Wednesday, 28 August 2013

Masih sama, masih soal rasa

Sekian lama mungkin saya tidak mengguratkan isi hati dan nurani saya di sini. Sekian lama juga saya tak jackpot curahan-curahan pribadi yang tak penting lagi. Karena kini toh sudah berubah. Dan perkara masih sama, masih soal rasa.
Beberapa waktu lamanya saya menumpahkan segalanya dengan sebatang pena dan buku harian. Yang mana mungkin ada baiknya di kala senggang saya pindahkan ke dunia maya, dunia yang tidak fana. Kala saya merasa semua manusia berubah, saya kumandangkan lagu Oasis yang berjudul Champagne Supernova.

"How many special people change? How many lives are living strange? Where were you while we were getting high? Slowly walking down the hall, faster than a cannon ball. Where were you while we were getting high?" 

Kenapa?
Entah saya merasa semua insan nuraninya kian tak sesuai. Entah saya merasa mungkin hati saya yang memuai. Atau realita yang oleh mimpi dibuai. "Why, why why why....?" 
Karena keterbatasan saya memahami, saya hanya berani mengilhami sendiri. Hingga rasanya sesak di hati dan perih di duniawi. Saya mulai berhalusinasi. Saya rasanya mulai ingin terbang ke dunia lain yang mungkin tiada insan pernah menapaki. Biar saya yang perawani. Biar saya yang menjajaki. Biar apa sih? Biar saya bisa bersih. Biar saya bisa kabur. Biar saya bisa berhenti ngelindur. Biar saya bisa berhenti sejenak dari penat. Biar saya rehat. Biar saya istirahat. Biar biar biar biar.....

Syahdan beberapa waktu yang lalu, ketika jantung saya dipacu waktu dan deru nafas kian memburu, ketika durasi menjajah nurani dan basah peluh kian membanjiri, saya berniat menulis puisi. Atau mungkin aksara dan kosakata basi? Bukan. Bukan puisi rupanya. Sejenis prosa. Atau apa ya? Kumpulan kata-kata? Bermakna? Biar saya dan Yang Esa yang jadikan ini semua rahasia.

"Diambang gamang dan gelisah. Betapa diguyur asam rindu yang kemudian menyengat kalbu. Jantung hatiku kemudian terpacu. Bak diburu waktu kulantangkan 'aku rindu kamu'. 
Durasi yang menghujam tiada henti mengelabui. Bahwa lama-lama rasa ini tiada mampu dimadui. Saya memutar-mutar bola mata sampai enggan berkedip lagi. Ingin memicu durasi. Enggan dilahap gundah gulana jiwani. 
Huh. Hah. Huh. Hah.
Hela nafas memburu. Mungkin kini ku tiada lagi paru-paru. Sebab tiap tarikan dan hembusan, dada ini kelu. Membiru. Kemudian temaram bak lampu malam. 
Statis.
Tiada menampik fakta realistis.
Hahahahahaha. Gelimpangan gelakan miris.
Hiks hiks hiks hiks. Lalu saya menangis. 
Riak angkasa mulai mengilar. Mengguyur daratan tempat berpijak.
Membuat ilham saya buyar.
Tapi entah, bayangmu justru semakin nampak."

Begitulah. Satu dari sekian banyak. Masih sama bukan? Masih soal rasa. Melankolis. Tukang nangis.

No comments:

Post a Comment