"Mengapa cintaku begini?
Selalu kuditinggal pergi
Apakah ini takdirku?"
Tompi-Lulu dan Siti
Saya datang dalam hidup kamu mungkin belum berapa lama. Ketimbang seseorang yang katanya telah lama kamu pinang. Dari awal berjalan cukup menyenangkan dengan hubungan sebagai teman. Tapi lama kelamaan, ada pula rasa lain yang terkuak dalam benak. Rasanya enak, dan mungkin lama kelamaan membuat stupa hati saya melunak. Memang, cinta tak kenal memilih. Bahkan untuk dua kepala yang belum pernah bertatap muka. Makin kesini memang harus diakui kalau saya telah jatuh hati.
Buktinya?
Setiap sapamu atau balasmu dalam Blackberry Messenger-ku, apapun itu, kerap membuat saya tersenyum simpul dan pipi merona karena malu. Mama saya mengatakan kalau saya seperti orang sinting, karena senyum-senyum sendiri dengan tatap mata memicing.
Tapi lagi-lagi, belakangan saya ketahui, bahwa saya kembali cinta sendiri. Dan semua yang kamu lakukan, tak ada maksud untuk memberi harapan -- apalagi sampai pacaran. Hingga semalam saya menarik kesimpulan, bahwa kamu cuma mau jadikan saya teman.
Setidaknya saya tidak sakit-sakit amat. Walau rasanya langsung penat dan menganggap bahwa jatuh cinta hanyalah kenikmatan sesaat. Mungkin malam ini saya mau hentikan pendarahan di hati yang tentunya saya buat sendiri.
Camkan:
Saya enggan mencintai lagi.
Saya mau mati rasa dan mengekang perasaan supaya jangan kelepasan. Kelak saya akan nyaman dengan kesendirian. Kelak saya akan merasakan kebahagiaan berkat hal yang saya patri dari usaha dan keringat sendiri.
Tapi yang mengundang marka tanya adalah mengapa selalu saya yang begini? Karena saya terlalu lama mengendap tenggelam dalam sendu, berenang di teluk air mata, dan kemudian mengambang di atas permukaan mata pdang. Saya mau mencintai untuk mencari kebahagiaan sejati. Tapi yang terjadi malah tersedak air mata sendiri.
Salam sesak bingung linglung,
26 September 2012
9.30 pagi, pelajaran Sejarah kelas XII Bahasa
No comments:
Post a Comment