu nistanya kah pikiran kalian, manusia ciptaan Tuhan, tentang kehidupan? Belum pernahkah kalian mensyukuri apa yang masih ada dan tersisa dari diri kalian? Sungguh mengenaskan. Itulah sumber dari apa yang membuat kalian menangisi, meratapi, merutuki, dan bahkan menyesali kehidupan.
WAHAI INSAN!
SADARLAH!
BANGUNLAH!
Dengar.
Kita hidup bukan untuk orang lain. Kita hidup untuk berjuang. Kita hidup untuk bertahan. Bertahan menjadi diri sendiri disaat keadaan dan semua orang sepertinya memaksa kita untuk berubah menjadi pribadi lain yang tak dikenali oleh mata batin kita sendiri, oleh kita. We are here not to please anyone.
Saya memang masih tujuh belas tahun. Saya belum banyak makan asam garam. Lebih banyak makan bihun. Jadi mohon maaf kalau kesannya omongan saya itu sebatas dibekali memori silam. Saya cuma mau bilang, kalau di dunia ini tidak ada yang bisa kita percaya sepenuhnya selain diri kita sendiri. Even your family. Tidak bermaksud untuk menghasut. Tapi memang begitu toh? Hidup ini seperti benang kusut. Yang betul-betul butuh diusut. Supaya perkara dan problematikanya tak lagi berlanjut.
Ingat.
Hidup kita-kita manusia yang sering mengeluh dan melenguh merasa jenuh ini, tak seberapa dibanding derita milyaran kepala di luar sana. Mereka yang menerjang luka dan memasang senyum di atas durja demi mencari harta yang fana. Mereka yang kerap mengais onggokan sampah demi secercah sedekah. Mereka yang mengemis, menangis, meringis, teriris, dikata najis, tak perduli betapa sadis, semua lagi-lagi demi segenggam beras. Segenggam harapan. Yang naas. Yang mungkin hanya impian, tak kunjung jadi kenyataan, bagi seganjil insan.
Coba tengok lagi. Masih banyak hal yang patut disyukuri. Bahkan kau bernafas pun seharusnya bisa disyukuri. Karena dalam setiap tarikan maupun hembusan nafas dari bibir dan mulut pertama di pagi ini, ada sejuta orang yang menghembuskan nafas terakhirnya di luar sana. Ada jutaan orang yang divonis mengidap penyakit yang macam-macam. Semua terjadi dalam tempo waktu yang sama dan sesingkat-singkatnya. Lihat. Sadari. Betapa beruntungnya kalian tukang mengeluh! Yang bahkan belum pernah menteteskan peluh demi uang. Pernahnya cuman mau 'senang'. Itu juga kalau kalian cukup peka untuk paham apa yang coba saya ungkapkan. Sayangnya otak kalian terlalu penuh dengan kemunafikan, kekotoran, ilusi, dan duniawi. Mati sana. Masuk neraka. Jangan ke surga. Apalagi gentayangan tak tenang di dunia.
Masih berani mengeluh?
Masih berani meringis?
Masih berani membandingkan perkara kalian dengan orang lain?
Seorang teman pernah mengatakan, "Tuhan memberikan cobaan ke semua manusia dengan takaran yang sama. Hanya saja jenisnya berbeda-beda." Coba saja telusuri apa maksudnya. Biar otak kalian terpakai. Tak melulu jadi orang tolol. Yang bisanya dongkol dan mainan kon*ol.