Tanggal: 15 Mei 1998
Tempat: SDN 227
Siang
itu benar-benar terik dan panasnya menyengat. Peluh sudah bercucuran dari
keningku dan turun sampai ke dagu. Aku juga merasakan hangatnya peluh yang ada
di dalam baju seragam yang berjilbab ini.
“Cici!
Kita pulang bareng yuk! Sekali-sekali ajarin aku naik angkot sampai ke Duren
Sawit bisa kan ?” Teriakan yang mengejutkanku itu ternyata berasal dari Lila,
sahabatku yang orang kaya dan selalu pulang dijemput supirnya.
“Tentu
saja, La. Tapi apa kamu yakin? Kamu kan biasanya di mobil yang mewah dan
ber-AC” tanyaku ragu.
“Yakin
lah, Ci! Nurjanah juga mau ikut sepertinya. Yuk, Ci, kita ke kantin dulu!
Pengin beli es mambo!” kata Lila seraya menarik seragamku. Akupun turut ikut
bersama Lila ke kantin. Aku merogoh sakuku untuk mengambil uang. Ternyata aku
hanya punya uang 200 rupiah, dan itu hanya untuk pulang. Maka nasibku tidak
jadi membeli es mambo stroberi itu.
Tempat: Kampus A
Fakultas Komunikasi Universitas Sumber Ilmu
Aku
melangkahkan kakiku ke ruang Pak Misro, dosenku yang terkenal killer dan
bengis. Untuk apa? Yah, apalagi kalau bukan untuk menyerahkan skripsi hasil
revisi dan kerjaanku semalaman. Aku sampai tidak makan dari semalam hanya untuk
mengurus skripsi laknat ini. Karena skripsiku yang tidak pernah diterima, aku
sudah 7 tahun kuliah dan tidak lulus-lulus juga. Sungguh menyedihkan.
“Elma!
Mau ke ruang si Misro ya? Ikut dong, sekalian jalan bareng ya!” teriak Isa, perempuan
imut yang seharusnya jadi juniorku itu, tapi karena aku yang tak kunjung lulus,
akhirnya membuatku dan Isa satu angkatan.
“Iya,
yaudah cepet sini lu.” Balasku seadanya. Akhirnya kami berjalan dengan langkah
gontai menuju ke ruang Pak Misro.
Tempat: Mikrolet 26
jurusan Kampung Melayu-MM
“Cici,
besok ajarin aku Matematika ya sebelum ulangan? Aku yakin sekali malam ini aku
tidak akan sempat belajar, soalnya nanti malam mau ke acara ulang tahun kakak
sepupuku di daerah Pondok Kelapa.” Kata Nurjanah sambil menghisap es mambo
ketiganya. Aku hanya mengangguk pelan dan tersenyum. Ah, dasar anak-anak orang
kaya ini. Bukannya aku sirik, tapi apakah lebih baik jika mereka memikirkan
pendidikan mereka dulu sebelum bersenang-senang? Ya sudahlah, itu pilihan
mereka. Aku tidak akan ikut campur. Ternyata pemberhentianku sudah tiba. Yap ,
Cipinang Bali.
“Lil,
Nur, aku duluan ya? Hati-hati di jalan. Assalamu’alaikum…” pamitku. Lalu aku
segera turun dan berjalan kaki ke rumahku yang sangat sederhana itu.
Tempat: ruangan Bapak
Misro.
“Isa,
kamu bisa keluar sekarang. Bapak ingin bicara dengan Felmansya.” Kata Pak Misro
tegas – cenderung mengintimidasi. Isa menatapku dengan rasa kasihan dan
khawatir, namun aku membalasnya dengan tatapan dan senyuman yang mengartikan
“aku akan baik-baik saja”. Seperginya Isa dari ruangan Pak Misro, Pak Misro
mulai berbicara kepadaku.
“Felmansya,
kamu sudah ratusan kali datang ke ruangan bapak dan meminta bapak untuk
merevisi skripsimu. Sejujurnya, Bapak merasa bahwa tidak ada yang berubah
dengan penulisan skripsimu ini. Bukannya saya peduli padamu, tapi saya hanya
khawatir, mau sampai berapa lama kamu kuliah di sini? Saya tahu dan semua orang
di Fakultas, bahkan di Universitas inipun mungkin tahu, bahwa keinginanmu yang
terbsesar adalah untuk menduduki dan memasuki kancah politik di gedung DPR.
