Manusia itu bisa berubah. Iya kan? Siapa yang nggak setuju sama pernyataan itu. Karena manusia sifatnya labil, sedewasa apapun kepribadian manusia itu. Dan sekarang, saya lagi merasakan hal itu.
Dari awal, mungkin saya sudah menggebu-gebu soal cita-cita saya yang mau jadi jurnalis perang seperti Kate Adie atau editor in chief Vogue seperti Anna Wintour. Atau seperti tokoh khayalan saya, seorang jurnalis dari film Superman yaitu Lois Lane. Atau seperti reporter andalan Indonesia, yaitu Tina Talisa. Tapi belakangan ini, saya merasa kalau dunia saya bukan di dunia jurnalistik. Entah kenapa saya merasa seperti itu. Padahal hati telah mantap untuk menjadi jurnalis;
yang bisa merubah dunia lewat kata-kata;
yang bisa memporak-porandakan sistem pemerintahan dengan pemberitaan;
yang bisa mengacak-acak muka pemerkosa martabat manusia dengan pers;
yang bisa menyuarakan
apa yang rakyat teriakkan.
Kemudian, saya termenung dalam bising. Dan saya bertanya pada diri sendiri, "De, yakinkah kamu bahwa ini semua yang kamu mau?"
Dan pertanyaan itupun masih belum bisa saya jawab. Karena saya masih menyimpan segudang pertanyaan dan hasrat lain yang saya kubur di dalam hati saya. Saya yakin kalau saya suka menulis. Saya yakin kalau saya suka berkarya dengan apa yang berkeliaran dengan liarnya di otak saya. Saya yakin kalau saya suka menganalisis keadaan. Saya yakin kalau saya tertarik dengan kriminalitas.Tapi satu yang paling saya yakin: saya itu jarang sekali nonton berita terkini. Dan hal itulah yang membuat saya semakin heran: betulkah saya ingin menjadi wartawan? Atau sekedar ingin menjadi hartawan? Bingung juga kan?
Kemudian saya bertanya sama sahabat-sahabat saya, "menurut kalian, gue tuh pantesnya jadi apa sih? gue merasa disorientasi diri nih. lagi galau sama cita-cita. takut selama ini bilang gue suka jurnalistik, nyantanya nggak terlalu into it." Tapi semua teman dan saudara tetap keukeuh dengan jawaban, kalau saya memang 100% cocok dan sudah mantap jadi jurnalis dan ambil kuliah komunikasi.
Sebenarnya, sederhana saja. Saya hanya ingin mengubah dunia. Saya ingin melihat semuanya dari cara pandang saya yang berbeda. Saya hanya tidak ingin ikut-ikutan orang semesta. Yang maunya diperintah tanpa berani menggelengkan kepala.
Semua tentang saya.
Semua tentang saya-dan dunia.
Yang menggebu-gebu....
Saya pernah sekali jadi model di majalah Hai, bulan Juli 2012. Saya diwawancarai oleh seorang jurnalis yang bernama Muhammad Iqbal, saat itu dia lagi magang jadi jurnalis di Hai dan dia adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran. Universitas impian saya. Saya diwawancarai soal cita-cita saya. Dan tentunya, saya jawab jurnalis. Sampai jadilah di media cetak tersebut terpampang wajah saya dengan sedikit ulasan tentang profil dan cita-cita saya mengenai jurnalis. Hingga judulnya saja: "DEA: JOURNALIST WANNABE"
Kemudian saya juga sering menulis, entah puisi, entah essay, entah pidato, entah cerpen. Yang semuanya hanya menjadi rongsokan di flash disk merah saya. Karena saya tidak pernah berani menunjukkan ke siapa-siapa. Saya suka menulis. Tapi saya mau menulis apa yang saya suka. Bukan hanya sekedar realita. Tapi saya harus suka. Saya harus rasa.
Saya mau coba menulis; berita. Menulis apa yang sekiranya jadi pembicaraan dan concern orang banyak. Tapi lagi-lagi, saya masih egois. Saya maunya menulis apa yang menjadi ketertarikan pribadi saya semata. Saya mau menulis apa yang tak pernah diungkapkan banyak orang. Saya mau menulis kenyataan yang tidak terelakkan, yang juga menjadi jeritan, tapi masih disembunyikan.
Itu yang jadi hasrat saya.
Masih yakin kok
kalau sudah dewasa
kelak jadi seperti mereka.
Anna Wintour
Tina Talisa
Kate Adie
Lois Lane














No comments:
Post a Comment