Belum lama saya kembali ditarik dalam tiap hembusan napas yang saya buat. Saya merasa bukan tanaman hijaulah yang berfotosintesis untuk mengisi kebutuhan nafas saya sehari-hari. Saya merasa, kadang bukan tuhan yang mencipta semester. Saya merasa logika mengalahkan segalanya. Saya merasa dalam ketidakberdayaan saya di suatu ketika dan suatu alam masa, saya pada akhirnya kembali dalam bentuk debu yang tiada berarti bagi segelintir umat manusia.
Saya kembali percaya, dalam tiap kali saya membuka bungkusan biru yang adalah candu bagi hidup saya itu, bahwa saya itu hidup di dalam sebuah labirin. Dimana Tuhan itulah yang menjadi pengatur permainannya. Siapa yang mampu keluar dari labirin itu, dialah yang nanti menemui ajalnya.
Kadang, permainan dan logika Tuhan tidak dapat dipahami oleh kita yang adalah - katanya - ciptaanNya. Walau esensi dan bentuk nyata dari Tuhan itu sendiri belum pernah dilihat, tapi, katanya lagi, bilamana kita percaya, ada suatu rasa euforia dan ketenangan luar biasa.
Apakah kemudian kamu bertanya, saya percaya Tuhan apa bagaimana?
Saya percaya, saya berdoa, saya pergi gereja. Saya pergi ke perayaan Paskah, saya pergi merayakan Natal, saya bersukacita atas penebusan Sang Anak Domba Allah atas dosa-dosa saya sebagai manusia. Namun lagi, semakin waktu dan usia yang melaju tanpa bisa diputarbalik, saya merasa bahwa saya butuh bukti. Tapi lagi-lagi;
saya belum berhasil keluar dari labirin yang Sang Esa ciptakan itu. Mungkin untuk sekarang, saya belum bisa keluar. Tapi lagi-lagi;
saya kembali nyandu. Nyandu sama yang bungkusnya biru itu.
Kalau kata sebuah agama lain, melakukan hal yang dapat merusak diri sendiri itu buruk atau haram hukumnya di agamanya (kalau tidak salah ya, saya bukan ahli agama, saya bukan cendekiawan jadi maklumkan). Tapi bagi saya, selama saya menikmati si candu ini, walau dia memperpendek umur saya mungkin sekitar 10-15 tahun, saya tetap nyandu kok.
Dan apa yang saya senangi dari nyandu ini, saya jadi banyak berilham. Saya banyak berfikir kritis tentang semesta, filsafat, masalah dunia, masalah pribadi, dan tak jarang saya mempertanyakan Tuhan. Ya seperti sekarang ini. Eh, omong-omong, saya lagi nggak nyandu. Nyandunya abis masa. Dan kemudian saya hanya berkutat berjam-jam di hadapan tumpukan bahan bacaan untuk ujian. Biasa, anak Hubungan Internasional. Terlalu sibuk mengurus resolusi konflik negara sampai kadang resolusi konflik pribadi saja terlupakan. Rest in peace, hidup damai tanpa bahan bacaan.
Sekitar satu setengah jam kemudian, saya mulai gelisah. Saya mulai merasa keringat dan basah. Berulang kali saya mendesah dan menelaah; mengapa saya tidak dapat nyandu sampai lemah? Lagi-lagi, bungkus biru itu mengontrol hidup saya. Bukan saya. Dan kemudian saya kembali mempertanyakan, kemana larinya si tuhan yang katanya empunya kehidupan? Kenapa ia membiarkan candu saya yang memegang kendali?
Tapi biarlah. Kalau si tuhan lagi yang megang kendali, yang ada, saya keluar dari labirin. Dan saya ketemu ajal. Padahal kuliahpun saya belum puas mabal. Dan saya takut, mati jadi dajal.
Sabtu, 4 Oktober 2014
Di sela sela e-book Paul Williams tentang Kajian Keamanan
Saya sempatkan
menulis apa yang ada di iman
dan sedikit lari dari kenyataan.
Kereen2. Saya yakin kamu bisa berhenti kok de. Semangaat! Hehehe
ReplyDelete