Tuesday, 3 July 2012

"Kita adalah kebetulan-kebetulan yang disengaja Tuhan." -@Karizunique

Sepulang dari Pondok Indah Mall sore ini, aku membanting tubuhku dengan keras ke spring bed kamarku. Aku enggan menutup mata, namun lebih ingin membuka galeri di BlackBerry. Aku melihat printscreen konversasi yang pernah kita karang, yang tentunya sepenuh mata kupandang. Aku tersenyum, berharap dengan hanya sebatas senyum terkulum, ada keajaiban yang bisa mengembalikanku pada masa itu. Kemudian aku membereskan sedikit map bungaku, yang kemudian membawaku pada secarik kertas bekas yang agak ngenas. Kenapa? Karena disitulah, awal aku merasa ada yang beda. Ada yang bisikkan..... aku jatuh cinta.

Senja di sore hari ini nampaknya mendorong fikiranku untuk menulis lagi. Mungkin menuliskan sajak, atau mungkin menulis puisi. Kok tumben sekali? Karena aku pernah punya janji. Janji yang ingin aku tepati sejak awal Juni. 
Pernah kamu ingat, kalau kamu pernah minta kubuatkan puisi? Namun dengan halus aku menolak, dan lebih baik membuatkanmu semacam goresan lain di kertas bekas? Mungkin hari ini, sore ini, aku ada kesadaran. Mau buatkan kamu semacam tulisan. Yang aku yakin, kau takkan pernah membaca atau membuka tulisan ini, entah sampai kapan. Karena sesungguhnya, aku sudah lelah menunggu. Walau mungkin untukmu, terbersit dipikiranmu saja mungkin tak pernah aku. Jadi......kali ini, biarkan aku yang mengaku.

Sesungguhnya, agak lucu, mengingat kamu belum kunjung tahu bagaimana perasaanku. Sebenarnya..... ada apa denganmu? Apa kamu ragu? Atau sebatas sedang mengenang masa lalu? Bagaimana caranya kamu bisa maju kalau begitu? Jujur, aku tidak mengharapkanmu membalas sukaku. Untuk membuatmu sadar saja sudah bersyukur aku. Tapi kalau lihat timeline @Karizunique, aku mau menyalin satu tweet, "Semoga dengan aku sabar, bisa membuatmu sadar." Walau aku sudah amat yakin, aku....sudah....terlalu....lama....membatu....

Agak malu juga sebenarnya. Karena sebagai perempuan, tak seharusnya aku yang membuat mata dan hatimu terbuka. Agar sekedar sadar. Tapi aku cuma tak tahan, karena perasaan ini bagaikan aku sendiri yang merasa dan berharap. Walau aku tahu.....kamu sudah lama - atau mungkin tak pernah - memberi harap. Mungkin memang begini caramu bersikap. Tapi biarlah, sebisa mungkin aku ikuti alurmu. Walau sedikit berdoa, "Tuhan, tolong tuntun aku ke jalan tikung-Mu."

Sebagai penutup supaya hatiku dan rasaku segera redup, aku cuma mau bilang, kalau......





aku ada hati untuk kamu.

Salam hangat dan senyum sarat,
pencinta dirimu yang masih tertambat.

empatbelas.empatbelas. :)) petunjuk yang amat jelas.

No comments:

Post a Comment