Tidak bisakah kau sedikit realistis, Felmansya? Cita-citamu ini bukannya
memberikan dorongan bagimu untuk maju dan segera merevisi tuntas skripsimu,
malah hanya menghambatmu.” Kata si bapak tambun satu ini. Emosiku yang menyala
karena cuaca panas ini, semakin dikobarkan oleh karena omongan sok tahu dosen
satu ini.
“Maaf,
Pak. Bukannya saya tidak sopan sama bapak. Saya menghargai kepedulain Bapak
terhadap saya. Tapi apabila Bapak tidak tahu apa-apa tentang kehidupan saya dan
mimpi saya, apa tidak sebaiknya bapak diam saja? Kalau bapak memang tidak suka
dan sudah lelah untuk merevisi skripsi saya, saya bisa kok cari dosen lain yang
mau menjadi pembimbing saya, bukan untuk mengintimidasi saya! Dan lihat saja
pak. Suatu saat nanti, saya akan buktikan sama bapak. Sekarang zaman sudah
berubah dan sudah waktunya wanita punya suara dan berhak menduduki kursi DPR!
Saya hanya ingin mengubah Indonesia dan segala tetek bengeknya. Lihat nanti Pak.
Suatu saat nanti! Saya permisi Pak. Saya lelah. Selamat siang.” Kataku
berapi-api dan segera beranjak dari ruangan Pak Misro.
Tempat: Rumahku di
Cipinang Bali .
“Assalamu’alaikum
Ibu…” sapaku sebelum masuk rumah. Ternyata Ibu sedang terbaring lemah di
kasurnya yang sudah lapuk.
“Uhuk,
uhuk… Waalaikumsalam, nak… Baru pulang, Ci? Maaf ya nak…uhuk…uhuk… Ibu nggak
sanggup masak dan beli makanan. Belum ada uang, Ci. Seharian Ibu di rumah dan
nggak mampu buat kue untuk dijual, Ci… cici mau tolong ibu?” kata ibu lemah.
Akupun segera menyanggupi permintaannya itu dan beranjak ke samping ibu.
“Siang
ini…uhuk..uhuk…kamu bisa mengamen nggak Ci di lampu merah, biasa lah, Ci… Ibu
benar-benar…uhuk…uhuk…butuh uang untuk beli obat dan makan… Cici mau kan tolong
ibu?” pinta ibu. Aku tidak pernah sanggup melihat ibu merana seperti ini. Maka
setelah ganti baju dan minum segelas air putih, akupun langsung mengurungkan
niatku untuk belajar Matematika. Aku melesat pergi dengan kecrekan dan gelas
bekas MC’D.
Tempat: Metromini 107,
daerah Pangkalan Jati
Waktu: 16.00 WIB
Aku
benar-benar kepikiran dengan perkataan dosen sok tahu tadi. Aku benar-benar
memikirikan dan mulai merasa ada kebenaran yang terucap dari bibirnya tadi.
Namun aku tidak mau terlalu memikirkannya karena aku tahu pilihanku itu benar.
Aku bisa mengubah Indonesia , bahkan dunia, dari krisis moneter yang terjadi
belakangan ini. Salahkan Soeharto. Pikirku. Karena penatnya
hari walau jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, aku menyeruput es teh manis yang
tadi aku beli di depan kampus. Saat aku merenung, tiba-tiba ada
pengamen, gadis cilik yang cukup manis, melantunkan lagu berbau politik dan
lagunya itu membuat semangatku untuk bermimpi kembali membara. Darah Juang.
Disini
Negeri kami, tempat padi terhampar
Samuderanya..
kaya raya
Negeri
kami subur Tuhan….
Di
negeri permai ini
Berjuta
rakyat bersimbah luka
Anak
buruh tak sekolah
Pemuda
desa tak kerja
Mereka
dirampas haknya
Tergusur
dan lapar
Bunda
relakan darah juang kami
Tuk
bebaskan rakyat
Padamu
kami berjanji
Padamu
kami berbakti
Ya, itu lagu yang dilantunkan oleh gadis
cilik yang satu ini. Aku suka gayanya. Aku tersenyum dan ikut bersenandung
dalam hati.
