Jadi, saya kembali merangkai kata untuk mengungkapkan berkabungnya kalbu. Mengapa? Karena rupanya, seseorang yang pernah sangat spesial dalam hidup saya, yang belakangan saya panggil ia, sudah memiliki kekasih baru. Saya sudah lama menangis, saya sudah lama teriris. Jadi rupanya, ia menolak saya untuk rujuk karena ia sudah dekat dengan perempuan baru itu dan Jumat kemarin, mereka memutuskan untuk bersama. Sedih? Tentu. Nyesek? Sangat. Tapi satu hal, saya belajar bahwa saya harus lebih peka. Saya harus lebih bisa menerima kenyataan. Saya harus berusaha satu hal: merelakan.
Saya tidak pernah bilang hal itu menjadi hal mudah dan sepele untuk saya lalui. Kenapa? Karena saya sendiri tak berhenti menangisi kejadian ini. Saya tak berhenti menyalahkan keadaan, merutuki nasib, dan kehilangan percaya diri. Tapi saya sadari, saya harus mampu bangkit lagi. Jadi, saya mungkin memang tertekan untuk akhir-akhir ini. Mungkin sebentar lagi saya akan bangun dari kejatuhan. Saya akan kembali beraksi. Dan pamerkan.
Kemudian, untuk sekarang, saya hanya bisa berharap semoga mereka bahagia dengan apa yang mereka jalani. Semoga saya juga bisa bahagia dalam menikmati kesendirian ini. Toh, saya mau punya banyak kegiatan. Toh, saya enggan lagi mengucurkan air mata dari pelupuk yang semakin membengkak. Saya harus bangkit. Jangan pernah diungkit.
No comments:
Post a Comment