Saturday, 28 July 2012

Malaykat


Tanggal: 15 Mei 1998
Tempat: SDN 227

            Siang itu benar-benar terik dan panasnya menyengat. Peluh sudah bercucuran dari keningku dan turun sampai ke dagu. Aku juga merasakan hangatnya peluh yang ada di dalam baju seragam yang berjilbab ini.
            “Cici! Kita pulang bareng yuk! Sekali-sekali ajarin aku naik angkot sampai ke Duren Sawit bisa kan ?” Teriakan yang mengejutkanku itu ternyata berasal dari Lila, sahabatku yang orang kaya dan selalu pulang dijemput supirnya.
            “Tentu saja, La. Tapi apa kamu yakin? Kamu kan biasanya di mobil yang mewah dan ber-AC” tanyaku ragu.
            “Yakin lah, Ci! Nurjanah juga mau ikut sepertinya. Yuk, Ci, kita ke kantin dulu! Pengin beli es mambo!” kata Lila seraya menarik seragamku. Akupun turut ikut bersama Lila ke kantin. Aku merogoh sakuku untuk mengambil uang. Ternyata aku hanya punya uang 200 rupiah, dan itu hanya untuk pulang. Maka nasibku tidak jadi membeli es mambo stroberi itu.

Tempat: Kampus A Fakultas Komunikasi Universitas Sumber Ilmu
            Aku melangkahkan kakiku ke ruang Pak Misro, dosenku yang terkenal killer dan bengis. Untuk apa? Yah, apalagi kalau bukan untuk menyerahkan skripsi hasil revisi dan kerjaanku semalaman. Aku sampai tidak makan dari semalam hanya untuk mengurus skripsi laknat ini. Karena skripsiku yang tidak pernah diterima, aku sudah 7 tahun kuliah dan tidak lulus-lulus juga. Sungguh menyedihkan.
            “Elma! Mau ke ruang si Misro ya? Ikut dong, sekalian jalan bareng ya!” teriak Isa, perempuan imut yang seharusnya jadi juniorku itu, tapi karena aku yang tak kunjung lulus, akhirnya membuatku dan Isa satu angkatan.
            “Iya, yaudah cepet sini lu.” Balasku seadanya. Akhirnya kami berjalan dengan langkah gontai menuju ke ruang Pak Misro.

Tempat: Mikrolet 26 jurusan Kampung Melayu-MM
            “Cici, besok ajarin aku Matematika ya sebelum ulangan? Aku yakin sekali malam ini aku tidak akan sempat belajar, soalnya nanti malam mau ke acara ulang tahun kakak sepupuku di daerah Pondok Kelapa.” Kata Nurjanah sambil menghisap es mambo ketiganya. Aku hanya mengangguk pelan dan tersenyum. Ah, dasar anak-anak orang kaya ini. Bukannya aku sirik, tapi apakah lebih baik jika mereka memikirkan pendidikan mereka dulu sebelum bersenang-senang? Ya sudahlah, itu pilihan mereka. Aku tidak akan ikut campur. Ternyata pemberhentianku sudah tiba. Yap , Cipinang Bali.
            “Lil, Nur, aku duluan ya? Hati-hati di jalan. Assalamu’alaikum…” pamitku. Lalu aku segera turun dan berjalan kaki ke rumahku yang sangat sederhana itu.