“Terima
kasih semuanya. Tolonglah bantu saya karena saya butuh beli obat untuk ibu saya
yang sedang sakit.” Pintanya dengan memelas sambil menyebarkan amplop lusuh.
Tanpa pikir panjang, aku langsung memasukkan uang sebesar Rp 500,00 untuknya.
Tempat: Lampu merah
Pangkalan Jati
Aku
senang sudah dapat uang, walau tidak banyak. Tapi aku punya Rp 5.000,00 sore
ini hasil mengamen di lampu merah dan di metromini tadi. Penumpang metromininya
baik-baik, jadi ada yang memberiku 100 rupiah, bahkan ada kakak cantik yang
memberiku 500 rupiah. Alhamdulilah, semoga amal semua penumpang tadi kepada
gadis kecil sepertiku dapat dibalas oleh Allah. Setelah menyimpan hasil
mengamenku tadi di saku celanaku, aku pergi ke apotik untuk membeli ponstan
buat ibu. Kasihan ibu, dia sakit-sakit terus. Aku tidak sanggup melihatnya
seperti ini. Semoga obat penahan rasa sakit ini bisa membantu, karena ibu terus
mengeluh tentang rasa sakitnya di bagian rahim. Tersadar bahwa waktu sudah
berjalan dan aku belum membeli nasi padang untuk ibu makan, aku langsung
melangkahkan kakiku ke sebuah restoran Padang di pinggir jalan dan membeli nasi
dengan kuah gulai. Alhamdulilah, ternyata uangku masih sisa Rp 2.000,00. “Ya
Allah, terima kasih karena rezeki yang telah Engkau berikan kepada hamba.”
Kataku mengucap syukur. Aku langsung mencari angkot untuk pulang dan kembali
membawa uang, obat dan makanan bagi ibuku.
Tempat:
Rumah kos-ku di Jatiwaringin.
Aku
membuang gelas bekas es teh-ku sembarangan. Aku tidak tahu gelas itu terjatuh
dimana, sungguh, bahkan otakku ini sudah tidak mampu – dan aku tidak mau –
untuk memikirkan hal sekecil itu sekalipun. Aku sudah benar-benar penat. Aku
melempar tas selempang cokelatku itu ke sembarang tempat, dan aku menghempaskan
tubuhku ke ranjang. “Tuhan Yesus, aku bener-bener nggak tahu mau gimana lagi.
Aku nggak kuat Tuhan. Di satu sisi, aku benar-benar menginginkan mimpiku untuk
berdemonstrasi dan menduduki kursi DPR terwujud. Namun aku juga nggak bisa
terus-terusan bertahun-tahun nggak lulus kuliah seperti ini Tuhan. Kasih aku
jalanMu Tuhan. Aku tahu rencanamu pasti indah bagiku.” Doaku kepada Tuhan.
Sungguh, hanya Tuhan-lah satu-satunya tempatku berserah saat ini. Eh, kok aku
jadi tiba-tiba sok begini ya? Ah, sudahlah, sekarang aku harus mandi dan
keramas dengan air dingin supaya kepalaku tidak terlalu penat dan panas lagi.
Lalu aku beranjak mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi.
Tempat:
Rumahku di Cipinang Elok.
“Assalamualaikum
ibu... ibu lihat! Aku dapat uang banyak bu hasil tadi mengamen. Allah lagi baik
sama Cici bu, makanya sekarang aku bahkan bisa beli obat dan nasi padang buat
ibu. Uang sisanya nanti akan aku tabung bu, mungkin di lain waktu kita akan
membutuhkan uang ini bu.” Kataku bersemangat dan sumringah kepada ibuku yang
terbaring lemah di kasur lapuk itu.
“uhuk...uhuk...
Iya Ci, alhamdulilah. Allah baik sama kita orang-orang kecil ini. Ci, besok
kamu ada ulangan tidak? Uhuk..uhuk...kamu mandi gih, Ci, abis gitu shalat dan
belajar. Sudah maghrib ini Ci.” Kata ibu halus sambil membelai kepalaku. Aku
tersenyum hangat dan mengangguk.
Tempat:
Wartel di daerah Jatiwaringin.
