Bila hembus angin mampu merangkul pekat malam
kuharap hembus nafas mampu merangkul raga dalam diam.
Bila bisik dan resah mampu memekikan rindu
kuharap doa mampu mengecup keningmu.
Hangat;
dalam belaian tiap kata yang terucap.
Aku hening
pun membisu.
Sadar waktu dan ruang,
hanya hampa dan hati yang mampu meronta
berharap tuk tenang
karena kian mengikhlaskan kehilangan.
Dalam rupamu
mampu aku bersujud, bertelut.
Dalam pesonamu,
mampu aku bersanding
mengikat lidahku erat
agar tak usah kata-kata itu mencuat.
Ada apa dengan sang pujangga?
Kini bahkan hingarpun tak membuatnya pengar
dan dengan mata terpejampun
ia hanya mampu berdoa
dan menggapai cinta dalam batas angan saja.
Biar
bahagia kelak merenggut hidupnya dan kamu
agar
semata-mata kamu
tak lagi terbata dalam mengucap cinta.
Bandung, 10 November 2014
salam rindu yang hendak menusuk kalbu
biar angin pintaku;
yang sampaikan padamu.
Biar ini jadi rahasia aku dan kamu
di bawah langit yang tak berbintang
ini hanya ilusi
yang dulu dan sekarang
kan selalu jadi bunga tidurmu.


No comments:
Post a Comment