Tempat: ruangan Bapak Misro.
            “Isa, kamu bisa keluar sekarang. Bapak ingin bicara dengan Felmansya.” Kata Pak Misro tegas – cenderung mengintimidasi. Isa menatapku dengan rasa kasihan dan khawatir, namun aku membalasnya dengan tatapan dan senyuman yang mengartikan “aku akan baik-baik saja”. Seperginya Isa dari ruangan Pak Misro, Pak Misro mulai berbicara kepadaku.
            “Felmansya, kamu sudah ratusan kali datang ke ruangan bapak dan meminta bapak untuk merevisi skripsimu. Sejujurnya, Bapak merasa bahwa tidak ada yang berubah dengan penulisan skripsimu ini. Bukannya saya peduli padamu, tapi saya hanya khawatir, mau sampai berapa lama kamu kuliah di sini? Saya tahu dan semua orang di Fakultas, bahkan di Universitas inipun mungkin tahu, bahwa keinginanmu yang terbsesar adalah untuk menduduki dan memasuki kancah politik di gedung DPR. Tidak bisakah kau sedikit realistis, Felmansya? Cita-citamu ini bukannya memberikan dorongan bagimu untuk maju dan segera merevisi tuntas skripsimu, malah hanya menghambatmu.” Kata si bapak tambun satu ini. Emosiku yang menyala karena cuaca panas ini, semakin dikobarkan oleh karena omongan sok tahu dosen satu ini.
            “Maaf, Pak. Bukannya saya tidak sopan sama bapak. Saya menghargai kepedulain Bapak terhadap saya. Tapi apabila Bapak tidak tahu apa-apa tentang kehidupan saya dan mimpi saya, apa tidak sebaiknya bapak diam saja? Kalau bapak memang tidak suka dan sudah lelah untuk merevisi skripsi saya, saya bisa kok cari dosen lain yang mau menjadi pembimbing saya, bukan untuk mengintimidasi saya! Dan lihat saja pak. Suatu saat nanti, saya akan buktikan sama bapak. Sekarang zaman sudah berubah dan sudah waktunya wanita punya suara dan berhak menduduki kursi DPR! Saya hanya ingin mengubah Indonesia dan segala tetek bengeknya. Lihat nanti Pak. Suatu saat nanti! Saya permisi Pak. Saya lelah. Selamat siang.” Kataku berapi-api dan segera beranjak dari ruangan Pak Misro.

Tempat: Rumahku di Cipinang Bali .
            “Assalamu’alaikum Ibu…” sapaku sebelum masuk rumah. Ternyata Ibu sedang terbaring lemah di kasurnya yang sudah lapuk.
            “Uhuk, uhuk… Waalaikumsalam, nak… Baru pulang, Ci? Maaf ya nak…uhuk…uhuk… Ibu nggak sanggup masak dan beli makanan. Belum ada uang, Ci. Seharian Ibu di rumah dan nggak mampu buat kue untuk dijual, Ci… cici mau tolong ibu?” kata ibu lemah. Akupun segera menyanggupi permintaannya itu dan beranjak ke samping ibu.
            “Siang ini…uhuk..uhuk…kamu bisa mengamen nggak Ci di lampu merah, biasa lah, Ci… Ibu benar-benar…uhuk…uhuk…butuh uang untuk beli obat dan makan… Cici mau kan tolong ibu?” pinta ibu. Aku tidak pernah sanggup melihat ibu merana seperti ini. Maka setelah ganti baju dan minum segelas air putih, akupun langsung mengurungkan niatku untuk belajar Matematika. Aku melesat pergi dengan kecrekan dan gelas bekas MC’D.

Tempat: Metromini 107, daerah Pangkalan Jati
Waktu: 16.00 WIB
            Aku benar-benar kepikiran dengan perkataan dosen sok tahu tadi. Aku benar-benar memikirikan dan mulai merasa ada kebenaran yang terucap dari bibirnya tadi. Namun aku tidak mau terlalu memikirkannya karena aku tahu pilihanku itu benar. Aku bisa mengubah Indonesia , bahkan dunia, dari krisis moneter yang terjadi belakangan ini. Salahkan Soeharto. Pikirku. Karena penatnya hari walau jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, aku menyeruput es teh manis yang tadi aku beli di depan kampus.  Saat aku merenung, tiba-tiba ada pengamen, gadis cilik yang cukup manis, melantunkan lagu berbau politik dan lagunya itu membuat semangatku untuk bermimpi kembali membara. Darah Juang.
Disini Negeri kami, tempat padi terhampar
Samuderanya.. kaya raya
Negeri kami subur Tuhan….
Di negeri permai ini
Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak buruh tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Tuk bebaskan rakyat
Padamu kami berjanji
Padamu kami berbakti
Ya, itu lagu yang dilantunkan oleh gadis cilik yang satu ini. Aku suka gayanya. Aku tersenyum dan ikut bersenandung dalam hati.
            “Terima kasih semuanya. Tolonglah bantu saya karena saya butuh beli obat untuk ibu saya yang sedang sakit.” Pintanya dengan memelas sambil menyebarkan amplop lusuh. Tanpa pikir panjang, aku langsung memasukkan uang sebesar Rp 500,00 untuknya.

