Saya baru saja kembali dari sebuah tempat dimana saya biasa mengasingkan diri. Ya, tak lain dan tak bukan adalah Pondok Indah Mall. Agak miris sebenarnya. Tapi, itu lebih baik daripada saya hanya berdiam diri di balik selimut ungu saya, menangisi keadaan yang ada, menangisi perasaan saya yang tak terbalas oleh orang yang sampai detik ini saya rindukan. Saya harapkan. Dan saya inginkan. Saya sesungguhnya sudah hampir menangis menulis ini, tapi saya putuskan untuk lupakan. Saya harus bisa seperti ia. Kalau ia saja bisa move on secepat itu, masa saya tidak bisa?
Kemudian saya menenangkan diri. Saya coba tersenyum. Saya kumpulkan lagi puing-puing hati saya yang berserakan, saya sapu, saya tampung jadikan satu dalam sebuah serokan. Saya plester lagi. Memang sudah tidak sempurna. Tapi setidaknya.
Saya punya cinta.
Kita.
Pernah kecap manis suka duka bersama
Kita.
Pernah satu rasa sama rata.
Kita.
Pernah janji tidak ada dusta.
Kita.
Pernah rasa bahagia, lagi-lagi bersama.
Dibalik tangisan sendu rembulan,
izinkan aku mengenang.
Segala kenangan,
terutama saat kita riang.
Saat aku dan kamu mengecap pahit manis cinta berdua.
Setidaknya, puisi yang payah ini
bisa sedikit obati
luka hati.
Ingat.
Sedikit.
Jujur. Saya belum bisa melaju ke depan. Yang kerap saya lakukan adalah mengintip lewat bahu; tentunya ke belakang. Saya belum siap menatap yang ada di depan - tanpa ia. Karena saya terbiasa, terbiasa diberi semangat. Terbiasa diberi cinta hangat. Dan yang saya rasa detik ini, adalah tahi yang pekat.
Kita.
Pernah kecap manis suka duka bersama
Kita.
Pernah satu rasa sama rata.
Kita.
Pernah janji tidak ada dusta.
Kita.
Pernah rasa bahagia, lagi-lagi bersama.
Dibalik tangisan sendu rembulan,
izinkan aku mengenang.
Segala kenangan,
terutama saat kita riang.
Saat aku dan kamu mengecap pahit manis cinta berdua.
Setidaknya, puisi yang payah ini
bisa sedikit obati
luka hati.
Ingat.
Sedikit.
Jujur. Saya belum bisa melaju ke depan. Yang kerap saya lakukan adalah mengintip lewat bahu; tentunya ke belakang. Saya belum siap menatap yang ada di depan - tanpa ia. Karena saya terbiasa, terbiasa diberi semangat. Terbiasa diberi cinta hangat. Dan yang saya rasa detik ini, adalah tahi yang pekat.
Dan pada akhirnya....











No comments:
Post a Comment