“Halo,
selamat sore. Bisa bicara dengan Ridho? Ini dari Elma, temannya. Iya, terima
kasih.” Kataku di telepon sambil menunggu pembantu Ridho memanggilkannya. Ridho
adalah temanku yang mempunayi visi dan misi yang sama denganku. Hanya saja, ia
dari Fakultas Hukum. Kami sama-sama ingin menduduki bangku di DPR dan
berdemonstrasi kepada pemerintahan di Indonesia. Hah, aku sungguh ingin serius
menjalani mimpiku ini. Dan aku benar-benar butuh Ridho sebagai pasanganku yang
mempunyai impian yang sama.
“Halo,
kenapa El? Kayaknya penting banget nih sampai nelpon ke rumah gue segala.
Kenapa?” tanya Ridho dari telepon.
“Dho,
gue kepikiran sama perkataan dosen gue yang bilang kalo mimpi gue itu nggak
realistis dan nggak sepantasnya gue impiin bahkan wujudin, Dho. Karena mimpi
gue itu terlalu menghambat pekerjaan skripsi gue yang emang parahnya nggak
kelar-kelar. Tapi karena gue udah stres duluan dan nggak mau denger perkataan
dia yang lebih lanjut, jadi gue langsung tinggalin ruangannya dan bilang ke dia
kalo gue akan buktiin sama dia suatu saat nanti, Dho. Kalo gue bisa berdemonstrasi
sampai Pak Soeharto turun jabatan.” Kataku emosi.
“Sejujurnya
gue kagum sama keberanian lo, El. Dan gue seneng sama pribadi lo yang begitu
ambisius untuk mewujudkan mimpi kita menumpas kedudukan Orde Baru di Indonesia.
Tenang El, gue dan anak-anak fakultas hukum yang lain ada dipihak lo, karena
kita punya visi misi yang sama. Gue juga udah omongin sama anak komunitas lain
yang tentunya juga mulai nggak betah dengan segala krisis dan kedudukan Orde
Baru di Indonesia. Dan hebatnya El.... lo adalah satu-satunya perempuan yang
berani terjun ke lapangan untuk mendemonstrasikannya langsung ke gedung DPR.”
Aku
sumringah dan langsung ceria saat Ridho mengatakan bahwa aku adalah
satu-satunya perempuan yang berani terjun langsung ke lapangan untuk
berdemonstrasi. Yah, aku adalah perempuan yang sangat tomboy dan berani
langsung mengutarakan apa yang tentunya juga menjadi suara hati seluruh
penduduk Indonesia yang gelisah dan tidak mampu beraspirasi pada saat
pemerintahan Pak Soeharto seperti ini. Ya, kalau aku berani, aku pasti bisa
mengubah Indonesia, mengubah dunia, menjadi yang lebih baik.
“Makasih
dukungannya, Dho. Besok rapat ya di Texas Hembo Pondok Kelapa? Kita cabut
kuliah aja lah! Ajak semua komunitas lo juga Dho. Kita ubah Indonesia!” setelah
aku mengucap kata-kata itu, aku langsung menutup teleponnya dan kembali pulang
ke kos dengan tekad yang lebih bulat untuk mewujudkan mimpiku yang sebenarnya.
Waktu:
16 Mei 1998
Tempat:
SDN 227, kelas 4A
“Cici!
Gimana, kemarin kan sudah janji mau ajarin aku Matematika. Ayo, Ci duduk disini
biar bisa ngajarin aku.” Kata Lila. “eh aku juga dong, Ci. Aku semalam sudah
belajar tapi nggak ngerti juga.” Timpal Nurjanah. Kedua sahabatku ini selalu
saja mewarnai hari-hariku di sekolah, dan tentunya mereka juga membuatku merasa
lebih berharga karena bisa mengajarkan apa yang mereka tidak bisa. Bukan hanya
dalam bidang akademik, namun juga mengajarkan tentang perjuanganku dalam
menghadapi hidup sebagai orang susah. Lalu aku mulai mengajarkan mereka
Matematika sebelum akhirnya bel sekolah berbunyi jam 07.00
Tempat:
Faklutas Hukum Universitas Sumber Ilmu
Aku
mencari sosok Ridho. Kemana ya dia? Kemarin katanya sudah sepakat mau bolos
kuliah hari ini. Dicari malah tidak ada.