Tempat: Lampu merah Pangkalan Jati
            Aku senang sudah dapat uang, walau tidak banyak. Tapi aku punya Rp 5.000,00 sore ini hasil mengamen di lampu merah dan di metromini tadi. Penumpang metromininya baik-baik, jadi ada yang memberiku 100 rupiah, bahkan ada kakak cantik yang memberiku 500 rupiah. Alhamdulilah, semoga amal semua penumpang tadi kepada gadis kecil sepertiku dapat dibalas oleh Allah. Setelah menyimpan hasil mengamenku tadi di saku celanaku, aku pergi ke apotik untuk membeli ponstan buat ibu. Kasihan ibu, dia sakit-sakit terus. Aku tidak sanggup melihatnya seperti ini. Semoga obat penahan rasa sakit ini bisa membantu, karena ibu terus mengeluh tentang rasa sakitnya di bagian rahim. Tersadar bahwa waktu sudah berjalan dan aku belum membeli nasi padang untuk ibu makan, aku langsung melangkahkan kakiku ke sebuah restoran Padang di pinggir jalan dan membeli nasi dengan kuah gulai. Alhamdulilah, ternyata uangku masih sisa Rp 2.000,00. “Ya Allah, terima kasih karena rezeki yang telah Engkau berikan kepada hamba.” Kataku mengucap syukur. Aku langsung mencari angkot untuk pulang dan kembali membawa uang, obat dan makanan bagi ibuku.

            Tempat: Rumah kos-ku di Jatiwaringin.
            Aku membuang gelas bekas es teh-ku sembarangan. Aku tidak tahu gelas itu terjatuh dimana, sungguh, bahkan otakku ini sudah tidak mampu – dan aku tidak mau – untuk memikirkan hal sekecil itu sekalipun. Aku sudah benar-benar penat. Aku melempar tas selempang cokelatku itu ke sembarang tempat, dan aku menghempaskan tubuhku ke ranjang. “Tuhan Yesus, aku bener-bener nggak tahu mau gimana lagi. Aku nggak kuat Tuhan. Di satu sisi, aku benar-benar menginginkan mimpiku untuk berdemonstrasi dan menduduki kursi DPR terwujud. Namun aku juga nggak bisa terus-terusan bertahun-tahun nggak lulus kuliah seperti ini Tuhan. Kasih aku jalanMu Tuhan. Aku tahu rencanamu pasti indah bagiku.” Doaku kepada Tuhan. Sungguh, hanya Tuhan-lah satu-satunya tempatku berserah saat ini. Eh, kok aku jadi tiba-tiba sok begini ya? Ah, sudahlah, sekarang aku harus mandi dan keramas dengan air dingin supaya kepalaku tidak terlalu penat dan panas lagi. Lalu aku beranjak mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi.

            Tempat: Rumahku di Cipinang Elok.
            “Assalamualaikum ibu... ibu lihat! Aku dapat uang banyak bu hasil tadi mengamen. Allah lagi baik sama Cici bu, makanya sekarang aku bahkan bisa beli obat dan nasi padang buat ibu. Uang sisanya nanti akan aku tabung bu, mungkin di lain waktu kita akan membutuhkan uang ini bu.” Kataku bersemangat dan sumringah kepada ibuku yang terbaring lemah di kasur lapuk itu.
            “uhuk...uhuk... Iya Ci, alhamdulilah. Allah baik sama kita orang-orang kecil ini. Ci, besok kamu ada ulangan tidak? Uhuk..uhuk...kamu mandi gih, Ci, abis gitu shalat dan belajar. Sudah maghrib ini Ci.” Kata ibu halus sambil membelai kepalaku. Aku tersenyum hangat dan mengangguk.

