Monday, 15 October 2012

Perlambang rasa


Malam ini, saya menulis lagi. Hadir dengan segala kebimbangan hati, perasaan ngenas, menyesal, semua campur aduk menjadi padu. Ya, harus saya akui.... saya patah hati lagi. Sudah saya bilang, bukan, kalau saya memang akan dan pasti cinta sendiri. Saya memang sudah berniat untuk menata kembali hati yang pernah rapuh dan mungkin sebentar lagi, dalam hitungan mili sekon, akan punah.
Mengapa?
Karena baru saja ada yang meninggalkan ruang di hati saya dengan teganya, dan memberantaki itu tanpa ada tanggung jawab untuk merapikannya kembali. Padahal setidaknya, ia membaca dahulu tulisan yang telah saya patri permanen di ambang pintu hati saya:

"SESUDAH MAIN, HARAP DIRAPIKAN LAGI"

Tapi sepertinya, ia tidak membacanya. Atau memilih untuk tidak membacanya. Jadi begini sajalah ceritanya, biar saya keluarkan semua malam ini. Karena sejujurnya, baru saja saya terbangun dari alam mimpi saya yang ada karena saya kelelahan menangisi keadaan dan kekenyangan menelan pahit kenyataan. Saya sudah lama sepertinya dekat dengan dia. Yah, namanya juga seorang Deanty, sebagai seorang perempuan usia tujuh belas tahun, yang mungkin terlalu mudah jatuh hati. Dan kali ini, Deanty yang bodoh ini kembali melakukan kesalahan yang sama lagi. Edukasi cerdas, dalam cinta ampas. 
Deanty diberi harapan palsu lagi. Dari kemarin malam, saya tidak berhenti menangis. Merutuki keadaan. Menyesali apa yang dihadapkan Tuhan. Memang nasib saya sebagai manusia, yang hanyalah stupa di hadapan Khalik, dan bergeming saja melihatNya membuat rencana yang tak akan pernah saya pahami. Hanya saja, apakah harus saya sampai menangis terus menerus? 
Saya sedih. Jujur. Saya tidak tahu harus berkata apalagi. Malam ini rasanya.... hati sudah terombang-ambing. Pecahannya mencuat kemana-mana, membentuk serpihan yang matanya tajam, dan akhirnya merobek-robek kasar bagian yang lain.

Kedepannya, saya akan berhenti berharap.
Pun dengan memberi harap.

No comments:

Post a Comment