“Elma!
Sini lu. Ayo langsung cabut ke Hembo dah.” Ternyata Ridho ada kira-kira 10
meter jauhnya di belakangku. Dia mengejutkanku dengan teriakannya. Lalu aku
berlari menuju mobil Mercy-nya itu.
“Maaf
El sudah membuatmu menunggu lama. Tadi gue antarin pacar gue dulu ke sekolah.
Maklum lah, punya pacar anak SMA.” Kata Ridho beralibi. Aku hanya tersenyum
kecil dan tidak menghiraukan apa yang menjadi alasannya. Hanya satu tujuanku,
mewujudkan mimpiku dan teman-teman yang lain. Sesampainya aku di Hembo
Kalimalang, aku langsung melesat ke Texas dan ternyata teman-teman yang berasal
dari komuniats dan universitas lain sudah datang.
“Maaf
ya semuanya membuat kalian menunggu. Oke, kita langsung saja memulai rapat pagi
ini. Perkenalkan, nama saya Maria Gorreti Felmansya, bisa panggil saya Elam.
Saya dari fakultas komunikasi Universitas Sumber Ilmu. Saya dipilih menjadi
ketua oleh teman saya dari fakultas hukum yang tentunya mengenalkan saya kepada
Anda semua, yaitu Ridho Aleandro. Seperti yang kita ketahui....”akupun memulai
rapat itu dengan menjelaskan visi misi dan rencana kedepannya untuk
berdemonstrasi, serta menyusun acaranya. Aku benar-benar serius dalam
mewujudkan mimpiku untuk menjadikan Indonesia negara yang lebih baik.
“Jadi,
beruhubung kita punya visi dan misi yang sama tersebut, kapan kita bisa memulai
untuk berdemonstrasi, di gedung DPR? Ada idekah dari teman-teman?” tanyaku
langsung ke topik pembicaraan. Tidak beberapa lama kemudian ada seorang teman
baru yang bernama Naren mengusulkan waktunya, dan akupun langsung mengiyakan
serentak dengan anak-anak lain. Indonesia, kami datang untuk menjadi malaikat
penyelamatmu.
Tempat:
Kantin SDN 227
Wajah
anak-anak kelas 4A rata-rata sudah stres dan lecek seperti baju yang tidak
disetrika. Hal itu terjadi karena kami baru saja menyelesaikan ulangan
Matematika yang susahnya memang ampun-ampunan.
“Cici,
aku berterima kasih sekali sama kamu. Untung kamu mau mengajarkan kilat
kepadaku tentang materi ulangan tadi. Jadinya aku tidak terlalu kesulitan saat
mengerjakannya. Nanti kutraktir bakso deh, Ci...” kata Nurjanah.
“Iya,
Ci. Aku juga makasih banget sama kamu. Coba kalo enggak ada kamu Ci. Nggak tahu
deh nasibku bagaimana tadi pas mengerjakan ulangannya. Sekali lagi terima kasih
ya, Ci. Kamu memang malaikat penyelamat kita berdua!” timpal Lila. Aku senang
sekali dan sumringah saat mereka berkata itu. Akupun tak segan-segan untuk
mengiyakan tawaran Nurjanah yang akan menraktirku bakso siang itu.
Sesampainya
aku di kantin bakso, tiba-tiba ada anak perempuan yang bertubuh besar menarik
jilbabku. Kontan aku kaget dan meronta.
“Astafirulah!
Apa-apaan sih kamu! Mayza! Ada masalah apa kamu sama Cici? Cici merasa tidak
ada masalah sama kamu!” kataku sambil membetulkan jilbabku.
“Cici,
kamu jadi anak nggak usah sok pintar deh! Mana sukanya cari muka depan
guru-guru lagi, merasa kamu yang paling bisa! Kamu tuh cuman pengamen dan
hanyalah orang miskin Ci! Sadar kamu itu bukan siapa-siapa! Malah banyak gaya!
