Friday, 26 October 2012

Ouch


Ya. Saya menulis lagi malam ini. Setelah segala kegilaan dan kesakitan hati yang melanda belakangan ini. Rasanya saya belum sanggup untuk menyusun semuanya dalam untaian kata-kata, yang tentunya takkan pernah ada yang membaca. Biarkan di sini, di laman ini, menjadi tempat dimana saya bisa berteriak. Tanpa harus menorehkan penyesalan atau bahkan umpatan, dari pihak yang merasa saya sebut-sebut disini. Walau pada nyatanya, sebut namapun saya tak ada nyali. Langsung sajalah.
Pertama-tama, mungkin Anda yang kebetulan sepintas melihat post ini kerap bertanya: mengapa judulnya ouch? Memang tak ada judul lain?
Hahaha, mari saya jawab saja daripada Anda yang baca mati penasaran. Saya rasa, kalau saya judulkan post ini dengan nama "Sakit", itu akan terkesan biasa saja. Karena memang yang saya rasakan lebih dari sakit, sehingga untuk berteriakpun sulit. Jadi lebih baik hanya sedikit erangan yang tak sampai semenit. 
 
OUCH.

Praktis dan lebih bisa ditolerir kan? Ya sudahlah. Intinya yang mau saya beri gambaran dalam post malam ini adalah betapa kecewanya saya dengan seseorang yang menghancurkan harapan saya seketika. Ya, mungkin memang dia tidak bersalah. Karena bisa saja dia semenjak awal tidak bermaksud memberikan harapan. Namun saya saja yang selalu kegeeran. Jadi ya sudah. Sakit hati ditanggung sendiri, tak usah membebani. Dia juga sudah hepi-hepi. Jangan dipusingkan lagi. 
Kali ini, saya kehilangan kepercayaan saya pada ucapan laki-laki. Bibirnya memang manis, tapi arti kata-katanya hanya akan menuai tangis. Percaya. Sudah terlampau sering sepertinya saya merasa sakit karena itu. Dan herannya, mengapa saya tak kunjung mati rasa? Tuhan, saya tidak minta mati raga. Saya cuman pinta dari dulu: buat saya mati rasa. Tapi sialan, Tuhan tidak mendengarkan. Apalagi dikabulkan.
Kalau saya cerita dengan seluruh kawan saya mengenai keadaan hati saya ini, semuanya pasti akan mengumpat dan bilang, "Gila, De. Bajingan tu orang." Tapi saya cuman bisa tersenyum simpul dan berkata, "ya sudahlah." Dan semua kawan saya hanya meminta saya untuk menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran, dan bilang, 

"De, jangan terlalu mudah jatuh cinta. Semua laki-laki itu sama hakikatnya. Move on ya, De."

Begitu sih kata yang perempuan. Tapi kalau yang laki-laki, 

"De, jadikan ini pelajaran. Ikan di laut banyak. Jangan terlalu mendekam dalam kesakitan dan kesedihan. Si dia; dapet tangisan lu juga nggak layak."

Ingin rasanya saya post semua printscreen konversasi saya dengan manusia itu. Tapi bagaimana ya? Rasanya tidak manusiawi dan tidak layak untuk dipertontonkan. Toh yang sakit hati dalam kasus ini hanya saya. Saya yang merasa. Saya yang perlu membuat rasa ini sirna. Karena semenjak awal, dia tak pernah ada cinta. Maka dari itu, izinkan saya bersenandung kecil dalam tulisan.

"Mengapa cintaku begini?
Selalu ku ditinggal pergi,
apa mungkin ini takdirku?
Menjadi jomblo sejati."
Tompi-Lulu dan Siti


"Akhirnya, kini aku mengerti
Apa yang ada di pikiranmu selama ini
Kau hanya ingin
permainkan perasaanku.
Tak ada hati, tak ada cinta."
D'Massiv-Apa Salahku? 


"Selama ini aku salah mengartikan
maksud di balik hatimu.
Selama ini aku anggap engkau benar-benar cinta kepadaku
Dan akhirnya ku tahu
kau tak mencintaiku."
Nafi - Buta Hati

"Our love was lost
But now we've found it
Our love was lost
And hope was gone."
The Temper Trap-Love Lost


"I've been looking so long at these pictures of you
That I almost believe that they're real.
I've been living so long with these pictures of you
That I almost believe that the pictures are
All I can feel."
The Cure - Pictures of You


"at least i'd lose this sense of sensing something 
else that hides away
from me and you
there're worlds to part
with aching looks and breaking hearts
and all the prayers your hands can make
oh i just take as much as you can throw
and then throw it all away
oh i throw it all away
like throwing faces at the sky
like throwing arms round
yesterday
i stood and stared
wide-eyed in front of you
and the face i saw looked back
the way i wanted to
but i just can't hold my tears away
the way you do"
The Cure - A Letter to Elise

No comments:

Post a Comment