Tuesday, 16 October 2012

Sepucuk Surat Hasil Pedih yang Menyayat

Yang saya karang satu pekan lalu...

Saya benar-benar heran dengan perasaan ini. Bagaimana ya? Mungkinkah rasa ini adalah cinta? Atau hanya sekedar butuh perhatian semata? Sungguh, saya tak kunjung paham. Kalau nanti pada akhirnya saya dan kamu tidak bersama, pasti saya tak hanya sekedar menangis. Melainkan pula teriris. Karena sepertinya saja, saya dan kamu sudah agak jauh. Walau bertatap mukapun belum.
Mungkin benar apabila hakikat cinta tak pandang mata. Mungkin benar pula kalau cinta tak butuh raga. Yang penting rasa.
Sekarang begini saja. Saya dan kamu sudah lama ada hubungan. Walau entah saya saja yang punya ketertarikan sedangkan kamu menganggap saya sebagai teman. Kita memang belum pernah mengucap saling suka. Tapi, bukankah cinta tak perlu kata-kata? Sebab yang saya tahu, ia hanya perlu untuk jadi nyata.
Sekarang kepala saya hanya diliputi tanya dan gamang: pernahkah saya terlintas di benakmu, sayang? Atau saya hanya sekedar bayang-bayang?
Yang jelas, apabila saya boleh jujur, saya sudah menanam banyak harap. Walau tak tahu kelak menuai bahagia ataukah kertak gigi yang tak tercerap? Pada intinya, saya hanya mau mengakui: sungguh, saya ada hati.




Yang baru saya tulis tadi pagi saat Jose Rizal memberikan presentasi tentang puisi.

Nah, kalau sekarang sudah jelas. Kalau perasaan saya ke kamu itu sungguhlah suka. Tapi nyatanya, dan sayangnya, selama ini kamu hanyalah sandiwara. Jangan pernah bertutur kalau kamu selama ini ngelantur, terus sekarang malah kabur. Saya memang naif, tapi bingung juga; entah sepertinya pula pura-pura bodoh. Karena saya sekarang hanya mengelus dada sendiri dan berbisik terus-menerus ke cuping telinga sendiri, "makanya, mati rasa."
Ah, kalau saja saya tidak pernah kenal sama kamu. Saya pasti tidak akan patah hati dan lalu mati kutu. Sekarang yang saya mau adalah memutar waktu, dan kembali pada masa itu: di hari saya kenal sama kamu. Sekarang juga saya hanya mengusap air mata dalam pilu. Terus saja menangis tersedu-sedu.
Mau tahu rahasia?
Saya sebenarnya masih sering membaca konversasi kita yang pernah ada dan tercipta. Sayangnya, seluruhnya hanya sebatas kata, bukan rasa (bagi kami tentunya) 
Begini saja: saya sama kamu itu....bagaikan puisi dengan prosa.
Tahu bedanya?
Saya puisi,
kamu prosa.
Puisi merasakan,
prosa memaparkan.








No comments:

Post a Comment