Aku sudah gerah lihat gayamu yang miskin tapi belagu, Ci! Dasar kampungan
kamu!” teriak Mayza seraya menumpahkan kuah baksonya di atas kepalaku. Aku
memang anak miskin, dan aku tumbuh di lingkungan yang keras pula. Oke kalau
memang dia mau cari masalah denganku. Dengan senang hati akanku tanggapi! Ibu
pernah bilang, jangan malu menjadi anak miskin, dan lawan siapapun yang
menghina kaum miskin dan tak berpunya.
“Jaga
mulut kamu, May! Cici tahu, kamu memang anak kepala sekolah, dan kamu juga
berbadan besar dan tinggi. Tapi bukan berarti kamu bisa menghakimi Cici begitu
saja tanpa tahu apa-apa tentang Cici dong! Dan jangan pernah menghina Cici
seperti itu, Cici nggak suka!” balasku. Aku tidak mau ikut-ikutan menumpahkan
baksoku diatas kepalanya. Sayang sekali kalau kutumpahkan, aku saja orang tidak
berpunya, mau sok-sokan buang makanan.
Mayza
tentunya tidak terima dengan perkataanku yang seakan semakin memanaskan kobar
api emosinya. Dan dia mulai menamparku, akupun balas menendang kakinya. Hingga
akhirnya...
“Cici!
Mayza! Ikut Ibu ke ruang guru!”
Tempat:
Hembo Kalimalang
Aku
dan teman-teman yang lain akhirnya sudah sepakat dan siap menjalankan misi
demonstrasi kami di depan gedung DPR beberapa hari lagi. Memang sih agak
mendadak, tapi memang ini yang harus dilakukan kalau mau mimpi kami tercapai.
Toh setidaknya kami sudah mengusahakan untuk mengubah negara kami ini dan
mewujudkan cita-cita kami.
“El,
gue benar-benar kagum sama keberanian lo untuk mewujudkan mimpi lo yang kata
dosen lo nggak realistis ini. Tapi gue salut, El. Lo gigih banget.” Kata Ridho
tulus sambil menepuk punggungku. Aku tersenyum dan mengangguk.
“terkadang
memang kita harus menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kita
impikan kan, Dho?”
Tempat:
Ruang Guru SDN 227
“Cici,
Ibu sungguh kecewa dengan perilakumu hari ini. Kamu selama ini menjadi anak
yang rajin, pintar, dan berprestasi. Kamupun selalu menjadi andalan sekolah ini
apabila mau pergi lomba diluar dan kamu mendapatkan beasiswa terus. Namun
mengapa kamu harus berkelahi dengan Mayza secara tidak dewasa seperti ini? Ibu
benar-benar kecewa, Ci.” Kata Bu Fatimah.
“Maafkan
saya, Bu. Saya juga tidak akan memulai pertengkaran kalau tidak dimulai oleh
Mayza, Bu!” kataku sambil menunjuk kearah Mayza. Mayza sebenarnya sudah siap
untuk berperang lagi, kalau saja tidak dipotong oleh Bu Fatimah.
“Cukup!
Kalian berdua benar-benar keterlaluan! Mayza, jangan mentang-mentang kamu itu
anak kepala sekolah jadinya kamu bisa seenaknya disini! Sudah, Ibu anggap
kalian berdua salah. Jadi kalian harus ke kantin dan memunguti semua sampah
yang berserakan disana!” perintah Bu Fatimah. Mukaku langsung mentah dan hatiku
makin panas. Jelas-jelas aku tidak bersalah, tapi harus dihuku bersama Mayza di
kantin? Lebih baik aku disuruh ngamen keliling Jakarta seharian, deh!
2 hari kemudian...
Waktu:
18 Mei 1998
Tempat:
Fakultas Hukum Universitas Trisakti.
Aku
sudah siap dengan spanduk dan jaket almameterku. Aku siap berorasi dan
berdemonstrasi di depan gedung DPR. 2 hari belakangan, Jakarta semakin kacau.
Berita kerusuhan sudah santer terdengar di seluruh bagian Jakarta, orang-orang
sudah mulai gerah dengan kepemimpinan Soeharto selama 32 tahun di Indonesia,
dan tentunya segala krisis moneter yang melanda dunia. Kemarin baru terjadi
penjarahan di sejumlah mall dan pasar swalayan. Aku hanya tersenyum kecut dan
miris mendengarnya. Namun, mau bagaimana lagi? Indonesia benar-benar dalam
puncak kehancuran.