            Tempat: Wartel di daerah Jatiwaringin.
            “Halo, selamat sore. Bisa bicara dengan Ridho? Ini dari Elma, temannya. Iya, terima kasih.” Kataku di telepon sambil menunggu pembantu Ridho memanggilkannya. Ridho adalah temanku yang mempunayi visi dan misi yang sama denganku. Hanya saja, ia dari Fakultas Hukum. Kami sama-sama ingin menduduki bangku di DPR dan berdemonstrasi kepada pemerintahan di Indonesia. Hah, aku sungguh ingin serius menjalani mimpiku ini. Dan aku benar-benar butuh Ridho sebagai pasanganku yang mempunyai impian yang sama.
            “Halo, kenapa El? Kayaknya penting banget nih sampai nelpon ke rumah gue segala. Kenapa?” tanya Ridho dari telepon.
            “Dho, gue kepikiran sama perkataan dosen gue yang bilang kalo mimpi gue itu nggak realistis dan nggak sepantasnya gue impiin bahkan wujudin, Dho. Karena mimpi gue itu terlalu menghambat pekerjaan skripsi gue yang emang parahnya nggak kelar-kelar. Tapi karena gue udah stres duluan dan nggak mau denger perkataan dia yang lebih lanjut, jadi gue langsung tinggalin ruangannya dan bilang ke dia kalo gue akan buktiin sama dia suatu saat nanti, Dho. Kalo gue bisa berdemonstrasi sampai Pak Soeharto turun jabatan.” Kataku emosi.
            “Sejujurnya gue kagum sama keberanian lo, El. Dan gue seneng sama pribadi lo yang begitu ambisius untuk mewujudkan mimpi kita menumpas kedudukan Orde Baru di Indonesia. Tenang El, gue dan anak-anak fakultas hukum yang lain ada dipihak lo, karena kita punya visi misi yang sama. Gue juga udah omongin sama anak komunitas lain yang tentunya juga mulai nggak betah dengan segala krisis dan kedudukan Orde Baru di Indonesia. Dan hebatnya El.... lo adalah satu-satunya perempuan yang berani terjun ke lapangan untuk mendemonstrasikannya langsung ke gedung DPR.”
            Aku sumringah dan langsung ceria saat Ridho mengatakan bahwa aku adalah satu-satunya perempuan yang berani terjun langsung ke lapangan untuk berdemonstrasi. Yah, aku adalah perempuan yang sangat tomboy dan berani langsung mengutarakan apa yang tentunya juga menjadi suara hati seluruh penduduk Indonesia yang gelisah dan tidak mampu beraspirasi pada saat pemerintahan Pak Soeharto seperti ini. Ya, kalau aku berani, aku pasti bisa mengubah Indonesia, mengubah dunia, menjadi yang lebih baik.
            “Makasih dukungannya, Dho. Besok rapat ya di Texas Hembo Pondok Kelapa? Kita cabut kuliah aja lah! Ajak semua komunitas lo juga Dho. Kita ubah Indonesia!” setelah aku mengucap kata-kata itu, aku langsung menutup teleponnya dan kembali pulang ke kos dengan tekad yang lebih bulat untuk mewujudkan mimpiku yang sebenarnya.

            Waktu: 16 Mei 1998
            Tempat: SDN 227, kelas 4A
            “Cici! Gimana, kemarin kan sudah janji mau ajarin aku Matematika. Ayo, Ci duduk disini biar bisa ngajarin aku.” Kata Lila. “eh aku juga dong, Ci. Aku semalam sudah belajar tapi nggak ngerti juga.” Timpal Nurjanah. Kedua sahabatku ini selalu saja mewarnai hari-hariku di sekolah, dan tentunya mereka juga membuatku merasa lebih berharga karena bisa mengajarkan apa yang mereka tidak bisa. Bukan hanya dalam bidang akademik, namun juga mengajarkan tentang perjuanganku dalam menghadapi hidup sebagai orang susah. Lalu aku mulai mengajarkan mereka Matematika sebelum akhirnya bel sekolah berbunyi jam 07.00

