Dan bagaimana apabila pada akhirnya saya memutuskan untuk menyerah? Pada jarak, waktu, pesona, goda, dan ruang yang tidak diizinkan semesta - bagi kita, pertapa romansa?
Karena dengan begitu banyak rasa dan rana, masih dan wajarlah bahwasanya saya berserah dan kembali bertelut; pada nirwana dan realita yang kadang sama.
Dan bagaimana apabila seperempat dekade hidup saya yang telah saya gunakan untuk melihat ke arah mana jarum jam berputar; terkadang saya inginkan tuk kembali dan mengulang tiap durasi itu lagi?
Dan bagaimana apabila dalam tiap ketukan sepatu dari kaki dan nadi yang gelisah, pada akhirnya menyerah pada batas rasa yang mulai kebal terhadap senyum dan laga bak pujangga?
Saya dan kamu;
mungkin kembali dipertemukan dan akhirnya dijadikan pasangan oleh Dia. Karena takdir menuliskan dan nasib menggariskan saya dan kamu untuk menjadi kita.
Saya dan kamu;
akhirnya menjadi kita, dalam dunia tanpa sempurna, yang mungkin jatuh cinta tanpa harus berkata, yang terpisah jarak dan ruang tanpa paham rasa.
Saya, belum bisa membuat kamu merona dan mungkin bahagia, saya tidak mengucap janji apa apa. Tapi saya, perempuan yang tidak mudah jatuh cinta, mampu kamu buat menanti. Gelisah dengan ribuan ketukan kaki, sembari mempertanyakan apakah dapat kamu kembali?
Dan dalam dua kali tiga ratus enam puluh lima hari, saya masih menanti.
Dalam rindu dan rasa pasti;
yang belum
dan tidak akan pudar.
Saya mencintaimu dalam pahit dan manismu, dan terima kasih telah membuat penantian saya berujung bahagia. Semoga kamupun demikian.
Milikmu,
Maria Clara Putri Deanty.
hm, koq jadi sedih bacanya yah. :( nice post kak'
ReplyDeletewww.enasnasrudin.com