Kali ini nampaknya Tuhan sedang hobi mencobai saya. Yang kala ini saya rasakan hanyalah kepedihan, dan mungkin agak luka, sedikit. Mengapa? Karena baru-baru ini Tuhan beri yang namanya tamparan. Bukan kesepuluh jemarinya menghantam keras kedua pipi saya, melainkan sapaan yang berat dariNya bagi saya, untuk sesegera mungkin meluruskan jalan saya agar kembali berdoa dan memohon kepadaNya.
Sungguh ironis.
Mengira selama ini kehidupan saya akan baik-baik saja, namun yang terjadi pada nyatanya, justru malah kebalikannya. Saya yang sering merana karena difitnah oleh cecunguk tak tahu diri dan bukti yang diada-adai oleh tempat saya menuntut yang namanya ilmu dan mengejar yang namanya prestasi. Satu kata. Bangsat.
Saya punya yang namanya harga diri dan saya punya yang namanya nama baik. Tapi tercoreng-moreng oleh karena fitnah yang dilontarkan dengan kejamnya. Memang saya sudah separah apa, Tuhan? Memang saya sudah benar-benar tidak pernah mengucap syukur dan memanjat doa dariMu lagi? Coba Tuhan, Engkau yang jawab tanyaku. Karena sampai saya matipun, mungkin saya tidak akan pernah bisa membaca maksudmu.
Kali ini juga saya kembali mempertanyakan dalam hati, "apabila cinta mati sudah diliputi keraguan, akankah hati mengasingkan diri dari peraduan?" Saya kerap menanyakan hal itu beberapa pekan terakhir ini, mengingat betapa sulitnya saya menutup lembaran balada kasih usang yang pernah saya karang dengan seseorang. Saya enggan memandang. Saya lebih baik pergi ke masa depan dan coba sepak terjang. Tapi apa mau dikata lagi? Segala memori dan keindahan masa lalu lebih memilih untuk merasuk batin dibanding pergi menjauh dan terbakar dalam alam ironi mimpi.
Saya tersesat dalam dermaga yang konon, kapal pencarian kasih saya sudah karam diombang-ambing dahsyatnya lautan merah laut, yang kerap dicampur oleh tangisan, tawa, dan kebanyakan luka yang mulai melebam. Mengapa lebam? Karena lebam, adalah luka dalam yang konon darahnya enggan keluar dari depan. Lebam, lebih suka main belakang.
Kemudian saya kembali disetir kaki saya untuk coba berhenti sejenak di masa sekarang dan kelopak mata saya dijepit jemuran oleh Yang Ilahi, untuk coba tabah dan sabar merasakan dan melalui masa ini. Mengapa? Selain difitnah, saya belakangan juga ditiru. Saya tidak mungkin mengatakan bahwasanya saya tidak suka. Saya hanya bisa tersenyum dan berkata dalam lubuk hati sanubari, "itu, karya, saya." Dan membiarkan pelacur itu menarik apa yang pernah saya karang dari hasil ilham saya, dari hasil pandangan saya terhadap kehidupan.
Saya jujur, saya sudah tak kuasa.
Saya jujur, saya sudah tak paham.
Saya jujur, bahwa saya....
kelak akan coba pelajari teologi otak Tuhan.
No comments:
Post a Comment