            Tempat: Faklutas Hukum Universitas Sumber Ilmu
            Aku mencari sosok Ridho. Kemana ya dia? Kemarin katanya sudah sepakat mau bolos kuliah hari ini. Dicari malah tidak ada.
            “Elma! Sini lu. Ayo langsung cabut ke Hembo dah.” Ternyata Ridho ada kira-kira 10 meter jauhnya di belakangku. Dia mengejutkanku dengan teriakannya. Lalu aku berlari menuju mobil Mercy-nya itu.
            “Maaf El sudah membuatmu menunggu lama. Tadi gue antarin pacar gue dulu ke sekolah. Maklum lah, punya pacar anak SMA.” Kata Ridho beralibi. Aku hanya tersenyum kecil dan tidak menghiraukan apa yang menjadi alasannya. Hanya satu tujuanku, mewujudkan mimpiku dan teman-teman yang lain. Sesampainya aku di Hembo Kalimalang, aku langsung melesat ke Texas dan ternyata teman-teman yang berasal dari komuniats dan universitas lain sudah datang.
            “Maaf ya semuanya membuat kalian menunggu. Oke, kita langsung saja memulai rapat pagi ini. Perkenalkan, nama saya Maria Gorreti Felmansya, bisa panggil saya Elam. Saya dari fakultas komunikasi Universitas Sumber Ilmu. Saya dipilih menjadi ketua oleh teman saya dari fakultas hukum yang tentunya mengenalkan saya kepada Anda semua, yaitu Ridho Aleandro. Seperti yang kita ketahui....”akupun memulai rapat itu dengan menjelaskan visi misi dan rencana kedepannya untuk berdemonstrasi, serta menyusun acaranya. Aku benar-benar serius dalam mewujudkan mimpiku untuk menjadikan Indonesia negara yang lebih baik.
            “Jadi, beruhubung kita punya visi dan misi yang sama tersebut, kapan kita bisa memulai untuk berdemonstrasi, di gedung DPR? Ada idekah dari teman-teman?” tanyaku langsung ke topik pembicaraan. Tidak beberapa lama kemudian ada seorang teman baru yang bernama Naren mengusulkan waktunya, dan akupun langsung mengiyakan serentak dengan anak-anak lain. Indonesia, kami datang untuk menjadi malaikat penyelamatmu.

            Tempat: Kantin SDN 227
            Wajah anak-anak kelas 4A rata-rata sudah stres dan lecek seperti baju yang tidak disetrika. Hal itu terjadi karena kami baru saja menyelesaikan ulangan Matematika yang susahnya memang ampun-ampunan.
            “Cici, aku berterima kasih sekali sama kamu. Untung kamu mau mengajarkan kilat kepadaku tentang materi ulangan tadi. Jadinya aku tidak terlalu kesulitan saat mengerjakannya. Nanti kutraktir bakso deh, Ci...” kata Nurjanah.
            “Iya, Ci. Aku juga makasih banget sama kamu. Coba kalo enggak ada kamu Ci. Nggak tahu deh nasibku bagaimana tadi pas mengerjakan ulangannya. Sekali lagi terima kasih ya, Ci. Kamu memang malaikat penyelamat kita berdua!” timpal Lila. Aku senang sekali dan sumringah saat mereka berkata itu. Akupun tak segan-segan untuk mengiyakan tawaran Nurjanah yang akan menraktirku bakso siang itu.
            Sesampainya aku di kantin bakso, tiba-tiba ada anak perempuan yang bertubuh besar menarik jilbabku. Kontan aku kaget dan meronta.
            “Astafirulah! Apa-apaan sih kamu! Mayza! Ada masalah apa kamu sama Cici? Cici merasa tidak ada masalah sama kamu!” kataku sambil membetulkan jilbabku.
            “Cici, kamu jadi anak nggak usah sok pintar deh! Mana sukanya cari muka depan guru-guru lagi, merasa kamu yang paling bisa! Kamu tuh cuman pengamen dan hanyalah orang miskin Ci! Sadar kamu itu bukan siapa-siapa! Malah banyak gaya! Aku sudah gerah lihat gayamu yang miskin tapi belagu, Ci! Dasar kampungan kamu!” teriak Mayza seraya menumpahkan kuah baksonya di atas kepalaku. Aku memang anak miskin, dan aku tumbuh di lingkungan yang keras pula. Oke kalau memang dia mau cari masalah denganku. Dengan senang hati akanku tanggapi! Ibu pernah bilang, jangan malu menjadi anak miskin, dan lawan siapapun yang menghina kaum miskin dan tak berpunya.
            “Jaga mulut kamu, May! Cici tahu, kamu memang anak kepala sekolah, dan kamu juga berbadan besar dan tinggi. Tapi bukan berarti kamu bisa menghakimi Cici begitu saja tanpa tahu apa-apa tentang Cici dong! Dan jangan pernah menghina Cici seperti itu, Cici nggak suka!” balasku. Aku tidak mau ikut-ikutan menumpahkan baksoku diatas kepalanya. Sayang sekali kalau kutumpahkan, aku saja orang tidak berpunya, mau sok-sokan buang makanan.
            Mayza tentunya tidak terima dengan perkataanku yang seakan semakin memanaskan kobar api emosinya. Dan dia mulai menamparku, akupun balas menendang kakinya. Hingga akhirnya...
            “Cici! Mayza! Ikut Ibu ke ruang guru!”

