Well, selamat siang.
Siang? Siang yang rasanya begitu sendu. Begitu tak kuasa menahan betapa syahdu hamparan riak angkasa yang semakin kelabu. Semakin diterjang dan diguyur air, yang secara konstan dan perlahan tapi pasti, meluluhlantakan tanah Jawa. Meluluhlantakan Indonesia. Saya kembali menulis. Bukan hanya sekedar untuk mengisi waktu luang. Tapi juga untuk menyatakan; betapa saya bosan dan jengah dengan awal tahun yang tidak begitu mulus ini.
Saya hanya merasa sepertinya... Saya kurang beruntung. Atau saya kurang bersyukur?
sesungguhnya itu adalah perbedaan yang amat signifikan dan sangat jauh. Karena banyak yang mengatakan, bahwa dikala insan mampu bersyukur kepada Yang Di Atas, atas apa yang dimiliki, maka hidup pasti lebih sedikit sedih. I feel like....
I feel like....
Society slowly kills me.
Saya selalu merasa buruk. Saya selalu merasa jelek. Saya selalu merasa saya gendut. Saya selalu merasa bahwa saya tidak sempurna. Saya merasa saya bodoh. Dan tidak pernah ada hal bagus yang saya rasakan dalam diri saya. Saya begitu hidup dalam nestapa. Saya hidup dalam bayang-bayang orang yang bisanya hanya menjatuhkan, bukan membantu untuk membangun saya menjadi lebih baik dan lebih bermakna. I've been torturing myself with such tight diets. I've been sickening myself with over study last semester. But still, the result wasn't that good. Saya malah menangis begitu saya melihat apa yang saya hasilkan dari kerja keras saya selama satu semester pertama di universitas. Begitu pula dengan hubungan saya dengan kekasih. Banyak dilema. Banyak problematika. Bisa dibilang, lama-lama ada kemungkinan rasa kami sirna. Tapi saya masih mencoba bertahan sekuat saya. Semampu saya. Karena saya mengutip quotes dari The Perks of Being a Wallflower "we accept the love we think we deserve." Saya mengira saya paham arti cinta. Tapi malah menanggung sakit dan menahan duka, hanya karena terlanjur nyaman dan takut kehilangan.
Saya telah berdoa. Sungguh berdoa. Kepada Tuhan yang saya percaya. Yang saya yakini pasti Ia kabulkan keinginan dan sejumput harapan saya. Saya telah berusaha. Tapi apa mungkin, usaha saya kurang keras? Apa mungkin saya yang kurang gigih? Saya juga hanya bisa gigit jari. Tapi saya tidak mau menangisi keadaan dan berdiam diri tanpa hasil apa-apa.
Saya mau usaha. Karena seperti John Lennon.
Saya cuma ingin bahagia.
No comments:
Post a Comment