Saat
aku sedang melamun, tiba-tiba ada panggilan yang mengejutkanku.
“Elma!
Gimana? Udah siap belum untuk ke medan perang? Kita akan menduduki kursi
pemerintahan bersama! Yeah!” kata Lingga, salah satu temanku dari Universitas
Trisakti.
“Jelas
siap lah, Ling! Tenang aja, kita habisin tuh penduduk kursi pemerintahan! Yuk
cabut. Ajak anak-anak yang lain buat siap-siap dulu. Kita perang... hahaha”
kataku semangat.
Tempat:
Rumahku di Cipinang Bali.
Sudah
2 hari sejak aku berantem dengan Mayza sekolahku libur. Mungkin karena
kekacauan yang selama ini terjadi di Jakarta. Ibu juga melarangku untuk
mengamen lagi selama ini. Ibu terlalu takut terjadi hal yang tidak diinginkan
kepadaku. Akhirnya, kami benar-benar hanya makan dari makanan sisa yang ada
dari 2 hari lalu, yaitu sebungkus nasi yang sepertinya sudah tidak layak
dimakan. Akupun tidak nafsu untuk menyentuhnya, karena bentuknya juga sudah
sangat jelek dan baunya menusuk hidung.
“Ibu,
Cici lapar. Cici boleh nggak, ngamen aja Bu? Cici janji nggak akan
kenapa-kenapa.” Kataku meyakinkan Ibu.
“uhuk...uhuk....
jangan sembarangan kamu Ci. Ibu nggak pengin kamu kenapa-kenapa. Sudahlah, kalau
nggak mau makan ya terserahmu saja. Uhuk...uhuk.. Lebih baik mati kelaparan di
sini daripada mati tidak jelas di luar, Ci.” Kata Ibu. Jujur, aku langsung
ketakutan saat ibu berkata seperti itu. Akupun mengurungkan niatku dan kembali
menahan lapar yang melanda perut ini.
Tempat:
Persis di depan Gedung DPR RI.
Aku
dan beberapa teman lain sudah berdiri dengan gagah dan ambisius di atas sebuah
tronton yang tadi berhasil kami jarah dan rebut dari orang yang mencoba
menembus kerumunan kami. Aku memegan sebuah toa dan berteriak, berorasi dan
berdemonstrasi. Ya, akulah pemimpinnya. Akulah yang menjadi motor penggerak
dari antara kami semua ini. Senang rasanya bisa mewujudkan apa itu emansipasi
wanita kepada Indonesia. Setelah cukup lama tersenyum-senyum sendiri, inilah
saatnya aku mengungkapkan apa yang telah ada dan bergumul di dalam benakku.
“Untuk
semua penduduk di kursi DPR, saya harap anda semua sadar betapa kacaunya
Indonesia saat ini. Terutama semenjak kepemimpinan Soeharto yang otoriter dan
semua harus menuruti kemauannya yang tentu saja meresahkan banyak warga
Indonesia! Memang ada positifnya, namun kami sebagai masyarakat Indonesia lebih
resah dalam menanggapi dan mengamat segala perkembangan yang terjadi selama
beliau memimpin negara ini. Bayangkan, 32 tahun Indonesia berada dalam tangan
besi Pak Soeharto! Ini sangat meresahkan! Soeharto harus segera turun dari
kursi tertinggi pemerintahan RI! SECEPATNYA!” aku menyerukan semuanya itu
dengan berapi-api. Diikuti oleh ratusan mahasiswa lain yang akhirnya memutuskan
untuk bergabung bersama kami dan berorasi di depan gedung DPR RI. Beberapa
teman dekatku, diantaranya ada Ridho, mencoba untuk menerobos masuk ke gedung
DPR. Namu penjagaan yang sangat ketat tidak memungkinkan kami menjeblos
pagarnya.
Tempat:
Rumah tetanggaku, Pak Soleh, masih di Cipinang Bali.
Karena
bosan di rumah, aku akhirnya minta izin kepada ibu untuk pergi ke rumah Pak
Soleh dan menonton tv di rumah beliau. Rupanya rumah beliau sudah ramai dengan
tetangga sekitarku yang turut menyaksikan berita.
