Friday, 16 November 2012

Tanpa judul

Sudah agak lama semenjak saya menuliskan apa yang saya rasa di sini. Ya, hidup saya belum banyak berubah. Masih sama. Masih hambar. Masih senyap. Belum ada yang bagaimana. Saya sih tidak mengeluh, tapi saya cuma butuh untuk berubah dan mengeluarkan sedikit peluh, tapi bukan peluh karena lelah dengan kenyataan. Bukan peluh karena saya keburu menyerah dengan apa yang terbentang di hadapan. Tapi peluh karena lelah tergelak dalam tawa, mungkin. Entah bisa saya dapatkan lagi atau tidak. Cuma waktu yang bisa menjawab.
2 malam yang lalu, saya seperti diberikan pesan. Pesan klasik, dalam mimpi disampaikan. Mimpi saya itu....
tentang mantan. 
Saya sudah lama tidak memikirkan dia, terbersit barang sedetikpun tidak pernah. Sampai malam itu saya mimpikan dia. Saya mimpi, dia sms saya, bilang kalau kangen sama saya dan bilang kalau dia sedang sakit. Kemudian ibunya yang sms saya, bertanya saya ada dimana dan apakah saya tidak keberatan untuk menjenguk mantan saya karena dia sedang sakit. 
Mimpinya beda.
Rasanya benar-benar nyata.
Sampai pada pukul 5 pagi hari Kamis dimana gerimis namun petir menggelegar, 15 November 2012, saya terbangun dari tidur saya dan langsung mengecek handphone. Ternyata tidak ada sms apa-apa. Semua hanya mimpi. Tapi aneh. 
Kemudian saya cerita sama sahabat saya dan sama ibu saya. Ibu saya suruh saya untuk cek twitter nya mantan. Karena ibu saya juga merasa kalau saya diberikan 'pesan' lewat mimpi itu. Entah apa maksudnya. Lalu saya turuti kata ibu saya. Saya cek twitter mantan. 
Dan benar. Ia sedang sakit. 

Saya sungguh tidak mengerti. Dari dulu memang mantan saya itu sering sakit. Tapi kenapa malam itu saya diberi mimpi? Yang akhirnya memaksa memori lama diungkit. Dan padahal, mantan saya pun sudah punya pacar lagi. Dan saya enggan membahas sakit hati yang pernah nyelekit.
Nyeri.
Hari Jumat nya, saya sekolah. Dan satu hal, sahabat saya, or used to be sahabat saya, secara resmi sepertinya memusuhi saya. Katanya saya.... hah tau ah gelap. Peduli setan. 

Wednesday, 7 November 2012

Representasi










Kisah hujan di sore hari

Sore ini beda rasanya.
Dinginnya sungguh menusuk dada dan rasa.
Ya, bagaimana tidak? Seharusnya di hari Rabu ini, saya pergi mengunjungi tempat les saya dan menuntut ilmu tambahan di sana. Tapi mau bagaimana? Raga terlanjur lelah, visi terlanjur kabur, jiwa terlanjur ngelantur, bibir sudah tidak mampu bertutur. Jadi, kalau ada yang kepo soal hidup saya, dan menyimpan satu tanya:

MENGAPA?


Biar saya mulai bercerita. Tentang hidup saya yang belakangan sedang mengalami degradasi dan disorientasi jati diri. Jadi, mungkin semua berawal dari sekitar 2 minggu yang lalu. Di mana saya merasa bahwa saya mengalami pukulan telak dalam jiwa dan raga, yang diberikan oleh satu orang yang sama dalam jangka waktu satu hari. Tidak, dua hari.
Kapten itu datang lagi ke hidup saya. Mendadak mengontak saya hanya untuk cerita kalau dia bahagia dan telah menemukan tambatan hatinya. Lalu dengan santainya ia berkata, kalau kali ini, ia harus bisa jadian sama gebetannya itu.
TERUS, GUE HARUS BILANG WOW GITU? 

Perih.
Itu satu-satunya hal yang bisa saya rasa di dalam dada. Sesak, itu yang bisa saya rasa untuk bernapas. Karena rasanya udara saya terikat oleh hampa, dan paru-paru saya tercekat oleh jeritan nurani. Apa maksudnya dia berani datang lagi? Coba direnungkan di dalam hati.
Kemudian, saya tidak hanya dibuat gila oleh percintaan dan masalah roman. Saya juga gila gara-gara hal laknat yang harus dan wajib saya laksanakan dan selesaikan. Apa lagi kalau bukan PENDIDIKAN? Sekolah buat saya kelabakan dan blingsatan. 
Belakangan saya dibuat menggila sama yang namanya karya tulis. Tapi sekarang sih, sudah agak lega. Karena karya tulis saya tinggal sekali konsul lagi saja. Tapi tetap, banyak hal yang membuat saya masih sulit bernapas dan menatap tegak kedepan, menatap dan hadapi realita. Contohnya saja, tadi siang ada seorang guru yang ngamuk sama kelas Bahasa, dan saya sebagai ketua kelas harus banget minta maaf sama dia. Dan dia, haha. Bangsat. Lihat muka saya pun tidak. Padahal niat sudah baik, mau menyampaikan penyesalan dari teman-teman sekelas seperjuangan. Tapi ya sudah. Anda tidak menghargai saya, buat apa saya menghargai Anda? Buang-buang waktu saja.
Tapi satu hal lagi. Problematikanya adalah saya belum ulangan susulan pelajarannya dia. Skakmat. Sudahlah, minggu depan saja. Masih ada hari esok. Esok yang semakin hari semakin berganti. Esok yang saya kira tidak ada henti. Tahu-tahu saya mati.

Minggu lalu, saya bersama delapan orang teman sekelas saya pergi lomba debat ke SMA Tarakanita 2 Pluit. Sebenarnya yang berdebat hanya saya bertiga dengan Venya dan Rachel. Tapi yang lain adalah suporter dan tim sukses dari SMA Tarakanita 1. Jadilah, 2 hari berturut-turut kami keluar kelas dan hanya mengikuti satu jam pelajaran pertama. Kalau boleh saya bilang.
2 hari untuk selamanya.
Saya senang, saya baru tahu kalau saya ada bakat dalam debat. Karena dari total 48 pembicara debat, puji Tuhan saya dapat peringkat 5. Lumayan membanggakan, walau tim debat Tarakanita 1 A tidak lolos ke babak final. Saya bahagia juga, karena saya bertemu dan kenalan sama seseorang, dari tim lawan. Yah, lumayan. Tukeran PIN. Tapi ya sudah, tidak saya bawa kemana-mana. Yang penting bisa lihat yang segar. Ah tau ah.


Saya merasa
dianiaya.
Sama kehidupan
pikiran saya diperkosa
hati saya dikoyakkan
sama siapa?
Ya kehidupan.