            Tempat: Hembo Kalimalang
            Aku dan teman-teman yang lain akhirnya sudah sepakat dan siap menjalankan misi demonstrasi kami di depan gedung DPR beberapa hari lagi. Memang sih agak mendadak, tapi memang ini yang harus dilakukan kalau mau mimpi kami tercapai. Toh setidaknya kami sudah mengusahakan untuk mengubah negara kami ini dan mewujudkan cita-cita kami.
            “El, gue benar-benar kagum sama keberanian lo untuk mewujudkan mimpi lo yang kata dosen lo nggak realistis ini. Tapi gue salut, El. Lo gigih banget.” Kata Ridho tulus sambil menepuk punggungku. Aku tersenyum dan mengangguk.
            “terkadang memang kita harus menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kita impikan kan, Dho?”

            Tempat: Ruang Guru SDN 227
            “Cici, Ibu sungguh kecewa dengan perilakumu hari ini. Kamu selama ini menjadi anak yang rajin, pintar, dan berprestasi. Kamupun selalu menjadi andalan sekolah ini apabila mau pergi lomba diluar dan kamu mendapatkan beasiswa terus. Namun mengapa kamu harus berkelahi dengan Mayza secara tidak dewasa seperti ini? Ibu benar-benar kecewa, Ci.” Kata Bu Fatimah.
            “Maafkan saya, Bu. Saya juga tidak akan memulai pertengkaran kalau tidak dimulai oleh Mayza, Bu!” kataku sambil menunjuk kearah Mayza. Mayza sebenarnya sudah siap untuk berperang lagi, kalau saja tidak dipotong oleh Bu Fatimah.
            “Cukup! Kalian berdua benar-benar keterlaluan! Mayza, jangan mentang-mentang kamu itu anak kepala sekolah jadinya kamu bisa seenaknya disini! Sudah, Ibu anggap kalian berdua salah. Jadi kalian harus ke kantin dan memunguti semua sampah yang berserakan disana!” perintah Bu Fatimah. Mukaku langsung mentah dan hatiku makin panas. Jelas-jelas aku tidak bersalah, tapi harus dihuku bersama Mayza di kantin? Lebih baik aku disuruh ngamen keliling Jakarta seharian, deh!

2 hari kemudian...
            Waktu: 18 Mei 1998
            Tempat: Fakultas Hukum Universitas Trisakti.
            Aku sudah siap dengan spanduk dan jaket almameterku. Aku siap berorasi dan berdemonstrasi di depan gedung DPR. 2 hari belakangan, Jakarta semakin kacau. Berita kerusuhan sudah santer terdengar di seluruh bagian Jakarta, orang-orang sudah mulai gerah dengan kepemimpinan Soeharto selama 32 tahun di Indonesia, dan tentunya segala krisis moneter yang melanda dunia. Kemarin baru terjadi penjarahan di sejumlah mall dan pasar swalayan. Aku hanya tersenyum kecut dan miris mendengarnya. Namun, mau bagaimana lagi? Indonesia benar-benar dalam puncak kehancuran.
            Saat aku sedang melamun, tiba-tiba ada panggilan yang mengejutkanku.
            “Elma! Gimana? Udah siap belum untuk ke medan perang? Kita akan menduduki kursi pemerintahan bersama! Yeah!” kata Lingga, salah satu temanku dari Universitas Trisakti.
            “Jelas siap lah, Ling! Tenang aja, kita habisin tuh penduduk kursi pemerintahan! Yuk cabut. Ajak anak-anak yang lain buat siap-siap dulu. Kita perang... hahaha” kataku semangat.