“Assalamualaikum,
Pak Soleh. Ada apa ini Pak kok rame banget ya?” kataku kepada si empunya rumah.
“Waalaikumsalam,
Ci. Ibu mana? Enggak ikut? Lagi pada menonton berita, Ci. Mahasiswa pada
berdemonstrasi di depan gedung DPR. Dan hebatnya motor penggerak mereka alias
pembicaranya adalah seorang perempuan, Ci. Lihat saja sendiri.” Kata Pak Soleh
tanpa memalingkan tatapannya dari layar kaca. Aku langsung tertarik menonton
berita tersebut. Dan...astaga, apakah aku tidak salah lihat? Perempuan yang
dimaksudkan Pak Soleh adalah kakak yang waktu di metromini 107 itu memberikan
aku uang Rp 500,00! Sedang apa si kakak cantik disana? Apakah ia tidak takut?
Menonton
berita itu membuatku kagum dengan kakak cantik itu. Dia sungguh berani, sungguh
dapat dijadikan contoh sebagai Kartini muda. Dan dia juga mendemonstrasikan dan
berani mengutarakan apa yang ada di pikirannya selama ini. Tidak hanya dalam
pikirannya saja sih, namu juga oleh sebagian besar warga Indonesia. Benar-benar
mengagumkan, pikirku.
Tempat:
Depan Gedung DPR-RI
Karena
kami semua sudah lumayan capek dan tetap tidak mau usaha kami sia-sia, akhirnya
aku mulai memutuskan untuk menyuruh anak-anak lebih kompak dan lebih dalam
mendorong gerbang gedung DPR. Namun ternyata, ada pemikiran lain dari seseorang
yang memutuskan untuk menembakkan peluru dari senjata api ke kaca gedung DPR.
Kontan hal itu membuat heboh, dan penjaga dari dalam gedung langsung
disiagakan. Polisi-polisi sudah mulai berdatangan, bahkan sampai tentara
segala! Ini sudah keterlaluan, pikirku.
Lalu aku mendengar suara
letusan senjata dimana-mana, kekacauan yang benar-benar diluar batas. Aku tidak
mengharapkan hal seperti ini terjadi. Memang, Lingga memberikanku sebatang kayu
besar tadi sebelum berunjuk rasa sebagai jaga-jaga kalau ada sesuatu yang tidak
diharapkan terjadi. Dan sekarang aku tidak dapat menemukan kayu itu. Dan ini
berarti, aku akan berperang dengan tangan kosong.
Setelah berusaha keras
untuk menerobos kerumunan dan polisi yang menghadang jalan, aku akhirnya tiba
di barikade tentara, dan aku mencoba untuk memberontak, dan satu tendangan
telak sampai di perut seorang tentara. Namun sebelum tentara itu bangkit, aku
merasakan sakit yang amat dahsyat, dan aku tidak ingat apa-apa lagi.
Beberapa hari kemudian...
Tempat: Taman Makam Pahlawan.
Siang
ini aku datang ke pemakaman seorang kakak cantik bernama Maria Gorreti
Felmansya yang waktu itu menjadi malaikat penolongku di metromini. Dia juga
menjadi malaikat penolong seluruh bangsa Indonesia, karena pada akhirnya,
presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya. Sungguh luar biasa kakak
ini. Siang ini aku memakai kemeja putih pinjaman dari Nurjanah dan menyematkan
pita hitam di dada kiriku, sebagai tanda belasungkawa. Aku datang kesini
bersama ibuku yang menemaniku.
Saat
itu aku berdoa dan mengucapkan sedalam-dalamnya kepada Kak Felmansya, bahwa apa
yang telah ia perjuangkan tidaklah sia-sia. Ia telah meninggal dalam perwujudan
mimpinya dan harapan seluruh bangsa Indonesia. Semoga kakak cantik ini bisa
berdiam dan istirahat dalam damai selamanya.
Oleh: Maria Clara Putri Deanty
X.RSBI/09
Izinkan saya sebelumnya untuk mencoba memuat cerpen hasil karya saya yang saya karang beberapa waktu lalu, tepatnya ketika seorang guru Bahasa Indonesia saya meminta anak sekelas untuk membuat sebuah cerpen. Dan inilah yang saya hasilkan. Semoga saja berkenan dan tidak menyinggung sejarawan.