            Tempat: Rumahku di Cipinang Bali.
            Sudah 2 hari sejak aku berantem dengan Mayza sekolahku libur. Mungkin karena kekacauan yang selama ini terjadi di Jakarta. Ibu juga melarangku untuk mengamen lagi selama ini. Ibu terlalu takut terjadi hal yang tidak diinginkan kepadaku. Akhirnya, kami benar-benar hanya makan dari makanan sisa yang ada dari 2 hari lalu, yaitu sebungkus nasi yang sepertinya sudah tidak layak dimakan. Akupun tidak nafsu untuk menyentuhnya, karena bentuknya juga sudah sangat jelek dan baunya menusuk hidung.
            “Ibu, Cici lapar. Cici boleh nggak, ngamen aja Bu? Cici janji nggak akan kenapa-kenapa.” Kataku meyakinkan Ibu.
            “uhuk...uhuk.... jangan sembarangan kamu Ci. Ibu nggak pengin kamu kenapa-kenapa. Sudahlah, kalau nggak mau makan ya terserahmu saja. Uhuk...uhuk.. Lebih baik mati kelaparan di sini daripada mati tidak jelas di luar, Ci.” Kata Ibu. Jujur, aku langsung ketakutan saat ibu berkata seperti itu. Akupun mengurungkan niatku dan kembali menahan lapar yang melanda perut ini.

            Tempat: Persis di depan Gedung DPR RI.
            Aku dan beberapa teman lain sudah berdiri dengan gagah dan ambisius di atas sebuah tronton yang tadi berhasil kami jarah dan rebut dari orang yang mencoba menembus kerumunan kami. Aku memegan sebuah toa dan berteriak, berorasi dan berdemonstrasi. Ya, akulah pemimpinnya. Akulah yang menjadi motor penggerak dari antara kami semua ini. Senang rasanya bisa mewujudkan apa itu emansipasi wanita kepada Indonesia. Setelah cukup lama tersenyum-senyum sendiri, inilah saatnya aku mengungkapkan apa yang telah ada dan bergumul di dalam benakku.
            “Untuk semua penduduk di kursi DPR, saya harap anda semua sadar betapa kacaunya Indonesia saat ini. Terutama semenjak kepemimpinan Soeharto yang otoriter dan semua harus menuruti kemauannya yang tentu saja meresahkan banyak warga Indonesia! Memang ada positifnya, namun kami sebagai masyarakat Indonesia lebih resah dalam menanggapi dan mengamat segala perkembangan yang terjadi selama beliau memimpin negara ini. Bayangkan, 32 tahun Indonesia berada dalam tangan besi Pak Soeharto! Ini sangat meresahkan! Soeharto harus segera turun dari kursi tertinggi pemerintahan RI! SECEPATNYA!” aku menyerukan semuanya itu dengan berapi-api. Diikuti oleh ratusan mahasiswa lain yang akhirnya memutuskan untuk bergabung bersama kami dan berorasi di depan gedung DPR RI. Beberapa teman dekatku, diantaranya ada Ridho, mencoba untuk menerobos masuk ke gedung DPR. Namu penjagaan yang sangat ketat tidak memungkinkan kami menjeblos pagarnya.
           
            Tempat: Rumah tetanggaku, Pak Soleh, masih di Cipinang Bali.
            Karena bosan di rumah, aku akhirnya minta izin kepada ibu untuk pergi ke rumah Pak Soleh dan menonton tv di rumah beliau. Rupanya rumah beliau sudah ramai dengan tetangga sekitarku yang turut menyaksikan berita.
            “Assalamualaikum, Pak Soleh. Ada apa ini Pak kok rame banget ya?” kataku kepada si empunya rumah.
            “Waalaikumsalam, Ci. Ibu mana? Enggak ikut? Lagi pada menonton berita, Ci. Mahasiswa pada berdemonstrasi di depan gedung DPR. Dan hebatnya motor penggerak mereka alias pembicaranya adalah seorang perempuan, Ci. Lihat saja sendiri.” Kata Pak Soleh tanpa memalingkan tatapannya dari layar kaca. Aku langsung tertarik menonton berita tersebut. Dan...astaga, apakah aku tidak salah lihat? Perempuan yang dimaksudkan Pak Soleh adalah kakak yang waktu di metromini 107 itu memberikan aku uang Rp 500,00! Sedang apa si kakak cantik disana? Apakah ia tidak takut?
            Menonton berita itu membuatku kagum dengan kakak cantik itu. Dia sungguh berani, sungguh dapat dijadikan contoh sebagai Kartini muda. Dan dia juga mendemonstrasikan dan berani mengutarakan apa yang ada di pikirannya selama ini. Tidak hanya dalam pikirannya saja sih, namu juga oleh sebagian besar warga Indonesia. Benar-benar mengagumkan, pikirku.

            Tempat: Depan Gedung DPR-RI
            Karena kami semua sudah lumayan capek dan tetap tidak mau usaha kami sia-sia, akhirnya aku mulai memutuskan untuk menyuruh anak-anak lebih kompak dan lebih dalam mendorong gerbang gedung DPR. Namun ternyata, ada pemikiran lain dari seseorang yang memutuskan untuk menembakkan peluru dari senjata api ke kaca gedung DPR. Kontan hal itu membuat heboh, dan penjaga dari dalam gedung langsung disiagakan. Polisi-polisi sudah mulai berdatangan, bahkan sampai tentara segala! Ini sudah keterlaluan, pikirku.
Lalu aku mendengar suara letusan senjata dimana-mana, kekacauan yang benar-benar diluar batas. Aku tidak mengharapkan hal seperti ini terjadi. Memang, Lingga memberikanku sebatang kayu besar tadi sebelum berunjuk rasa sebagai jaga-jaga kalau ada sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Dan sekarang aku tidak dapat menemukan kayu itu. Dan ini berarti, aku akan berperang dengan tangan kosong.
Setelah berusaha keras untuk menerobos kerumunan dan polisi yang menghadang jalan, aku akhirnya tiba di barikade tentara, dan aku mencoba untuk memberontak, dan satu tendangan telak sampai di perut seorang tentara. Namun sebelum tentara itu bangkit, aku merasakan sakit yang amat dahsyat, dan aku tidak ingat apa-apa lagi.
            Beberapa hari kemudian...
            Tempat: Taman Makam Pahlawan.
            Siang ini aku datang ke pemakaman seorang kakak cantik bernama Maria Gorreti Felmansya yang waktu itu menjadi malaikat penolongku di metromini. Dia juga menjadi malaikat penolong seluruh bangsa Indonesia, karena pada akhirnya, presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya. Sungguh luar biasa kakak ini. Siang ini aku memakai kemeja putih pinjaman dari Nurjanah dan menyematkan pita hitam di dada kiriku, sebagai tanda belasungkawa. Aku datang kesini bersama ibuku yang menemaniku.
            Saat itu aku berdoa dan mengucapkan sedalam-dalamnya kepada Kak Felmansya, bahwa apa yang telah ia perjuangkan tidaklah sia-sia. Ia telah meninggal dalam perwujudan mimpinya dan harapan seluruh bangsa Indonesia. Semoga kakak cantik ini bisa berdiam dan istirahat dalam damai selamanya.


Oleh: Maria Clara Putri Deanty
            X.RSBI/09

Izinkan saya sebelumnya untuk mencoba memuat cerpen hasil karya saya yang saya karang beberapa waktu lalu, tepatnya ketika seorang guru Bahasa Indonesia saya meminta anak sekelas untuk membuat sebuah cerpen. Dan inilah yang saya hasilkan. Semoga saja berkenan dan tidak menyinggung sejarawan.

No comments:

Post a Comment